Upaya untuk efektif dan efisien sudah disepakati seperti "ulaon sadari", beberapa agenda rangkaian pernikahan jika itu dilaksanakan sesuai aslinya di Bonapasogit dahulu kala seperti manikkir tangga, mebat (malungun, Angkola) dan sebagainya sekarang sudah dijadikan dalam satu hari.
Termasuk, di pagi hari Marsibuha-buhai, dilaksanakan di gedung. Namun, mangalap boru, tetap keluarga laki tetap harus datang dirumah perempuan, walaupun jauh kecuali disepakati kedua pihak memilih tempat disatu tempat penginapan atau Wisma. Menerima parumaen, dilaksanakan simbolik di gedung oleh pihak paranak agar tetamu tidak lagi pergilagi kerumah sebab selesainya sudah larut apalagi jarak gedung ke rumah jauh. Inipun, proses yang lama untuk dapat disepakati bahkan alot.
Bagaimana dengan elemen lainnya apakah masih harus dipertahankan atau ada yang bisa di revitalisasi agar supaya tanpa kehilangan makna sempurnanya suatu adat tetapi bisa mengurangi agregat biaya pernikahan secara adat. Ini yang perlu kita pikirkan dimasa mendatang ini.
Saya dan FBBI mengharapkan komunitas adat di perantauan ini berkomitmen untuk melaksanakan adat supaya sebagai orang batak dapat mengikuti dengan memberi dan menerima adat. Saatnya memandang penting revitalisasi kegiatan yang berdampak mahalnya suatu pernikahan adat batak. Elemen apa saja, silahkan dibahas mungkin Anda punya pandangan?
Hal ini guna menghindari generasi muda dimasa mendatang tidak menghindari perkawinan secara adat hanya karena biaya yang tidak mencukupi, sekalipun disebut acaranya skala kecil atau sedang. Semoga. Sriwijaya, Jakarta-Surabaya, tanggal 15 Januari 2017, pkl. 14.30 WIB. (Ronsen LM Pasaribu, Ketua Umum Forum Bangso Batak Indonesia berkedudukan di Jakarta)
Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified