Menjelang Akhir Juni 2026, Pasar Saham Selektif: Saham Komoditas dan Defensif Dinilai Menarik

Administrator Administrator
Menjelang Akhir Juni 2026, Pasar Saham Selektif: Saham Komoditas dan Defensif Dinilai Menarik
Ist | Pelita Batak

Jakarta (Pelita Batak):

Menjelang akhir Juni 2026, pelaku pasar masih dihadapkan pada ketidakpastian tinggi. Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), keluarnya dana asing, hingga penantian keputusan MSCI terkait status pasar modal Indonesia menjadi sentimen utama. Namun, sejumlah analis melihat peluang penguatan terbatas dan mulai munculnya aksi akumulasi pada saham-saham tertentu.

IHSG yang sempat tertekan sepanjang semester pertama mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pada perdagangan 19 Juni, indeks ditutup menguat ke level 6.177,14 setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan tajam.

Saham Komoditas dan Emas Menarik Perhatian

Menurut laporan Samuel Sekuritas, arus dana asing mulai masuk secara selektif ke saham-saham berbasis komoditas seperti ADRO, MDKA, BUMI dan AMMN. Kondisi geopolitik global serta fluktuasi harga energi membuat sektor pertambangan dan logam mulia kembali diminati investor.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai IHSG berpotensi mengalami penguatan terbatas setelah membentuk pola pemulihan teknikal. Menurutnya, pergerakan pasar masih akan sangat dipengaruhi sentimen global dan keputusan investor asing.

Keputusan MSCI Menjadi Penentu

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia. Reuters melaporkan bahwa mayoritas investor memperkirakan Indonesia masih akan mempertahankan status sebagai pasar berkembang (emerging market), meski berbagai persoalan transparansi dan tata kelola masih menjadi perhatian. Goldman Sachs memperingatkan, jika Indonesia diturunkan menjadi frontier market, potensi arus keluar dana dapat mencapai US$13 miliar.

Direktur investasi SGMC Capital menilai hasil evaluasi MSCI sejauh ini masih cukup berimbang dan Indonesia masih memiliki daya tarik dibanding beberapa negara berkembang lainnya.

Saham yang Dinilai Menjanjikan

Pelaku pasar cenderung melirik:

- Sektor energi dan batu bara seiring ketidakpastian geopolitik.

- Emiten emas dan logam sebagai aset lindung nilai.

- Saham perbankan besar yang mulai berada di level valuasi menarik setelah koreksi panjang.

- Telekomunikasi dan consumer goods sebagai sektor defensif menghadapi perlambatan ekonomi.

- Sektor kesehatan dan infrastruktur digital, yang diperkirakan masih memiliki pertumbuhan jangka panjang.

Arah Ekonomi Semester Kedua

Secara umum, pelaku pasar memandang semester kedua 2026 masih akan diwarnai volatilitas. Faktor yang menjadi perhatian meliputi:

1. Keputusan MSCI dan lembaga pemeringkat internasional.

2. Stabilitas rupiah dan arus modal asing.

3. Kebijakan suku bunga Bank Indonesia.

4. Harga minyak dan komoditas global.

5. Realisasi belanja pemerintah dan proyek hilirisasi.

Meski demikian, sebagian analis melihat koreksi besar yang terjadi sepanjang semester pertama telah membuat banyak saham berkualitas berada pada valuasi yang lebih murah. Kondisi tersebut membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap, dengan tetap memperhatikan manajemen risiko dan perkembangan sentimen global. (*)

Komentar
Berita Terkini