Jakarta (Pelita Batak):
Sejumlah perusahaan multinasional dalam beberapa tahun terakhir telah mengurangi operasi, menutup pabrik, atau mengakhiri investasi di Indonesia. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) serta berkurangnya lapangan pekerjaan, terutama di sektor padat karya.
Berikut beberapa perusahaan dan investasi yang telah atau berpotensi mengakhiri operasinya di Indonesia:
1. Sritex dan Dampak ke Industri Tekstil
Meski bukan perusahaan asing, krisis yang menimpa PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) berdampak pada rantai pasok tekstil dan sejumlah mitra internasional. Persaingan dengan produk impor murah dan pelemahan permintaan global menjadi salah satu faktor tekanan industri.
2. Yamaha Music Product Asia
PT Yamaha Music Product Asia di kawasan MM2100, Cikarang, mengumumkan penghentian operasional secara bertahap yang berdampak pada ribuan pekerja. Produksi sebagian dialihkan ke negara lain untuk efisiensi bisnis.
3. Sanken Electric Indonesia
Perusahaan elektronik asal Jepang ini memutuskan menghentikan produksi beberapa lini dan menutup fasilitas manufakturnya di Cikarang. Perubahan strategi bisnis global menjadi alasan utama keputusan tersebut.
4. Panasonic Holdings
Panasonic melakukan restrukturisasi bisnis secara global. Meski sebagian operasinya masih berjalan di Indonesia, sejumlah lini produksi telah mengalami pengurangan kapasitas dan efisiensi tenaga kerja seiring pergeseran fokus bisnis perusahaan.
5. Sepatu Bata
PT Sepatu Bata Tbk menutup pabriknya di Purwakarta setelah menghadapi perubahan pola konsumsi dan tekanan pasar. Penutupan ini berdampak pada ratusan pekerja. Meskipun merek Bata tetap hadir di Indonesia, aktivitas manufakturnya mengalami perubahan.
6. Investasi LG Energy Solution
Konsorsium LG Energy Solution asal Korea Selatan sebelumnya mengkaji ulang sebagian proyek rantai pasok baterai kendaraan listrik di Indonesia. Namun pemerintah Indonesia menegaskan proyek ekosistem baterai tetap berlanjut dengan penyesuaian mitra dan skema investasi.
7. Foxconn dan Industri Elektronik
Sejumlah proyek manufaktur elektronik yang sempat direncanakan mengalami penyesuaian dan belum terealisasi sesuai target awal, seiring perubahan kondisi ekonomi global dan strategi investasi perusahaan.
Tidak Semua Investasi Asing Keluar
Di tengah kekhawatiran tersebut, pemerintah menegaskan Indonesia masih menjadi tujuan investasi yang menarik. Sejumlah perusahaan seperti BYD, CATL, Hyundai Motor Group, VinFast, serta berbagai perusahaan pusat data dan industri hilirisasi mineral justru terus meningkatkan investasinya.
Kementerian Investasi/BKPM menyatakan dinamika keluar-masuk investasi merupakan hal yang biasa dalam dunia usaha. Tantangan utama saat ini adalah menjaga daya saing industri nasional, memperbaiki iklim usaha, mempercepat perizinan, serta memastikan biaya logistik dan energi tetap kompetitif.
Ancaman Terbesar Ada di Industri Padat Karya
Ekonom menilai sektor tekstil, alas kaki, elektronik, dan furnitur menjadi sektor yang paling rentan terhadap relokasi industri ke negara dengan biaya produksi lebih rendah. Jika tidak diantisipasi, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi penyerapan tenaga kerja dalam beberapa tahun ke depan.
Namun demikian, sebagian besar perusahaan yang melakukan restrukturisasi belum sepenuhnya meninggalkan Indonesia. Banyak di antaranya hanya mengurangi kapasitas produksi atau mengubah model bisnis, sehingga tidak semua kasus dapat diartikan sebagai hengkang total dari Indonesia.(*)