Menurut beliau, bicara batik ada dua hal yang harus bedakan, pertama apakah batik untuk kreasi budaya atau kedua fashion. Tertarik dengan Fashion, sebab budaya pakaian dengan motif batak hemat saya masih rendah. Ini suatu tantangan bagi pemerhati batik batak, terlebih adanya BODT yang sudah dilaunching oleh presiden Jokowi. Kedepan, akan terbentuk pangsa pasar yang terbuka lebar, touris dalam dan luar negeri yang “unlimited”, demikian juga orang batak sendiri yang sudah mencapai 5 (lima) juta orang lebih. Bisa dibayangkn, jika kita mampu menciptakan fashion batak berbasis motif budaya batak. Apalagi kelak, oleh para Bupati/Walikota menerbitkan aturan wajib memakai batik lokal menjadi pakaian resmi di setiap acara. Luar biasa.
Dijelaskan, banyak ide yang bisa diangkat menjadi lukisan diatas kain putih. Contoh, ambil karya orang batak yang khas seperti Rumah Adat. Detailnya bisa di ambil dan di perbesar lalu dilkiskan berulang-ulang. Kemudian digabung dengan alam serta alat yang sering dipakai oleh petani kita di sawah. Boleh digabung menjadi satu, tanpa harus mengambil semua motif rumah, motif alat pertanian dan atau alam Danau Toba misalnya.
Sebagai kreasi yang baru, pasti akan menjadi sesuatu motif batak yang akan diminaati oleh pengguna. Melihat batik dengan warna merah, hitam dan putih akan diketahui batik ini dari Batak. Ide ini menjadi menarik, ketika Forum Bangso Batak Indonesia, mempunyai program kerja dibidang pengembangan kebudayaan orang batak sekaligus menciptakan lapangan yang baru guna kemandirian dan kesejahtraan di kampung halaman.
Program pelatihan membatik akan menarik bagi pegiat seni bataik batak maupun pendatang baru, dengan mencakup budaya Puak Batak Batak Angkola, Mandailing, Toba, Simalungun, Karo dan Pakpak. Sedangkan dananya akan dijajaki menggunakan skema CSR (Coorporate Social Responsiblity) perusahaan besar yang peduli akan keberlangsungan pengusaha kecil menengah (UKM).(Ronsen LM Pasaribu/Ketua Umum FBBI)
Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified