"Politics divides us, but humanity unites us" (Fidel Castro)

Administrator Administrator
"Politics divides us, but humanity unites us" (Fidel Castro)
tokohindonesia.com
Weinata Sairin

Dalam beberapa waktu terakhir ini apalagi menjelang pemilihan kepala daerah, kosa kata 'politik' amat populer dan menjadi topik utama perbincangan masyarakat. Di kantor, terminal, bandar udara, ruang seminar bahkan di pasar dan berbagai tempat umum istilah politik dengan berbagai turunannya menjadi bahan percakapan. Tentu saja hal itu terjadi lebih sering di ruang-ruang parlemen dan di kantor-kantor pemerintah.

 

Menurut para ahli istilah 'politik' bermula dari kata Yunan  polis yang berarti kota, atau negara kota. Dari kata polis  ini kemudian berkembang menjadi  polites yaitu warga negara dan juga kata  politea yang berarti semua yang berhubungan dengan negara. Konon pada zaman dulu kata politik lebih diberi makna "bagaimana mengelola kota" sehingga dalam pemaknaan seperti itu kegaduhan atau ketegangan sebagaimana yang acap dialami dinegeri ini tidak terjadi.

 

Dalam kehidupan masyarakat kita, tafsir dan persepsi tentang 'politik' memang cukup beragam.

Dilingkup komunitas tertentu, politik masih dianggap tabu untuk membicarakannya atau juga menganggap politik sebagai sesuatu yang tak perlu dijadikan bahan percakapan, bahkan diabaikan karena tidak dianggap penting bagi kehidupan.

 

Pada level tertentu politik, dalam arti politik praktis, telah menjadi wahana bagi seluruh warga bangsa untuk menyalurkan aspirasi politiknya demi terwujudnya sebuah kehidupan yang lebih maju, modern, adil, damai, sejahtera dan berkeadaban.

 

Dalam konteks Indonesia  yang majemuk yang mesti dijaga adalah jangan sampai keberbedaan aspirasi politik menceraiberaikan keutuhsatuan bangsa kita.

 

Kita mesti mendorong para politisi kita agar mereka dapat berpolitik secara santun, elegan, profesional  yang tetap berpegang teguh pada nilai agama-agama yang mereka anut. Kegaduhan politik, polemik dan bahkan kampanye politik bertendens pembunuhan karakter acap terjadi menjelang pemilihan kepala daerah.

 

Kita semua para warga bangsa semestinya kembali memahami politik sebagai sebuah  'seni' sehingga implementasinya dalam masyarakat lebih "cool". Pepatah yang dikutip diawal bagian ini hendak mengingatkaan kita bahwa dimensi kemanusiaan mesti lebih diberi ruang tatkala kita mengalami kebuntuan dalam bidang politik.

 

Mari kita membangun NKRI dengan mengembangkan politik yang santun dan elegan sambil tetap menghargai identitas kita masing-masing. Selamat merajut karya terbaik di tengah sejarah. God bless.(Weinata Sairin, mantan Wasekum PGI)

Komentar
Berita Terkini