Seruan Paskah GMKI Tahun 2017:"Berdamailah dengan Semua Ciptaan"

Administrator Administrator
Seruan Paskah GMKI Tahun 2017:"Berdamailah dengan Semua Ciptaan"
gmki.or.id
Timeline kegiatan GMKI
Jakarta(Pelita Batak): Perayaan Paskah merupakan puncak dimana Yesus Kristus bangkit setelah mengalahkan maut. Kebangkitan Yesus Kristus merupakan lambang pembebasan atas belenggu dosa manusia, Kristus  telah memerdekakan manusia. 

 

"Kiranya dalam semangat Paskah tahun ini, kita dapat terus menyuarakan perdamaian. Perdamaian yang sudah dilakukan oleh Yesus adalah perdamaian yang holistik. Segala bentuk ketidakadilan yang dilakukan oleh manusia yang menyakiti ciptaan lainnya bisa merusak karya perdamaian yang dilakukan oleh Yesus,"kata Ketua Umum PP GMKI Sahat Sinurat, sebagaimana dikutip dari website GMKI, Sabtu 25 Maret 2017.

 

Lebih lanjut dikatakan, kiranya melalui peringatan kematian Yesus Kristus dan perayaan kebangkitanNya, kita dapat memaknai dan menyikapi berbagai praktek ketidakadilan yang terjadi di bumi Indonesia. Manusia dan alam adalah ciptaan, dimana hendaknya manusia bertautan dengan alam dengan berpartisipasi dalam komunitas ciptaan dan mengedepankan interdependensi. Akan tetapi keserakahan manusia dalam menguasai alam menimbulkan perilaku kesewenang-wenangan akibat manusia merasa sebagai pusat alam semesta (antroposentris).

 

"Manusia hendaklah melihat kembali hakekatnya sebagai ciptaan. Allah membentuk manusia dari debu tanah, manusia dalam bahasa ibrani disebut "adam". Sebutan tersebut memiliki akar kata yang sama untuk kata tanah, "adamah" yang berarti warna merah kecoklatan yang mengungkapkan warna kulit manusia dan tanah. Dalam bahasa latin, manusia disebut "homo" yang memiliki kaitan dengan "humus" yaitu tanah", tutur Sahat.

 

Yesaya 11:9 merupakan "Anamnesis" Yesaya terhadap Kristus. Anamnesis adalah proses rekoleksi atas memori dengan tujuan untuk membuatnya berguna bagi kehidupan yang di depan mata. Merubah memori menjadi memori yang hidup (living memory). Anamnesis Yesaya memaknai dan menyikapi berbagai praktek ketidakadilan yang terjadi pada masanya dengan melihat kembali kehidupan sebelum kejatuhan dalam dosa dan lalu kembali dengan menceritakan nubuat tentang kehidupan yang harmonis antar ciptaan di masa yang akan datang.

 

Yesus menggambarkan dirinya sebagai air hidup (Yoh 4:1-42). Cara mendapatkannya adalah dengan meminumnya. Kata minum dalam bahasa Yunani "pineto" dalam bentuk imperatif masa kini yang berarti tindakan yang berkesinambungan dan terus menerus dilakukan. Air hidup memberikan kepuasan akan dahaga rohani. Yesus menggunakan elemen air sebagai tanda karena kebutuhan manusia akan air. Manusia dan alam saling bergantung. Kedaulatan Allah atas  Ciptaan-Nya ditunjukkan dengan perintah untuk mengelola alam dengan bertanggungjawab. Manusia harus memanfaatkan dan mengelola Alam sebagai bagian dari ibadah dan pengabdiannya kepada Allah.

 

Keserakahan dan kesewenang-wenangan dalam menguasai Alam memicu semakin maraknya ketidakadilan agraria dan maritim di Indonesia. Perebutan kekuasaan atas sumberdaya alam menciptakan konflik, dan seringkali rakyat menjadi korban karena ketidakberdayaan mereka dalam melawan. Negara seringkali mengabaikan kondisi sosial budaya dan kearifan lokal masyarakat dalam, mengelola tanah dalam perencanaan pengelolaan dan pemanfaatan tanah. 

 

Padahal Pasal 4 ayat 4 UUPA menegaskan bahwa hak menguasai dari Negara dapat dikuasakan kepada daerah-daerah Swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat. Negara mengakui adanya masyarakat adat namun tanah-tanah adat mereka tidak diakui keberadaannya.  Masyarakat Adat menjadi asing di tanahnya sendiri. Mereka tergusur dari tanah mereka karena klaim-klaim Negara dan Korporasi sekali lagi dengan alasan ekonomi dan kesejahtraan rakyat.

 

Konflik antara negara, korporasi dan rakyat pun terjadi. GMKI tetap berdiri diatas keberpihakan kepada yang tertindas dengan mondorong reformasi dan peradilan agraria guna penyelesaian konflik-konflik agraria. Begitu juga dengan kedaulatan maritim yang belum berjalan maksimal. Potensi maritim Indonesia terancam limbah dan pengerusakan. Nelayan-nelayan tradisional seringkali tidak mampu bersaing dengan korporasi dalam mengakses fishing ground karena keterbatasan modal dan alat. GMKI terus mendorong agar rakyat Indonesia tidak menjadi tamu dan penumpang di atas tanah dan airnya.

 

Sahat Sinurat mengatakan, PP GMKI menyuarakan Paskah 2017 dan kiranya seluruh cabang di Tanah Air serta segenap civitas Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia dapat turut mengambil bagian dalam Gerakan Paskah Nasional dengan tema "Kedaulatan Maritim dan Agraria". 

 

PP GMKI menghimbau seluruh cabang di Tanah Air agar serentak bergerak menyongsong Paskah 2017 melaui kegiatan-kegiatan dan aksi sosial selama 3 minggu menjelang Paskah. Aktivitas atau kegiatan sosial tersebut dapat berupa aksi bakti sosial, kampanye kedaulatan maritim dan agraria, diskusi tentang lingkungan hidup, hutan, laut dan masyarakat adat di seluruh cabang GMKI tanah air.(R2)

Komentar
Berita Terkini