Berlin Situngkir turut menambahkan bahwa di kawasan Silalahi Nabolak, di mana beberapa bulan lalu GCDT II 2016 diselenggarakan di sana, ada tempat-tempat wisata alam unggulan seperti Aek Sipaulak Hosa, Aek Nauli Basa, Aek Pancuran na Pitu, Tongkonan Daeng Namora, dan tempat-tempat permandian. Meskipun air terjun Sipisopiso dan Tugu Makam Raja Silahisabungan (Tumaras) sudah dikenal sebagai ODTW, tetapi tempat-tempat lain seperti yang disebutkan tadi kurang dikenal sebagai ODTW. Ini pun perlu kita inventarisasikan dan daftarkan.
Terkait inventarisasi ODTW tersebut, Poltak Horas Marbun bertanya,"Apa sebenarnya tujuan inventarisasi ini? Apakah ini nanti kita sampaikan kepada pemerintah atau ke pelaku pariwisata sebagai usulan atau kita akan melakukan aktivitas pariwisata? Mau dibawa ke mana tujuan diskusi kita ini?"
Menjawab pertanyaan Poltak Horas Marbun, Andaru mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman kita melaksanakan Diskusi Kamisan seperti ini, biasanya setelah Diskusi Kamisan masing-masing diskusi punya jalannya sendiri. Jadi yang terpenting fokus tujuan kita adalah KDT menjadi berkat bagi semua orang dan lingkungannya lestari.
Diskusi Kamisan di awal tahun 2017 ini memang unik karena cukup sering datang orang-orang baru mengikuti diakusi ini. Pada Diskusi Kamisan ini, ada pendatang baru, seperti Togu Silitonga dan Ika H. Putera Silalahi.
Togu Silitonga yang sudah lama tinggal di Jerman dan kebetulan pada saat ini berada di Jakarta selama beberapa bulan, juga berpendapat bahwa untuk mengembangkan pariwisata di KDT, titik masuknya adalah pendidikan. Kedatangannya ke Indonesia untuk misi perbaikan pendidikan di KDT.
KDT memang sudah ditetapkan pemerintah sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata utama di Indonesia dan Badan Otorita Pengelolaan Kawasan Pariwisata Danau Toba (BOPKPDT) sudah dibentuk. Karena itu, menurut Maruap Siahaan (Ketua Umum YPDT), "Event pariwisata di KDT harus mampu mengangkat kearifan lokal masyarakat, bukan mengangkat investor. BOPKPDT awalnya didorong untuk memperhatikan kepentingan masyarakat, tetapi yang terjadi sekarang malah terlalu banyak kepentingan untuk suatu proyek yang tidak berpihak pada kepentingan masyakarat lokal di KDT. Oleh karena itulah, kita akan gali kembali apa sebenarnya DNA kita, makanya ada kajian Habatakon."
"Kita melihat bahwa di setiap kabupaten di KDT saat ini sedang menginventarisasi ODTW. Karena itu, kita perlu menyinergikan agar pariwisata di KDT tidak jalan sendiri-sendiri," ungkap Carlos Melgares Varon.
Salah satu sinergisitas yang kita lihat adalah restorasi rumah Batak di Jangga Dolok yang terbakar setahun lalu. Sinergitas ini adalah partisipasi dan kerjasama yang apik antara YPDT (penggagas), Yayasan Lisa Tirto Utomo (penyandang dana), Keluarga Besar Manurung pemilik Rumah Batak yang terbakar di Jangga Dolok (Samosir), masyarakat lokal, dan para arsitektur dan mahasiswa dari beberapa universitas (Perguruan Tinggi). Dalam sinergisitas ini, sosok Joyce Sitompul br. Manik berperan menjadi koordinator dan mediator.
Setelah rampung satu rumah Batak direstorasi, menurut Joyce, Ibu Lisa Tirto Utomo akan mendukung lagi restorasi Rumah Sopo untuk tenun dan kegiatan seni.
Mengakhiri catatan Diskusi Kamisan ini, kita menggarisbawahi perkataan Pdt. Marihot Siahaan: "Seribu Danau Sejuta Panorama." Artinya di Kawasan Danau Toba ada setidaknya seribu titik ODTW dengan sejuta panorama.(R2/danautoba.org)
Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified