Dies Natalis Ke-64 GMKI Cabang Medan, Yudi Latif : Saya Heran Kenapa Danau Toba Dibiarkan Begitu Saja

Administrator Administrator
Dies Natalis Ke-64 GMKI Cabang Medan, Yudi Latif : Saya Heran Kenapa Danau Toba Dibiarkan Begitu Saja
Ist|PelitaBatak

Medan (Pelita Batak) :
Tahun 2015 BPS melakukan survey nilai kebangsaan tetapi tidak dirilis. Setiap 24 dari 100 penduduk Indonesia tidak lagi hafal Pancasila. 53% penduduk Indonesia tidak bisa lagi hafal lagu Indonesia Raya.

“Saya sedang berdiri dihadapan generasi pemuda. Tan Malaka berkata benteng terakhir dari idealism adalah kaum muda. Memimpin itu harus mempunyai kemampuan membaca masa depan. Kita harus tahu kemana arah masa depan bangsa ini. Ini bukan hal yang mudah,” kata Yudi Latif,Ph.D saat menjadi key note speaker dalam seminar nasional dengan tema “Menakar Masa Depan NKRI” dalam rangka memperingati Dies Nataalis GMKI Cabang Medan ke 64 tahun di Aula STMIK Pelita Nusantara, Jl. Iskandar Muda Medan, Sabtu (25/3/2017).

Dijelaskannya, cara termudah mempersiapkan masa depan adalah dengan menengok masa lalu. Mengetahui sejarah, menjadi kekuatan dalam menghadapi masa depan.

Generasi muda saat ini, harus merespon tantangan zaman, jika tidak maka akan terjadi The Lost Generation. Dicontohkannya, pada tahun 1924, ada 600 mahasiswa Indonesia belajar di Belanda, tetapi mereka yang giat, hanya sekitar 24 orang. Dengan jumlah yang tidak banyak mereka menjadi generasi kebangkitan nasional. “Tetapi saat ini kita reformasi telah melahirkan surflus kebebasan. Kita bebas dari apapun. Mungkin Indonesia adalah negara dengan tingkat kebebasan yang negatif dari seluruh dunia. Kebebasan kita pakai untuk merobek simpul-simpul kebangsaan,” ujarnya dalam seminar yang dimoderatori Risky Parhusip.

Untuk kekayaan alam, menurutnya bangsa ini tidak kurang sesuatu apapun. Bahkan, memiliki Danau Toba yang luar biasa. “Saya heran, kenapa Danau Toba dibiarkan seperti itu. Kalau kita bisa menjual Toba, itu bisa menjadi destinasi turis terdahsyat di dunia,” ujarnya.

Kemudian, Indonesia adalah taman sari dunia. Dibuktikan dengan keberagaman suku dan ras. Seperti orang Melanesia tidak hanya di Papua tetapi juga di Maluku. Tidak semua ras Papua ada di wilayah Timur tetapi juga ada di barat. Di Indonesia  sangat lengkap mozaik warna kulitnya. Benua yang paling banyak penduduknya adalah Indonesia. Di China sekarang surplus laki-laki. Di Rusia, surplus perempuan. Indonesia sangat tinggi diversitynya.

Kini Indonesia tidak akan pernah tidur nyenyak karena begitu banyak tantangan. Tetapi Indonesia bisa menjadi pusat peradaban manusia karena sangat kaya.

Satu-satunya konstitusi dunia yang mencerminkan keragaman adalah di Indonesia. Dari segi etnis ada begitu banyak orang yang berperan di BPUPKI. Dalam struktur BPUPKI, seluruh representasi keragaman sudah diselesaikan dengan baik. Menjadi kepala negara, tidak harus orang Jawa. Kita juga melihat Amir Syarifuddin menjadi Perdana Menteri. Hubungan Soekarno dan Johanes Leimena adalah showcase bahwa Indonesia sudah menuntaskan seluruh perbedaan itu.

Kita harus membangun negara dimana semua orang merasa bahagia didalamnya. Semua agama bahagia, semua ras ingin bahagia , tani dan nelayan harus bahagia. Untuk itu, kita merumuskan satu dasar dimana semua orang menjadi bagian dari keindonesiaan itu.
Di sesi selanjutnya dimoderatori Sondang Simamora,M.Si hadir narasumber Dr. Barita Simanjuntak, SH, MH., (aspek hukum), Drs. Maraimbang Daulay (aspek ekonomi) dan Hokky Situngkir (aspek kebhinnekaan).

Ratusan peserta seminar sangat antusias mengikusi seminar dengan interaksi saat sesi tanya jawab. Hadir Ketua Panitia Eka Kartika Sari Hutagalung, Valentino Panjaitan (Ketua BPC GMKI Medan), Swangro Lumban Batu (Korwil I PP GMKI), Sahat MP Sinurat, ST, MT (Ketua Umum PP GMKI),  dr. Sarmedi Purba, SPOG, Gabarel Sinaga, Sondang Simamora, Jahartap Pasaribu, Sihar Cibro, Jadi Pane (Senior GMKI), hadir juga perwakilan organisasi Mahasiswa Kelompok Cipayung. (TAp)
 

Komentar
Berita Terkini