Kelima, apabila Kepala Dinas Pariwisata Pemprovsu kurang paham perkembangan pariwisata, silahkan berkunjung ke Bali, Lombok, Raja Ampat, Labuan Bajo, Wakatobi, Bunaken, Bangka Belitung. Silahkan ditanya para wisatawan, mereka mengunjungi lokasi itu karena ada zonasi halal non halal?
Keenam, pejabat pemprovsu yang berpikir diskriminatif tentu mewakili pemikiran Gubernur, oleh karena itu Gubernur Sumatera Utara mengevaluasi anak buahnya yang berpikiran diskriminatif. Pejabat harus hati- hati mengeluarkan pernyataan yang justru dapat membuat perpecahan. Tanpa zonasi halal non halal pun tidak ada masalah semua etnis, agama untuk makan di kawasan Danau Toba. Semua sudah tersedia jauh sebelum pemerintah hadir. Pemikiran zonasi halal non halal adalah kemunduran berpikir atau ada agenda tersembunyi di balik pernyataan tersebut.
Terakhir, Sumatera Utara adalah miniatur Indonesia, oleh karena itu berhentilah berpikir diskriminatif dengan hal- hal yang tidak berhubungan dengan kemajuan. Danau toba sudah lama plural dalam berbagai hal, maka tidak perlu membuat perbedaan menjadi alat pemisah. Berhentilah berpikir dan berbicara halal dan non halal.
Dia berharap Gubernur Sumatera Utara lebih fokus untuk pembangunan sosial masyarakat budaya dan pariwisata juga infrastruktur pendukung.(R2/ril)
Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified