Bobby Berantas “Ingot-ingot”

Oleh: Bachtiar Sitanggang
Administrator Administrator
Bobby Berantas “Ingot-ingot”
Ist|pelitabatak
Bobby Afif Nasution

MEMBACA kegiatan Walikota Medan, Sumut, Muhammad Bobby Afif Nasution dapat  menambah immun (ketahanan) tubuh menghadapi pandemi Covid-19 ini, selain seolah “menantang maut” juga “menemukan mutiara yang hilang”, bertindak tegas menegakkan peraturan perundang-undangan.

Berita terakhir dia menyegel mall megah Center Poin di Jln Jawa, Medan (Jumat (9/7), Bobby didamping pejabat terkait dan TNI-Polri serta Satpol PP ditonton banyak warga. Mall disegel karena mall menunggak Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Rp. 56 miliar saat buka dan pengunjung masih ada.

Penyegelan telah melalui proses panjang dengan  PT ACK sebagai manajemen dan pengelola mall, bahkan sudah ada MOU dengan Walikota pendahulunya.

Jumlah tunggakan Rp. 56 miliar yang  awalnya Rp. 80 miliar. Sebelum penyegelan, Pemkot telah bertemuan dengan PT ACK , dihadiri aparat penegak hukum, PT ACK harus membayar tanggal 7 Juli, karena tidak dilakukan sesuai aturan harus  disegel. Tegas sesuai aturan bukan karena mentang-mentang menantu Presiden.

Warga Medan boleh banggalah dan masyarakat umum akan tambah immun menyaksikan pejabat bertindak tegas menelisik mulai dari hal-hal kecil, yang rutin seperti bau busuk tumpukan sampah saluran air yang mampet dan lain-lain.

Anehnya, mall yang disegel itu beroperasi tahun 2010 dan hanya sekali membayar PBB tahun 2017, paling aneh, belum memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB), bagaimana bisa? Kok mall sebesar itu di tengah kota tidak ada IMB-nya. Bobby perlu telusuri kronolgis pembangunannya.

Pemeritah yang abai dan lemah atau ada permainan?

Masyarakat menunggu hasil  selanjutnya. Apakah hanya mall satu ini saja atau ada yang lain tidak memiliki IMB dan tidak membayar PBB? Atau ada IMB tetapi tidak sesuai dengan IMB yang diterbitkan?

Tindakan Bobby sebelumnya telah memecat Lurah Sidorame Timur dan dua orang bawahannya, karena ditemukan, warga yang mengurus surat-surat harus membayar “ingot-ingot” (uang rokok kepada petugas kelurahan. Menurut rekaman yang dimiliki Bobby, Kepala Lingkungan mengingatkan yang mau urus surat-surat ke kelurahan jangan lupa “ingot-ingot”.

Kalau dalam tulisan beberapa hari lalu, Bupati Samosir Vandiko Gultom “mencuci piring kotor”, Bobby sekaligus “menyambung yang putus” dan “menemukan yang hilang”. Kalau sebelumnya warga “putus harapan” terhadap pemerintah, sekarang tersambung lagi; kalau selama ini pejabat “memenderitakan” warganya, sekarang diupayakan mensejahterakan.

Kalau dulu warga “kehilangan” kepercayaan “ditemukan” lagi. 

Bobby kelihatannya menggunakan nuraninya dan ingat sumpah jabatannya, terbebas dari balas budi dan pesan sponsor serta bukan petugas partai, bertindak sebagai penanggungjawab peningkatan kesejahteraan warga kota. Tidak seperti kepala daerah lain, sibuk membalas budi kepada partai dan rival yang sedikit banyak akan terbelenggu melakukan pembenahan  dan penertiban.

Mudah-mudahan Bobby tidak diintervensi, yang akan terlihat dalam penyelesaian penyegelan mall tersebut. Yang jelas Bobby tidak mencari popularitas dan karakternya tidak akan membiarkan pelanggaran dan penyelewengan yang ada di depan matanya sebagai Walikota.

Ke“berani”annya berbeda pendapat dengan Gubernur yang Jenderal bintang tiga dan mantan pejabat bergengsi Pangkostrad, membuat Bobby seolah kontroversial. Tetapi Edy Rahmayadi sebagai Panglima Lapangan tentu senang dengan bawahan yang taat azas dengan penuh etika dan moral. Karena dia mengatakan yang benar itu benar, bagi sang Jenderal juga mungkin memakluminya. 

Hampir setiap minggu ada gebrakan Bobby  yang substansial untuk kepentingan pemkot dan warganya. Tidak segan pemecatan Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan. Karena dinilai lambat dan kerjanya amburadul menghadapi Covid-19. 

Tidak hanya itu, menantu Presiden ini juga memecat Camat  Medan Maimun karena pungutan liar. Bobby belum mau memberikan keterangan, karena Camat masih dalam proses pemeriksaan pihak Inspektorat. 

Bobby ternyata berhadapan juga dengan pihak yang tidak senang dengan pencopotan-pencopotan itu, sebab Kepala Dinas Kesehatan kota Medan adalah besan salah seorang Anggota Komisi III DPR RI; dan Camat Medan Maimun adalah anak Duta besar dan berkuasa penuh RI untuk Maroko dan Mauritanya.  

Selain bangga, barangkali warga Kota Medan harus mensyukuri walikota yang telah  “menemukan mutiara” yang hilang itu. Maju terus.***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta dan anggota Naringgas Manjaha.

Komentar
Berita Terkini