Istanbul (Pelita Batak):
Petinju kelas berat Inggris, Derek Chisora, menyoroti pentingnya membuka kesempatan yang lebih luas bagi atlet tinju dari Afrika dan negara-negara yang memiliki keterbatasan fasilitas. Ia menilai International Boxing Association (IBA) menawarkan peluang yang tidak selalu tersedia melalui promotor tinju profesional konvensional.
Pandangan itu disampaikan Chisora dalam konferensi pers IBA di Istanbul, Turki, Selasa (6/10/2026), bersama Presiden IBA Umar Kremlev serta Sekretaris Jenderal sekaligus CEO IBA, Chris Roberts OBE.
Menurut Chisora, salah satu persoalan yang dihadapi petinju dari negara berkembang adalah keterbatasan sarana latihan dan kesempatan tampil di panggung internasional. Ia mencontohkan petinju dari Kenya, Afrika Selatan, dan Botswana yang harus datang ke Dubai atau Turki untuk menunjukkan kemampuan mereka.
“Bayangkan Anda lahir di tempat yang sangat sulit, pergi ke sasana dengan ring yang tidak stabil, dan hanya ada dua pasang sarung tinju yang digunakan bersama oleh seluruh kelas,” ujar Chisora, sebagaimana dikutip dalam laporan resmi IBA.
Ia membandingkan pendekatan tersebut dengan sebagian promotor tinju profesional di London yang, menurut pengamatannya, cenderung memusatkan perhatian kepada petinju yang sudah memiliki daya tarik komersial.
“Apa yang dilakukan IBA luar biasa: kesempatan bagi semua orang. Dan ketika kami mengatakan semua orang, yang kami maksud adalah semua orang di dunia,” kata Chisora.
Pernyataan tersebut dipublikasikan dalam laporan resmi IBA mengenai konferensi pers di Istanbul pada 6 Oktober 2026.
Bukan sekadar pertandingan, tetapi membuka jalan bagi atlet
Gagasan Chisora memperlihatkan pentingnya sistem kompetisi yang tidak hanya berorientasi pada petinju elite, tetapi juga menyediakan ruang bagi atlet yang sedang membangun karier.
Bagi petinju dari Afrika, kesempatan tampil di turnamen internasional dapat menjadi jalan untuk menguji kemampuan, memperoleh pengalaman bertanding, membangun reputasi, dan membuka peluang menuju level kompetisi yang lebih tinggi.
IBA sendiri menyatakan sedang membangun jalur pembinaan yang menghubungkan tinju amatir dan profesional. Dalam kesempatan yang sama, Chris Roberts menjelaskan pengembangan sistem yang dirancang agar petinju tidak kehilangan arah ketika berpindah dari satu tahap karier ke tahap berikutnya.
Sistem tersebut mencakup IBA Elite, IBA.PRO, serta platform IBA Management yang dirancang untuk menghubungkan perjalanan karier atlet melalui sistem pemeringkatan terpadu.
Arah pengembangan ini relevan bagi negara-negara yang membutuhkan lebih banyak kompetisi, dukungan pembinaan, dan akses menuju pertandingan berlevel internasional.
Afrika menjadi salah satu sasaran pengembangan IBA
Perhatian IBA terhadap Afrika bukan sekadar wacana baru. Dalam laporan resminya pada Oktober 2024, IBA menyebut telah memberikan dukungan berupa peralatan dan bantuan dalam bentuk barang maupun layanan kepada 15 federasi nasional di benua tersebut, dengan nilai total sekitar US$293.926.
IBA juga melaporkan alokasi hadiah sebesar US$865.000 untuk Kejuaraan Tinju Afrika Elite Putra dan Putri 2023 di Kamerun, serta US$222.500 untuk Mandela African Boxing Cup 2024 di Durban, Afrika Selatan.
Pada Agustus 2024, Addis Ababa, Ethiopia, menjadi tuan rumah IBA Champions’ Night pertama di Afrika. Ajang tersebut memiliki dana hadiah US$150.000, dengan jumlah yang sama disebut IBA dialokasikan untuk mendukung penyelenggaraan acara.
Data tersebut berasal dari laporan IBA mengenai kerja sama dengan African Boxing Confederation (AFBC). Angka-angka itu merupakan laporan dari organisasi penyelenggara sendiri, bukan audit independen atas keseluruhan programnya.
Selain menggelar pertandingan, IBA juga melaporkan penyelenggaraan pelatihan bagi pelatih serta wasit dan juri di sejumlah negara Afrika. Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas teknis dan kualitas penyelenggaraan tinju di tingkat nasional maupun internasional.
Tantangan pemerataan dan keberlanjutan
Meski peluang kompetisi menjadi kebutuhan penting, pengembangan tinju Afrika tetap membutuhkan dukungan yang berkelanjutan. Akses terhadap sarana latihan, kualitas pelatih, pendanaan federasi, serta kompetisi reguler menjadi bagian penting agar kesempatan bertanding tidak berhenti pada satu atau dua turnamen.
Pernyataan Chisora menempatkan persoalan akses sebagai salah satu isu utama. Atlet berbakat tidak selalu berasal dari negara dengan industri olahraga yang mapan atau fasilitas latihan yang memadai. Karena itu, sistem yang mampu menjangkau petinju di luar pusat-pusat tinju profesional berpotensi memperluas basis pembinaan.
Namun, penyelenggaraan pertandingan internasional saja tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan. Manfaatnya bagi atlet juga bergantung pada kesinambungan kompetisi, kualitas pembinaan, perlindungan atlet, serta transparansi tata kelola.
Di sisi lain, posisi kelembagaan IBA dalam tinju internasional juga perlu diperhatikan. Komite Olimpiade Internasional (IOC) mencabut pengakuannya terhadap IBA pada 2023 setelah persoalan tata kelola dan keuangan. Perkembangan ini dilaporkan Reuters pada Oktober 2024 ketika membahas hubungan IBA dengan AFBC.
Dengan demikian, program pengembangan tinju di Afrika berlangsung di tengah dinamika tata kelola tinju dunia yang masih menjadi perhatian.
Chisora juga menyinggung rencana kembali naik ring
Dalam konferensi pers yang sama, Chisora mengumumkan rencana kembali bertanding pada Desember 2026 melawan Murat Gassiev. Ia menyebut London atau Manchester sebagai kemungkinan lokasi pertandingan, dengan rencana mempertaruhkan sabuk IBA dan gelar WBA Regular milik Gassiev.
Presiden IBA Umar Kremlev menyatakan siap mendukung gagasan pertandingan tersebut. Meski demikian, tanggal, tempat, dan rincian final pertarungan masih perlu dikonfirmasi.
Keterlibatan Chisora dalam agenda IBA memberi dimensi lain pada pernyataannya mengenai kesempatan bagi petinju di seluruh dunia. Ia tidak hanya berbicara tentang pertandingan profesional tingkat atas, tetapi juga menekankan perlunya membuka akses bagi atlet yang belum memperoleh perhatian besar.
Pesan yang mengemuka dari pandangan Chisora cukup jelas: bakat tinju seharusnya tidak dibatasi oleh negara asal, kondisi ekonomi, atau minimnya fasilitas. Tantangan berikutnya adalah memastikan peluang tersebut diwujudkan melalui pembinaan yang berkelanjutan dan akses kompetisi yang benar-benar menjangkau petinju di berbagai belahan dunia.(int)