Sipoholon (Pelita Batak):
Ada tempat-tempat yang sekadar menjadi alamat. Tetapi ada pula tempat yang perlahan berubah menjadi bagian dari ingatan sebuah gereja.
Seminarium Sipoholon adalah salah satunya.
Di kawasan Sipoholon, Tapanuli Utara, kompleks yang menjadi salah satu pusat pendidikan dan pembinaan HKBP itu berulang kali menjadi saksi ketika para pelayan dan utusan gereja berkumpul untuk menentukan arah perjalanan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).
Pada Oktober 2026, sejarah itu kembali berulang.
Sinode Godang HKBP ke-68 digelar pada 5-8 Oktober 2026 di Kompleks Seminarium Sipoholon. Keputusan tersebut secara resmi ditetapkan melalui SK Ephorus HKBP Nomor 307/L08/III/2026 tertanggal 13 Maret 2026. Panitia yang dipimpin Sekretaris Jenderal HKBP Pdt. Rikson M. Hutahaean kemudian diberi mandat mempersiapkan seluruh kebutuhan persidangan, termasuk pembenahan sarana dan prasarana Seminarium Sipoholon.
Namun, bila melihat perjalanan sebelumnya, pilihan Sipoholon bukanlah keputusan yang berdiri sendiri.
Jejak Sinode yang Panjang
Jauh sebelum Sinode Godang ke-68, Seminarium Sipoholon sudah menjadi panggung penting bagi keputusan-keputusan besar HKBP.
Dokumen sejarah dan catatan kegiatan HKBP menunjukkan bahwa Sinode Godang ke-62 pada 2014 dilaksanakan di Seminarium Sipoholon. Dua tahun kemudian, Sinode Godang ke-63 pada 12-18 September 2016 juga digelar di tempat yang sama.
Kemudian datang Sinode Godang ke-64 pada 8-12 Oktober 2018.
Pada sinode tersebut, lebih dari 1.600 sinodestan berkumpul untuk membahas perkembangan dan tantangan pelayanan HKBP sekaligus menggumulkan perubahan penting terhadap Aturan dan Peraturan HKBP. HKBP sendiri mencatat bahwa Sinode Godang ke-64 berlangsung di Auditorium HKBP, Seminarium, Kecamatan Sipoholon.
Sinode 2018 bahkan menghasilkan perubahan mendasar dalam tata kehidupan organisasi gereja. Amandemen ketiga Aturan dan Peraturan HKBP ditetapkan di Seminarium Sipoholon pada 12 Oktober 2018.
Dengan demikian, Seminarium bukan sekadar tempat berlangsungnya rapat. Ia telah menjadi salah satu ruang tempat HKBP merumuskan dirinya sendiri.
Ketika Pandemi Mengubah Jadwal
Tradisi tersebut berlanjut pada periode berikutnya.
Sinode Godang ke-65 semula dijadwalkan berlangsung pada 19-25 Oktober 2020 di Seminarium Sipoholon. Namun pandemi Covid-19 mengubah rencana tersebut. Pelaksanaannya ditunda dan kemudian digelar pada 9-13 Desember 2020 dengan protokol kesehatan.
Pandemi menjadi salah satu pengingat bahwa sebuah lokasi sinode tidak hanya ditentukan oleh tradisi, tetapi juga harus berhadapan dengan situasi zaman.
Ketika kondisi memungkinkan, HKBP kembali ke Sipoholon.
Pada 25-27 Oktober 2022, Sinode Agung HKBP ke-66 kembali dilaksanakan di Seminarium Sipoholon. Persiapan sinode telah dilakukan di kompleks tersebut, termasuk registrasi peserta, orientasi, tata tertib dan berbagai kebutuhan persidangan.
Dua tahun kemudian, sejarah kembali berulang.
Dari 2024 Menuju 2026
Sinode Godang HKBP ke-67 berlangsung pada 2-8 Desember 2024 di Seminarium Sipoholon dan diikuti sekitar 1.789 peserta. Salah satu agenda paling menentukan adalah pemilihan pimpinan HKBP periode 2024-2028.
Di tempat itu pula Pdt. Dr. Victor Tinambunan, M.ST. terpilih sebagai Ephorus HKBP. Dari 1.764 utusan yang memiliki hak suara, Victor memperoleh 1.125 suara.
Artinya, ketika Sinode Godang ke-68 kembali dilaksanakan di Sipoholon pada 2026, tempat tersebut bukan ruang yang asing bagi para sinodestan.
Ia sudah menjadi bagian dari memori kelembagaan HKBP.
Mengapa Seminarium?
Pertanyaan menarik kemudian muncul: mengapa Sipoholon terus menjadi pilihan?
Dari jejak yang tersedia, salah satu jawabannya terletak pada fungsi Seminarium itu sendiri.
Kompleks Seminarium bukan hanya memiliki ruang persidangan, tetapi juga merupakan bagian dari lingkungan pendidikan, pembinaan dan kehidupan pelayanan HKBP. Auditorium, ruang pertemuan, fasilitas penginapan dan berbagai sarana pendukung memungkinkan kompleks tersebut digunakan untuk kegiatan gerejawi berskala besar.
Karena itu, ketika HKBP membutuhkan tempat untuk mempertemukan ribuan utusan dari berbagai distrik, ressort dan jemaat, Seminarium memiliki infrastruktur dan simbolisme yang sulit dipisahkan dari perjalanan organisasi.
Ia berada di jantung kawasan yang selama puluhan tahun menjadi salah satu pusat kehidupan HKBP di Tanah Batak.
Bukan Sekadar Lokasi
Ada makna lain yang lebih dalam.
Sinode Godang adalah tempat ketika suara dari berbagai penjuru HKBP dipertemukan. Persoalan jemaat dibawa ke meja persidangan. Gagasan diuji. Program dievaluasi. Aturan diperbarui. Bahkan kepemimpinan gereja ditentukan.
Dan berkali-kali, semua proses itu berlangsung di Sipoholon.
Pada 2018, misalnya, Sinode Godang ke-64 membahas tantangan pelayanan HKBP dan Amandemen III Aturan dan Peraturan. Pada 2024, Sipoholon menjadi tempat pemilihan pimpinan HKBP periode baru. Kini, pada 2026, Sinode Godang ke-68 membawa agenda transformasi gereja, termasuk pembahasan amandemen Aturan dan Peraturan HKBP.
Maka, setiap kali sinode kembali ke Seminarium, yang hadir bukan hanya para peserta baru.
Mereka datang membawa keputusan-keputusan lama, pengalaman generasi sebelumnya, pergumulan jemaat, sekaligus harapan baru.
Rumah Pendidikan, Rumah Pergumulan Gereja
Menariknya, aktivitas sinodal di Seminarium tidak berhenti pada Sinode Godang.
Pada 2019, misalnya, Rapat Gabungan Praeses dan Majelis Pekerja Sinode digelar di Auditorium HKBP, Seminarium Sipoholon. Pertemuan tersebut secara khusus membahas sosialisasi hasil Sinode Godang 2018 tentang Amandemen III Aturan dan Peraturan HKBP.
Rapat Pendeta HKBP juga berlangsung di tempat yang sama pada 2019 dengan 1.876 peserta. Forum tersebut membahas teologi, dogma, liturgi, hukum dan kehidupan rohani HKBP yang kemudian menjadi bahan untuk Sinode Godang.
Dengan kata lain, Seminarium berada dalam sebuah siklus.
Gagasan lahir di ruang pendidikan, diperdebatkan dalam forum gereja, kemudian dibawa ke sinode untuk diputuskan.
2026: Kembali ke Titik yang Sama
Menjelang Sinode Godang ke-68, panitia kembali melakukan pembenahan.
Pada 29 September 2026, Sekretaris Jenderal HKBP Pdt. Rikson M. Hutahaean memimpin rapat finalisasi di Ruang Menza Seminarium. Kepolisian, TNI, Dinas Perhubungan dan tim kesehatan turut dilibatkan dalam persiapan teknis. Teknologi juga digunakan melalui Super App HKBP untuk mendukung pendataan peserta, kehadiran, kendaraan dan kebutuhan penyelenggaraan.
Beberapa hari kemudian, lebih dari 1.700 peserta datang ke Sipoholon.
Sinode pun dibuka.
Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan mengingatkan bahwa Sinode Godang adalah ulaon huria-pekerjaan gereja-yang harus dijalankan dengan kesadaran bahwa gereja adalah milik Tuhan. Karena itu, proses persidangan dan pengambilan keputusan diharapkan berlangsung dalam ketaatan, kerendahan hati dan tuntunan Roh Kudus.
Sipoholon dan Ingatan Kolektif HKBP
Pada akhirnya, sejarah penetapan Seminarium Sipoholon sebagai lokasi sinode tidak hanya berbicara mengenai sebuah keputusan panitia.
Ia berbicara tentang ingatan kolektif.
2014, 2016, 2018, 2020, 2022, 2024, lalu 2026.
Tahun-tahun itu membentuk sebuah garis panjang yang menunjukkan bagaimana Sipoholon terus muncul dalam perjalanan pengambilan keputusan HKBP.
Bahkan dokumen Aturan dan Peraturan HKBP mencatat bahwa aturan tersebut ditetapkan di Seminarium Sipoholon pada 4 Oktober 2002, sementara amandemen pertamanya juga ditetapkan di tempat yang sama pada 16 September 2010.
Maka tidak berlebihan jika Seminarium Sipoholon disebut lebih dari sekadar tempat persidangan.
Di sana HKBP belajar.
Di sana HKBP bergumul.
Di sana HKBP memilih pemimpin.
Di sana HKBP mengubah aturan.
Dan di sana pula, dari satu generasi ke generasi berikutnya, gereja itu berkali-kali bertanya kepada dirinya sendiri:
Ke mana HKBP akan berjalan setelah sinode selesai?
Pertanyaan itu kembali menggema di Sipoholon pada Oktober 2026.
Dan seperti sejarah sebelumnya, jawaban akhirnya bukan hanya akan tertulis dalam dokumen sinode, tetapi akan diuji dalam kehidupan jutaan warga HKBP setelah para sinodestan meninggalkan Seminarium.(*)