Tepat pada 7 Oktober 2026, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) genap menapaki usia pelayanan yang ke-165 tahun semenjak berdiri pada 7 Oktober 1861. Menembus perjalanan waktu lebih dari satu setengah abad, gereja Kristen Protestan terbesar di Asia Tenggara ini telah menjadi tiang iman bagi lebih dari 6,5 juta jiwa jemaatnya. Momentum rasa syukur akbar yang ditandai dengan Ibadah Raya di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) bukan sekadar perayaan megah seremonial semata. Lebih dari itu, pertambahan usia ini harus diletakkan sebagai cermin besar untuk melakukan reformasi tata kelola internal serta evaluasi mendalam demi masa depan gereja.
Berdiri di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan modernisasi zaman, HKBP kini memikul dua tanggung jawab historis yang besar. Pertama, bagaimana mengadopsi kemajuan teknologi untuk menghidupkan ruang ibadah yang merangkul generasi muda (Gen-Z). Kedua, bagaimana mengembalikan kemurnian struktural institusi agar kembali alkitabiah, berwibawa, dan tidak lagi membebani pundak jemaat akar rumput.
Modernisasi Ruang Ibadah: Menghadirkan Sukacita bagi Gen-Z
Gereja tidak boleh menutup mata bahwa lanskap spiritual dan psikologis generasi muda saat ini telah bergeser jauh. Pendekatan penggembalaan pastoral yang terlampau kaku dan formalistis di era lalu kerap membuat generasi Z merasa terasing di rumah rohaninya sendiri. Kemajuan teknologi informasi dan multimedia harus diadopsi secara radikal untuk merombak atmosfer peribadahan tanpa mengorbankan esensi dasar teologisnya.
Gen-Z merindukan ruang ibadah yang hidup, interaktif, dan penuh dengan sukacita yang menggerakkan jiwa secara nyata (girang). Pemanfaatan teknologi tata cahaya yang estetik, sistem audio yang modern, serta aransemen musik gerejawi yang dikemas secara kontemporer-dinamis harus mulai dibuka ruangnya secara luas di altar-altar HKBP. Ketika dunia digital di luar sana menawarkan kepalsuan dan ruang interaksi yang dingin, HKBP harus hadir melalui mimbar virtual maupun fisik sebagai jembatan yang hangat, teduh, dan relevan dalam merangkul jiwa muda mereka. Melalui ekosistem digital ini pula, jemaat diaspora, kaum muda di perantauan, serta mereka yang terasing bisa kembali dijangkau dan dirangkul dalam satu ikatan kasih Kristus [Protestant Christian Batak Church, Portal Resmi HKBP - Huria Kristen Batak Prophet].
Mengembalikan Kedaulatan Tuhan: Kerinduan Manjomput Na Nisurat
Selain pembenahan pada sektor pelayanan kaum muda, kerinduan mendasar jemaat di usia 165 tahun ini adalah lahirnya perubahan besar pada sistem pemilihan pimpinan tertinggi gereja, khususnya Ephorus. Sistem voting konvensional di Sinode Godang yang diadopsi selama ini harus diakui telah membuka celah bagi masuknya riak-riak politik praktis duniawi, polarisasi kubu-kubuan, dan geseken emosional yang menguras energi spiritual gereja.
Sudah saatnya HKBP melangkah maju dengan berani mengembalikan wibawa pemilihan pemimpinnya melalui sistem manjomput na nisurat (menjemput apa yang tertulis/sistem undian suci secara alkitabiah), setelah para calon melewati penyaringan kriteria teologis, rekam jejak, dan integritas yang ketat oleh tim independen Sinode. Sistem manjomput na nisurat adalah wujud pengakuan iman yang absolut dari seluruh pelayan dan jemaat bahwa pemimpin tertinggi HKBP dipilih langsung oleh kedaulatan tangan Tuhan, bukan hasil lobi atau kompromi politik manusia. Dengan sistem yang bersih ini, siapa pun Ephorus yang terpilih akan dihormati, didoakan, dan didukung penuh dengan kedamaian oleh seluruh elemen jemaat.
Sentralisasi Keuangan yang Adil: Stop Membebani Jemaat
Arah baru HKBP juga harus mewujud nyata melalui tata kelola finansial, yakni implementasi kebijakan sentralisasi keuangan. Program sentralisasi ini wajib dievaluasi secara berkala dan menyeluruh agar benar-benar berjalan sesuai dengan roh awal pembentukannya: menyokong penuh program pelayanan serta pembangunan di setiap pos huria secara merata, adil, terutama bagi gereja-gereja kecil di pelosok pedalaman yang minim pendapatan. Peran teknologi digital harus dimaksimalkan di sini untuk membangun transparansi penuh dan memangkas birokrasi keuangan yang lambat.
Sentralisasi yang sehat harus ditopang oleh kemandirian finansial pusat dan distrik melalui pengelolaan aset-aset strategis gereja secara profesional dan akuntabel. Kemacetan atau salah kelola anggaran di tingkat atas jangan sampai kembali memunculkan jalan pintas lama, yaitu melemparkan beban finansial ke pundak jemaat melalui berbagai iuran wajib yang bertubi-tubi. Jemaat harus diposisikan sebagai subjek yang dirangkul, dilayani, dan didukung pertumbuhannya, bukan diposisikan sebagai objek yang terus-menerus dikejar target pemenuhan anggaran operasional.
Kesimpulan
Memasuki usia ke-165 tahun, HKBP memiliki modal iman, sejarah, dan sosial yang sangat luar biasa untuk tumbuh menjadi gereja yang visioner, adaptif, dan berwibawa. Dengan memodernisasi ruang ibadah yang penuh sukacita bagi masa depan Gen-Z, mengembalikan kemurnian suci pemilihan pimpinan melalui manjomput na nisurat, serta menegakkan sentralisasi keuangan yang meringankan beban jemaat, HKBP akan kokoh berdiri sebagai rumah rohani yang teduh dan memancar menjadi berkat bagi dunia. Selamat ulang tahun ke-165 HKBP. Kiranya Tuhan Yesus, Kepala Gereja, senantiasa menuntun peziarahan iman kita bersama. Horas!