Warga penduduk Desa Ranggitgit, Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara terancam tidak lagi bisa menikmati air bersih. Pasalnya, sumber mata air yang selama ini diperoleh dari kawasan hutan kemenyaan di perbukitan Pantil, kini sudah porak poranda.
Aktivitas budidaya dan penebangan tanaman eukaliptus di kawasan tersebut telah mengakibatkan kawasan perbukitan rusak parah. Aliran air yang bersumber dari hutan kini sudah terbuka dan terpapar mata hari.
Terlihat pipa saluran air yang terganggu akibat aktifitas penebangan eukaliptus Bahkan, akibat aktivitas penebangan tanaman eukaliptus di kawasan itu sempat merusak pipa saluran air menuju Desa Ranggitgit.
Seperti diabadikan di lokasi, Senin (22/5/2017) oleh tim Pelita Batak, permukaan tanah terbuka tanpa tumbuhan hijau. Kondisi ini akan mengakibatkan kawasan ini erosi dan lama-kelamaan akan terjadi kekeringan.
"Warga di Desa Ranggitgit tidak akan bisa lagi mendapat air bersih dari kawasan ini, sebelum kekeringan, air akan tercemar oleh tumpukan pohon eukaliptus yang ditumpuk di daerah aliran air tersebut. Kita ketahui, batang eukaliptus akan mengeluarkan getahnya dan mengalami pembusukan," kata seorang warga Desa Ranggitgit, D Manalu.

Kerusakan lingkungan terjadi akibat aktifitas penebangan eukaliptusPadahal, sumber mata air tersebut sejak lama telah dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan, dana desa yang diberikan pemerintah pusat sudah disepakati untuk pembangunan saluran air dari pebukitan tersebut ke desa.
"Kita sangat terancam sekarang, karena lingkungan yang tadinya merupakan masih bagian kawasan hutan kemenyaan yang dikelola warga tersebut kini sudah gundul," ujarnya.
Warga juga semakin khawatir, karena saat penanaman tanaman baru nantinya perusahaan akan menggunakan festisida yang akan larut dalam air yang mengalir ke perkampungan. "Kita akan mengonsumsi racun itu nantinya," ujarnya. (Tim)