Tokoh Masyarakat Kumpul di Medan, Sampaikan Keprihatinan Atas Kondisi Humbahas

Administrator Administrator
Tokoh Masyarakat Kumpul di Medan, Sampaikan Keprihatinan Atas Kondisi Humbahas
Benny Pasaribu
Para tokoh masyarakat Humbahas Aduhot Simamora, Gandhi Pakpahan, Freddy Pam Situmorang, Patar Simamora, Thony Pasaribu dan lainnya diabadikan usai penyampaian hasil rekomendasi pada sambung rasa tokoh masyarakat Humbahas di Hotel Danau Toba Internasional
Laporan Benny Pasaribu


Medan(Pelita Batak): Tokoh masyarakat Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) Sumut bertemu dalam acara sambung rasa tokoh masyarakat Humbahas di Hotel Danau Toba Internasional, Jalan Imam Bonjol Medan, Sabtu 2 September 2017.


Selain karena rasa cinta dan peduli akan Humbahas, acara sambung rasa itu juga karena berkembangnya keresahan dan kekecewaan banyak pihak dari kalangan masyarakat Humbahas atas pelaksanaan program pembangunan di bawah kepemimpinan Bupati Dosmar Banjarnahor.


Sambung rasa diawali dengan deklarasi Forum Prakarsa Pendiri Pemerhati Humbang Hasundutan (FP3HH), dimana lima tim formatur yang diketuai Gandhi Pakpahan segera menetapkan kepengurusan.


FP3HH ini menjadi wadah masyarakat dari Bona Pasogit dan Parserahan (kampung halaman dan anak rantau) untuk mengawal pelaksanaan pembangunan Humbahas.


Selain itu, para tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama dan pemuda dari Humbahas, Medan dan Jakarta yang hadir pada sambung rasa itu, membahas dalam forum diskusi tentang banyak hal terkait kondisi terkini Humbahas serta menyoroti gaya kepemimpinan Dosmar Banjarnahor.


Para tokoh yang hadir seperti Patar Simamora, Freddy Pam Situmorang, Gandhi Pakpahan, Thony Pasaribu, Morgan Lumbanbatu, Kp Journal Sihombing, Aduhot Simamora, Djalan Sihombing, Pdt Lamsihar Oberlin Siregar MTh, Pdt Jandiaman Gultom.


Kemudian Hermanto Manullang, Lindung Situmorang, Ganda Sihite, Mangatas Tobing, Jefri Simamora, Bantu Manik, Marusaha Lumbantoruan, Miduk Purba, Aslin Simamora dan lainnya.


Dari hasil diskusi, dihasilkan enam poin rekomendasi kepada Bupati Humbahas, DPRD Humbahas dan kepada para pihak terkait lainnya yang dibacakan Panitia Sambung Rasa Gandhi Pakpahan. 


Keenam rekomendasi itu merupakan kesimpulan dari saran, masukan, pendapat dan kritikan yang berkembang dari peserta forum diskusi acara, yang disarikan oleh Tim Perumus. Adapun keenam rekomendasi, yaitu pertama bahwa Bupati Humbahas diduga telah melakukan banyak penyalahgunaan wewenang, untuk itu forum mendukung penuh DPRD melaksanakan hak angket.


Kedua, mendorong pihak-pihak yang dirugikan akibat terbitnya surat keputusan atau kebijakan yang dibuat Bupati Humbahas untuk melaporkan ke pihak terkait atau penegak hukum. Ketiga, meminta Bupati Humbahas segera melakukan pembenahan di bidang tertib administrasi pemerintahan demi terlaksananya penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan akuntabel.


Keempat, meminta Bupati Humbahas menciptakan suasana kondusif di Kabupaten Humbahas untuk mendukung jalannya program pembangunan.


Kelima meminta Bupati Humbahas membuat kebijakan yang dapat mendorong Aparatur Sipil Negara (ASN) bekerja maksimal sesuai tugas dan fungsinya seperti a. Dalam penempatan ASN tidak ada diskriminasi dan KKN, terutama transaksional. b. Penempatan pejabat lebih diutamakan putra-putri daerah sesuai dengan misi otonomi daerah. c. ASN harus berdomisili di Kabupaten Humbahas.


Keenam meminta Bupati Humbahas dalam waktu tiga bulan agar mengundurkan diri, apabala tidak dapat melakukan perbaikan sesuai poin ketiga, keempat dan kelima di atas.


Sebelumnya, Patar Simamora mewakili Panitia Pemekaran Pusat (Bona Pasogit) mengatakan dua periode kepemimpinan Bupati Maddin Sihombing, pembangunan di Humbahas dapat dikatakan dirasakan masyarakat.


Namun di pemerintahan Bupati Dosmar Banjarnahor saat ini, cita-cita pemekaran Humbahas melenceng. "Bisa dikatakan seperti mau dijual beliau Humbahas ini," katanya, seraya menegaskan agar dikembalikan tujuan dan cita-cita sebagaimana ruh pemekaran yang digagas para pemrakarsa.


Kemudian mewakili Panitia Pemekaran Humbahas dari Anak Rantau (Parserahan) Freddy Pam Situmorang dari Jakarta, menyatakan keprihatinannya terhadap pembangunan di Humbahas saat ini.


"Tadi pagi saya tiba di hotel ini, saya pikir hanya ajang reunian dengan teman-teman, rupanya berkata lain, setelah saya mengikuti pembicaraan dan cerita-cerita, banyak yang harus dibenahi dengan pemerintahan saat ini, ini terus terang kita sangat prihatin," katanya.


Bahkan para tokoh agama pada forum diskusi itu menyebutkan ketidakberhasilan Bupati Dosmar dalam pembangunan bidang keagamaan, maupun sosial kebudayaan. "Saya kira ketidakcakapan bupati seperti ini tidak bisa dibiarkan, harus ada perbaikan sebelum akhirnya kekuatan rakyat yang nantinya bertindak," ujar salah seorang tokoh agama Pdt Lamsihar Oberlin Siregar MTh.(*)

Komentar
Berita Terkini