Dalam diskusi bertema "Gereja Bicara Bangsa" tersebut, Saut menyatakan bahwa secara umum gereja-gereja di Indonesia belum merumuskan teologi kebangsaan. Hal ini mengakibatkan ada kegamangan dalam organisasi gereja dalam menyikapi masalah-masalah kebangsaan.
"Untunglah ada GMKI yang mengisi kekosongan peranan gereja dalam konteks kebangsaan," ujarnya.
Saut menjelaskan bahwa Alkitab berbicara banyak tentang bangsa dan bentuk-bentuk pengelolaannya. Karena itu orang Kristen harus terlibat secara dalam kehidupan berbangsa. Lebih lanjut Saut menyatakan organisasi-organisasi Kristen perlu berperan aktif dalam menghilangkan primordialisme di Indonesia.
"Kalau primordialisme sudah lenyap, kita tidak perlu takut bersaing dengan bangsa-bangsa lain," ujarnya.
Sejalan dengan itu, Penrad Siagian yang turut menjadi pemateri diskusi mengamini adanya kekikukan gereja dalam menghadapi problematika kemajemukan di Indonesia. Hal ini, menurut sekretaris eksekutif bidang KKC PGI itu, menyebabkan peranan umat Kristen sering dilupakan dalam sejarah pembangunan bangsa.
"Kalau gereja tidak mampu menyesuaikan diri dalam dinamika kehidupan berbangsa maka gereja akan semakin dinafikan oleh bangsa ini," tegas Penrad.
Mempertegas pemateri sebelumnya, Sutrisno Pangaribuan menyebutkan bagaimana ia sering kesulitan saat meminta dukungan gereja dalam isu-isu penting. Anggota DPRD Sumut ini tersebut menyebut gereja sering bermain di zona nyaman dan tidak mau mengambil resiko dalam menyeruakan suara kebenaran dalam isu kebangsaan.
Secara khusus Sutrisno berharap GMKI Cabang Medan bisa mengajak umat gereja khususnya kaum muda untuk lebih peduli pada masalah-masalah kebangsaan.(*)