Medan (Pelita Batak) :
Alvin Tofler menyebutkan dengan kemajuan teknologi dunia menjadi tidak ada batas. Menjadi tantangan belakangan ini, di satu sisi teknologi khususnya yang berbasis jaringan internet saat ini mendorong pembangunan semakin cepat, namun disisi lain juga menjadi pemecah dan merobek batas yang semakin tajam antara satu dengan yang lainnya.
Demikian disampaikan Dr RE Nainggolan dalam sambutannya dalam Diskusi Publik "Melawan Intoleransi & Radikalisme" (Menyikapi situasi kebangsaan terkini) yang diselenggarakan GMKI di Hotel Danau Toba Internasional Medan, Jumat (26/5/2017).
"Pemberitaan lewat media sosial yang begitu cepat dan menjangkau semua kalangan justru dapat mengakibatkan retaknya kebhinnekaan," ujar RE Nainggolan dimana hadir para narasumber Drs. Afifuddin Lubis, MSi., Prof Dr Robert Sibarani(Direktur Pascasarjana USU), Pdt. Dr. Martin Lukito Sinaga (Dosen STT Jakarta), Sahat Sinurat, ST,MT (Ketua Umum PP GMKI) dan dimoderatori Jahartap Pasaribu,ST,MT. Hadir Menkumham RI Yasonna H Laoly, Ketua Pengurus Nasional Perkumpulan Senior (PNPS) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Bernard Nainggolan, Ketua Panitia Delphi M Ujung, SH, Msi, Jadi Pane SPd.
Untuk itulah, lanjut Anggota Wali Amanat USU ini, semua pihak harus turut waspada terhadap ucapan kebencian. Ucapan yang bisa merusak suasana kebhinnekaan, yang sesungguhnya tidak perlu diragukan lagi di tengah-tengah bangsa ini.

Tokoh masyarakat Sumut ini mengajak seluruh peserta diskusi bahkan siapa saja untuk bersikap arif dalam menyikapi kondisi saat ini. Jika menemukan ungkapan kebencian di media sosial atau di keseharian jangan langsung terprofokasi dan turut menyebarluaskannya, melainkan meredamnya.
"Kita harus mulai dari pribadi ke pribadi, karena kita tidak bisa memandang sebuah kelomopok dengan pandangan yang sama. Saya sebagai penganut Kristen sangat menghormati bapak Afifuddin Lubis, dan saya yakin demikian sebaliknya, kami sudah sejak lama berteman," ujarnya.
Ia mengisahkan, jika dahulu perbedaan keyakinan, golongan, ras dan yang lainnya tidak menghambat persahabatan satu dengan yang lain. "Bahkan, diacara-acara besar keagamaan, tidak sungkan kita mengajak sahabat yang berbeda agama dengan kita turut dalam kepanitiaan.
Kemudian disampaikan RE Nainggolan mengutip pernyataan Daniel Goleman bahwa kematangan emosional justru lebih memberikan manfaat dibanding kemtangan intelektual. "Hal ini yang perlu kita sampaikan kepada generasi saat ini, bagaimana memahami orang lain dan memotifasi orang lain untuk membangun interaksi yang positif. Dengan demikian akan bisa terbangun kebersamaan," ujarnya.
Sebab, saat ini dikatakan RE Nainggolan, generasi muda lewat GMKI harus mampu menjadi solusi, bukan menjadi bagian dari masalah. "Sebab, orang yang membiarkan kejahatan, ikut serta menyuburkan kejahatan itu sendiri," ujarnya.
Pada kesempatan itu juga dilakukan pengukuhan Pengurus Nasional Perkumpulan Senior (PNPS) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Wilayah Sumut yang diketuai Drs Murbanto Sinaga MA.(TAp)