Otobiografi Djasarmen Purba SH: HIDUP ADALAH IBADAH

Administrator Administrator
Otobiografi Djasarmen Purba SH: HIDUP ADALAH IBADAH
Ist
Djasarmen Purba(duduk)

Jakarta (Pelita Batak): Anggota DPD RI dari Kepulauan Riau, Djasarmen Purba SH, meluncurkan buku otobiografinya yang berjudul "Hidup adalah Ibadah: Anak Holang Bangkei" di Hotel Bunga Bunga, Jakarta, Rabu malam, 1 November 2017.  

"Buku ini merupakan uraian kisah kehidupan saya dan ditulis untuk menyambut Ulang Tahunku Ke-70,"  kata Djasarmen Purba SH.

Pria kelahiran Simalungun, 5 Agustus 1947 menceritakan dirinya merupakan anak kedua dari pasangan orang tuanya Hortialam Purba dan Dorlina br Saragih. Abangnya, Mulaiman, meninggal pada usia 10 bulan. Kedua adiknya pun, yaitu Djabinsar meninggal di usia 8 bulan dan Ucok meninggal sebelum dibaptis. "Sebab itulah kalangan keluarga ketika itu menyebut saya sebagai Anak Holang Bangkei," urai Ketua Umum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) ini.

Lebih lanjut Djasarmen mengutarakan sepanjang usia 70 tahun, dirinya melintasi berbagai permasalahan hidup, mulai dari prahara di perusahaannya pada 1988, lalu hidup sebagai agen valas, supri taksi di Jakarta selama tiga tahun. "Hingga, kemudian Tuhan memberi saya rezeki kesempatan berkiprah sebagai anggota DPRD, lalu menjadi anggota DPD RI selama dua periode sampai saat ini," kata suami dari Rasmi M Saragih ini.

Djasarmen merenungkan kehidupannya selama bertahun-tahun dan berkesimpulan bahwa Hidup adalah ibadah. "Hidup harus dilalui dengan rasa syukur dengan berpikir, bertindak sesuai dengan kehendakNya. Itulah sekilas penjelasan judul buku ini, 'Hidup adalah ibadah: Anak Holang Bangkei," pungkasnya.

Penulis buku otobiografi, Jannerson Girsang, mengatakan menuliskan kembali pengalaman Djasarmen Purba, SH, berjudul "Hidup adalah ibadah: Anak Holang Bangkei", dirinya merasakan petualangan kehidupan seseorang yang mengagumkan. "Saya turut merasakan liku-liku kehidupan yang jatuh bangun dengan prinsip hidup adalah ibadah dengan berperilaku, bertindak, menurut aturan Tuhan, sehingga dia mampu mengatakan: "tidak ada kegagalan yang abadi".

"Berserah, berdoa, bekerja dengan tekun ternyata membawanya kepada kehidupan yang lebih baik," tambah Jannerson.

Jannerson menambahkan sumber penulisan otobiografi Djasarmen Purba ini berasal dari wawancara dengan Djasarmen sendiri dalam berbagai kesempatan, keluarganya dan lebih dari 60 sumber (keluarga dan teman) dan dilengkapi dengan observasi sebagian kegiatannya yang penting, serta studi berbagai sumber tertulis seperti media online, surat-surat kabar, dan foto-foto.(*)

Komentar
Berita Terkini