Almarhum juga sempat berpesan agar istrinya itu sering-sering mengunjunginya di Sel Mapolsek. "Tengok-tengok Abang kesini, katanya. Diciumnya lagi anak kami ini," ujar Santi yang selama suamimya ditahan, dia tinggal bersama ibunya di Desa Sitaratoit, Kecamatan Angkola Barat.
Hanya saja, yang membuat dia dan keluarga curiga adalah waktu kematian almarhum. Di mana kabar kematian almarhum baru disampaikan pihak kepolisian Senin pagi 4 September 2017 sekira pukul 04.00 WIB.
"Katanya suamiku gantung diri pada Minggu malam sekira pukul 21.20 WIB. Namun kami baru mendapatkan kabar Senin pagi," ucapnya.
Minta Agar DiautopsiKeluarga berencana agar jasad Rifzal dilakukan autopsi. Namun sedari pukul 11.00 WIB setelah keluarga semuanya bersiap, hingga sore hari belum juga ada gerakan dari Polisi untuk membantu keluarganya yang beritikad mencari keadilan itu.
Bahkan Kepala Desa Kampung Napa, Hendri juga merasa bingung dengan keadaan itu. Ia dan keluarga yang mencoba berkonsultasi dengan Polisi malah belum mendapat restu, dengan alasan untuk lebih dahulu berkoordinasi dengan pimpinan.
Beberapa alasan lain yang membuat keterlambatan proses itu di antaranya, permintaan polisi agar membawa jenazah almarhum melalui jalan Lintas Batangtoru, permintaan agar jenazah diformalin, permintaan surat keterangan dari rumah sakit hingga permintaan polisi agar keluarga menunggunya karena harus diiringi voreders dan permintaan untuk menunggu Kapolsek Batangtoru datang ke rumah sakit.
Sementara Kanit Reskrim Polsek Batangtoru Ipda S Naibaho ketika dikonfirmasi tak berkelit. Ia hanya menyalahkan keluarga yang tidak langsung bertanya padanya soal proses penanganan jenazah tersebut hingga bisa diautopsi secepatnya.
"Kan aku ini tukang emas, jadi kalau kamu memerlukan emas, urusannya ke saya, bukan ke tukang tahu," katanya beranalogi menyampaikan langsung kepada abang korban Rifki dan Kepala Desa Napa, Hendri.
Rifki dan sepupunya, Aswar kemudian bercerita, sebenarnya dua hari setelah adiknya itu ditahan, korban sempat bercerita telah digebuki lima oknum polisi yang bertugas di Polsek Batangtoru itu. Namun, tak banyak yang disampaikannya pada keluarga.
Sementara Resma, bibi korban bercerita, di dalam sel ada tulisan seperti diukir. Namun ia meragukan bahwa itu tulisan keponakannya. Kemudian, ia dan yang lainnya berasumsi bahwa tulisan itu adalah alibi pihak polisi semata.
"Bayangkanlah, tidak ada benda keras di dalam, tidak ada ikat pinggang, batu pun tidak ada. Bagaimanalah dia menuliskan itu di dalam," katanya kepada beberapa wartawan yang ada di rumah sakit itu.
Pada pukul 15.30 WIB, jenazah akhirnya dibawa pulang dengan mobil ambulan dari Puskemas Batangtoru yang rencananya menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Djasemen Saragih Kota Pematangsiantar.
Sementara Kapolsek Batangtoru AKP Asmon Bufitra yang sudah ada di rumah sakit itu, tak banyak memberikan komentar. Ia malah mengajak wartawan yang mewawancarainya untuk langsung datang ke Polsek Batangtoru.
"(Anggota) sudah diperiksa satu, makanya kalian ke Polsek lah, di Polsek," katanya sembari memasuki kendaraan dinasnya dan berlalu. (Saut Togi Ritonga)
Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified