Dr (C) Liber Simbolon M.Kom: 100 Persen Indonesia, 100 Persen Batak

Dalihan Na Tolu (Tiga Tungku) Bagian dari Penerapan Pancasila dalam Kehidupan Orang Batak
Administrator Administrator
Dr (C) Liber Simbolon M.Kom: 100 Persen Indonesia, 100 Persen Batak
Ist
Liber Simbolon

Jakarta (Pelita Batak): Dr (C) Liber Simbolon M.Kom menyebutkan bangsa Indonesia khususnya di Tanah Batak, Pancasila merupakan harta terbesar anugerah Tuhan yang tidak dapat ditukarkan dengan apa pun. Pancasila untuk merangkul keberagaman bangsa. Dimana memberikan nilai kesejukan seperti toleransi dan menghargai keberagaman dalam mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia khususnya Tanah Batak.

Dikatakannya, Pancasila terancam dari tiga sudut. Pertama, pragmatisme suatu generasi yang hanya mau satu, maju dan masuk ke dalam the golden crowd yaitu kalangan yang dapat memanfaatkan mall dan hidup dalam gaya globalisme international. Kedua, puritanisme eksklusif keagamaan. Ketiga, korupsi kelas politik yang membuat omongan tentang Pancasila tidak credible.

Saat ini Pancasila menjadi Panglima Manajemen dalam keberagaman atau kemajemukan dalam menjawab tantangan bangsa, karena nilai-nilai yang berakar dari budaya nusantara. Sehingga terbukti Pancasila menjadi wadah pemersatu bangsa Indonesia yang beraneka ragam dan multikultural. 

"Yang perlu kita lakukan adalah menjiwai dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Dalihan Na Tolu (Tiga Tungku), 'penyebutan dalam beragam bahasa sub etnis suku Batak pasa penamaan Tiga Tungku' hal yang representatif dalam menjaga kemajemukan warga negara," ujar Liber Simbolon.

Liber Simbolon yang merupakan dosen di Universitas Bung Karno Jakarta ini menambahkan, dengan implementasi maka nilai-nilai Pancasila akan tetap kuat, sejahtera, dan makmur. Untuk itu, perlu ke depan berdasarkan kompetensi dan kualitas sehingga bisa menempatkan orang sesuai dengan keahliannya. 

"Misalnya, dalam promosi atau pengisian jabatan. Jangan lagi melihat unsur SARA, tetapi harus berdasarkan kompetensi dan kualitas orang," imbuhnya.

Menurutnya, saat ini penjiwaan dan kultur yang kuat dari suku Batak sangat beragam tanpa memandang SARA. Bukan saatnya lagi egaliter membicarakan perbedaan dan menonjolkannya atau pemimpin yang ekslusif karena sudah bermajemuk, artinya bertetangga dengan suku-suku lainnya bahkan secara global.(ril)

Komentar
Berita Terkini