Medan (Pelita Batak) :
Diskusi Publik "Melawan Intoleransi & Radikalisme" (Menyikapi situasi kebangsaan terkini) yang diselenggarakan GMKI mengajan NU menjadi teman diskusi, di Hotel Danau Toba Internasional Medan, Jumat (26/5/2017). Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan konsep yang sudah final dan harus dipertahankan.
Sebagaimana disampaikan Ketua Pengurus Nasional Perkumpulan Senior (PNPS) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Bernard Nainggolan usai diskusi tersebut. Disebutkannya, Kristen maupun Nahdlatul Ulama (NU) sama-sama konsern terhadap keutuhan NKRI. Bernard menyampaikan hasil diskusi yang menghadirkan narasumber Ketua Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumut Drs. Afifuddin Lubis, MSi., tersebut.
"Substansinya adalah, NU bersikap bahwa sebenarnya bagi mereka juga tidak gampang untuk mencapai pemikiran yang sama secara internal. Apalagi secara eksternal. Tapi itu wajar, karena di lingkungan Kristen juga bisa memiliki perbedaan pemikiran secara internal," ujarnya. Turut hadir para narasumber Prof Dr Robert Sibarani (Direktur Pascasarjana USU), Pdt. Dr. Martin Lukito Sinaga (Dosen STT Jakarta), Sahat Sinurat, ST,MT (Ketua Umum PP GMKI) dan dimoderatori Jahartap Pasaribu,ST,MT. Hadir Menkumham RI Yasonna H Laoly, Ketua Panitia Delphi M Ujung, SH, Msi, Jadi Pane SPd.
Menurut Bernard, dalam kondisi krisis saat ini dibutuhkan dialog dalam bangsa ini. Dalam prose berjalan bersama-sama, mencapai tujuan bersama tentu ada dialog satu sama yang lain. "Kita memang lahir dari sebuah perbedaan, jadi perbedaan itu adalah suatu keniscayaan. Persoalan penyeragaman itu justru tidak relefan, kalau ada fikiran dari yang berbeda bahwa Indonesia harus diseragamkan, itu adalah mengingkari kodratnya Indonesia. Kodrat Indonesia adalah keberagaman, bukan dari sesuatu yang seragam kemudian terpecah-pecah, dan seragam lagi tidak begitu. Kita memang dimulai dari kepelbagaian," jelasnya.
Untuk itu, menyikapi kondisi saat ini juga, sebagaimana diyakini NU juga pernah terjadi sebagai catatan historis bangsa ini. "Pernah juga terjadi hal yang sama, tapi hari ini sepertinya berbeda, agak serius. Kita juga melihat itu," ujarnya.
Ketidak merataan kesejahteraan di berbagai daerah di Indonesia dianggap menjadi salah satu faktor pemicu. Kemudian ada soal kemiskinan. "Yang (jumlah,red) kecil menguasai yang besar. Itu menjadi latarbelakang persoalan pemikiran-pemikiran yang kemudian meragukan kesatuan republik Indonesia. Itu berarti memang, perlu usaha yang maksimum ke depan supaya sejahtera kalau sudah sejahtera mungkin akan lebih sedikit waktu untuk memikirkan hal-hal yang separatif itu. Atau memaksakan kehendak kepada yang lain," katanya. Juga dikatakannya, bahwa kondisi ini merupakan bom waktu yan telah tersimpan sejak puluhan tahun, dan secara kebetulan meledak di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo.
Faktor lain, menurut Bernard, perkembangan teknologi informasi turut menyumbang kondisi saat ini.
Sementara itu, Dr RE Nainggolan MM selaku undangan dalam diskusi mengutip pernyataan Alvin Tofler yang menyebutkan dengan kemajuan teknologi dunia menjadi tidak ada batas. Menjadi tantangan belakangan ini, di satu sisi teknologi khususnya yang berbasis jaringan internet saat ini mendorong pembangunan semakin cepat, namun disisi lain juga menjadi pemecah dan merobek batas yang semakin tajam antara satu dengan yang lainnya.
"Pemberitaan lewat media sosial yang begitu cepat dan menjangkau semua kalangan justru dapat mengakibatkan retaknya kebhinnekaan," ujar RE Nainggolan.
Untuk itulah, lanjut Anggota Wali Amanat USU ini, semua pihak harus turut waspada terhadap ucapan kebencian. Ucapan yang bisa merusak suasana kebhinnekaan, yang sesungguhnya tidak perlu diragukan lagi di tengah-tengah bangsa ini.
Dia mengajak seluruh peserta diskusi bahkan siapa saja untuk bersikap arif dalam menyikapi kondisi saat ini. Jika menemukan ungkapan kebencian di media sosial atau di keseharian jangan langsung terprofokasi dan turut menyebarluaskannya, melainkan meredamnya.
"Kita harus mulai dari pribadi ke pribadi, karena kita tidak bisa memandang sebuah kelomopok dengan pandangan yang sama. Saya sebagai penganut Kristen sangat menghormati bapak Afifuddin Lubis, dan saya yakin demikian sebaliknya, kami sudah sejak lama berteman," ujarnya.
Ia mengisahkan, jika dahulu perbedaan keyakinan, golongan, ras dan yang lainnya tidak menghambat persahabatan satu dengan yang lain. "Bahkan, diacara-acara besar keagamaan, tidak sungkan kita mengajak sahabat yang berbeda agama dengan kita turut dalam kepanitiaan.
Kemudian disampaikan RE Nainggolan mengutip pernyataan Daniel Goleman bahwa kematangan emosional justru lebih memberikan manfaat dibanding kemtangan intelektual. "Hal ini yang perlu kita sampaikan kepada generasi saat ini, bagaimana memahami orang lain dan memotifasi orang lain untuk membangun interaksi yang positif. Dengan demikian akan bisa terbangun kebersamaan," ujarnya.
Sebab, saat ini dikatakan RE Nainggolan, generasi muda lewat GMKI harus mampu menjadi solusi, bukan menjadi bagian dari masalah. "Sebab, orang yang membiarkan kejahatan, ikut serta menyuburkan kejahatan itu sendiri," ujarnya.
Sebelumnya dilakukan pengukuhan Pengurus Daerah Perkumpulan Senior (PNPS) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Sumut oleh Penasehat Yassona H Laoly yang diketuai Drs Murbanto Sinaga MA.
Kata-kata sambutan disampaikan oleh Defhi Masdiana Ujung SH MKom, Freddy Manurung,SH 9Senior Kom FH USU), Dr RE Nainggolan MM (mewakili Undangan), Dr Bernard Nainggolan SH (Ketua Umum PNPS GMKI).(TAp)