Ia menyatakan, akibat peristiwa yang sudah 4 kali terjadi dalam bulan November ini aktivitas keseharian warga Simarlelan menjadi terganggu.
"Saat ini warga tidak bisa lagi kekebun, soalnya ketinggian air mencapai antara 20 centimeter hingga 100 centimeter," ungkapnya.
Ironisnya lagi, pembangunan program Dana Desa termen II melanjutkan tahapan Dana Desa termen I Tahun 2017 berupa rabat beton sepanjang 360 meter lebar 2 meter juga ikut terganggu.
"Warga tidak bisa bekerja, soalnya lokasi rabat beton termen II kerap terendam banjir,"jelasnya.
Ia khawatir target pengerjaan dana desa termen II tidak bisa dikejar tepat waktu mengingat kondisi cuaca sekarang kurang bersahabat. "Sedikit saja datang hujan lokasi bangunan sudah terendam air," ungkapnya.
Sementara itu, kondisi sekitar 80 kepala keluarga yang dihuni mayoritas "Ono Niha" atau suku Nias tersebut sampai saat ini, sebut Nito Waruwu masih bertahan di rumah masing-masing.
"Sebaliknya, warga juga bersiap-siap mengungsi ke lokasi yang lebih aman apabila ketinggian air bertambah," katanya seraya mengimbau warganya agar tetap waspada.(Saut Togi Ritonga)