Lokakarya sehari ini diselenggarakan di Medan pada hari Rabu tanggal 6 September 2017 di Gedung Haji Anif, JL.IAIN, No.1, Medan, melibatkan kurang lebih seratus peserta yang terdiri dari penyuluh agama di lingkungan Kementerian Agama, Guru Agama, perwakilan-perwakilan Lembaga Pemerintah, Lembaga Keagamaan, Akademisi, Organisasi Massa, Lembaga Swadaya Masyarakat, Perwakilan Kaum Muda, dan Lembaga Masyarakat sipil Lainya.
Program ini diselengarakan di 6 kota di Indonesia yaitu Medan, Pontianak, Bandung, Ambon, Manado, dan Ruteng. Keenam kota ini mewakili kekhasan dalam hal demografi penganut agama maupun keragamannya. Dalam penyelengaraan seluruh program ini, ICRS dan British Council senantiasa bekerja sama dengan kantor wilayah kementerian agama, pemerintah daerah dan mitra-mitra lokal lainnya yang dianggap lebih paham soal dinamika setempat.
Acara yang dimulai dari puku 09.00 WIB ini dibuka secara resmi oleh Prof.Dr.H.Amroeni Derajat selaku wakil Rektor UINSU dan diisi oleh 3 pemateri di antaranya Prof.Dr.M.Machasin utusan dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta,Prof.Dr.Bernard Adeney-Risakotta utusan dari Indonesian Counsortium for Religious Studies (ICRS Yogyakarta) dan Prof.Dr.Syarin Harahap, M. Ag. Utusan dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan.
Tujuan penyelengaraan lokakarya adalah memperkuat dan memperkaya kesadaran, nilai-nilai keterbukaan, pengertian, toleransi, dan interaksi di antara komunitas keagamaan. Juga aktivitas ini dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas dan menciptakan ruang belajar bersama pemerintah, akademisi, dan elemen-elemen masyarakat lokal untuk membangun agenda-agenda keadilan sosial, sehingga dapat menjadi penyokong pembaruan kebijakan, dalam rangka menjamin keselarasan hubungan antar manusia.
Tagline Rukun, Ragam, Sepadan merangkum 3 semangat yang menjiwai yaitu harmoni antar beragama, Multikulturalisme, dan keadilan sosial. Lokakarya ini juga memanfaatkan mommentum perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 72 yang diberi tema, "Kerja Bersama" dimana hal itu merupakan dorongan untuk memanfaatkan keberagaman sebagai aset dalam memperkuat persatuan dan membangun bersama menuju bangsa Indonesia yang lebih baik tanpa diskriminasi dan saling menghargai.
Diyakini bahwa indonesia memiliki "DNA" keberagaman yang saat ini perlu diperkuat dan diperkaya. Terjadi pergeseran yang masif ditengah masyarakat dengan wacana transnasional, mulai berkembangnya budaya digital, dan tantangan-tantangan lainnya, karena itu istilah "pengayaan" dalam hal ini adalah upaya untuk senantiasa menjadikan diri relavan dengan perkembangandan dinamika bermasyarakat majemuk dalam konteks kekinian.
Dampak dari program ini diupayakan optimal. Peserta diharapkan mengalami pengayaan wacana, keterbukaan wawasan keragaman, membangun penghargaan akan perbedaan, dan memperkuat kemmauan untuk bersama-sama memilhara kekayaan wacana keagamaan. Seratus orang peserta ini diharapkan dapat menjadi seratus agen perubahan bagi lingkungan tempat mereka bekarya, sehingga memperbesar harapan terwujudnya cita-cita nasional bangsa ini.(*)
Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified