Secara global, Swiss tetap negara terkaya di dunia dalam hal kekayaan per orang dewasa dengan USD537.600 di tahun 2017, diikuti oleh Australia (USD402.600), dan Singapura (USD268.000) di peringkat kesembilan (lihat Tabel 2) di antara negara-negara dengan perekonomian terbesar. Dalam hal kekayaan median, negara-negara dengan level ketidaksetaraan kekayaan lebih rendah terus memiliki kekayaan median per orang dewasa yang lebih tinggi, dengan Swiss (USD229.000) dan Australia (USD195.400) sebagai dua yang tertinggi di dunia, dengan Jepang (USD123.700) di peringkat ketujuh dan Singapura (USD108.900) di peringkat kesembilan.

Tema utama yang dibahas dalam Global Wealth Report 2017 termasuk:
Milenial - generasi yang tidak beruntungAwal yang sulit serta kondisi pasar yang buruk dialami oleh milenial di awal masa dewasa mereka. Hal ini kemungkinan besar akan membatasi peluang milenial untuk meningkatkan kekayaan mereka. Generasi ini tidak hanya terpukul oleh kerugian modal akibat krisis keuangan global, namun juga menghadapi langsung masalah pengangguran yang timbul setelah krisis, meningkatnya ketidaksetaraan pendapatan serta harga properti yang meningkat, peraturan hipotik yang lebih ketat, dan, di beberapa negara, kenaikan utang mahasiswa yang cukup besar. Milenial juga cenderung mendapatkan akses yang lebih sedikit ke dana pensiun daripada para pendahulunya.
Dampak kekayaan dari krisis keuangan global dan isu-isu lain yang dihadapi oleh milenial ditunjukkan oleh, misalnya, fakta data terbaru AS yang menunjukkan kekayaan rata-rata orang berusia 30-39 (USD72.400) pada tahun 2017 adalah 46% di bawah kekayaan pada usia yang sama dengan mereka yang pada tahun 2017 berusia 40-49 (USD134.800).
Data ini mengisyaratkan, milenial berada di posisi awal yang tidak menguntungkan membuat mereka lebih berhati-hati terhadap utang daripada gerenasi sebelumnya. Rasio utang terhadap pendapatan mereka dimulai lebih tinggi daripada kelompok sebelumnya, sebelum menurun karena mereka tampaknya menjadi lebih berhati-hati setelah krisis.
Sebagian milenial telah menjadi makmur meskipun menghadapi kesulitan, seperti tercermin dalam gambaran lebih positif yang diperlihatkan milenial di Tiongkok dan juga sejumlah pasar negara berkembang lainnya. Meskipun jumlahnya masih sangat
kecil, ada juga kenaikan baru-baru ini, secara mutlak, dalam jumlah miliarder muda.
Akan tetapi, prospek global secara keseluruhan untuk milenial adalah mereka tidak hanya akan mengalami tantangan yang lebih besar dalam membangun kekayaan mereka di masa depan, namun juga akan terus menghadapi ketidaksetaraan kekayaan yang lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.
Kecenderungan jumlah jutawanJumlah jutawan secara global telah meningkat sebesar 170% sejak tahun 2000, sementara jumlah individu dengan nilai kekayaan sangat tinggi (UHNWI, orang-orang yang memiliki kekayaan di atas USD50 juta) telah meningkat lima kali lipat, membuat mereka menjadi kelompok pemegang kekayaan yang paling cepat tumbuh sejauh ini. Komposisi segmen jutawan berubah dengan cepat. Pada tahun 2000 sebanyak 98% jutawan terkonsentrasi pada negara-negara berpenghasilan tinggi. Sejak saat itu, telah bertambah 23,9 juta "jutawan baru"; 2,7 juta-12% dari total jutawan baru-di antaranya berasal dari negara berkembang. Transformasi ini bahkan lebih luar biasa di segmen UHWNI. Ekonomi berkembang menyumbang 6% dari segmen ini pada tahun 2000, namun sejak saat itu telah mendatangkan 22% pertumbuhan UHNWI (24.500 orang dewasa). Tiongkok sendiri menambahkan sekitar 17.700 orang dewasa-15% dari UHNWI baru di dunia.
Dari tahun 2016 sampai 2017, jumlah jutawan secara global tumbuh 7% atau 2,3 juta orang menjadi 36 juta orang, dengan pertumbuhan terbesar berasal dari AS, negara-negara Eropa Barat (Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Swedia) dan juga pasar kekayaan utama dan negara maju di Asia. Di wilayah tersebut, jumlah jutawan Australia bertambah 202.000 orang menjadi 1,2 juta orang, jutawan Tiongkok bertambah 138.000 menjadi dua juta orang, dan jutawan Taiwan bertambah 58.000 orang menjadi 381.000 orang. Sementara jumlah jutawan di Asia Pasifik tumbuh 3% pada tahun 2017, di tingkat atas piramida kekayaan, di wilayah ini terjadi pertumbuhan tercepat secara global dari segi jumlah UHNWI (pertumbuhan 18% menjadi 37.420) dan miliarder (24% menjadi 910) pada pertengahan tahun 2017.
Prospek kekayaan untuk lima tahun ke depan
Menurut laporan tersebut, kekayaan global akan terus tumbuh pada laju yang sama dengan lima tahun terakhir di 3,9% menjadi Rp341 triliun pada tahun 2022, meskipun lajunya lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya, yaitu 5,4%. Negara ekonomi berkembang diperkirakan akan menghasilkan kekayaan yang lebih cepat dari negara-negara maju namun lebih lambat dari perkiraan sebelumnya, dan kemungkinan akan mencapai 22% pangsa kekayaan global pada tahun 2022. Tidak mengherankan bahwa kontribusi terkuat diharapkan dari Tiongkok, diperkirakan sekitar Rp10 triliun atau peningkatan sebesar 33%.
Kekayaan non-finansial akan sedikit melampaui kekayaan finansial sekitar 1% tahun dalam lima tahun ke depan. Kredit juga diharapkan tumbuh lebih cepat daripada kekayaan finansial dan non-finansial di tahun-tahun mendatang setelah periode stabilitas di antara tahun 2007 dan 2010. Utang rumah tangga diperkirakan akan meningkat sebesar 37% dalam lima tahun ke depan menjadi 15% dari aset kotor.
Prospek segmen jutawan terlihat optimis dan diperkirakan akan meningkat sebesar 22% (4% per tahun) dari 36 juta orang saat ini menjadi 44 juta di tahun 2022; di dalamnya, segmen UHNWI cenderung meningkat sebesar 30% (5,5% per tahun) atau 45.000 menjadi 193.000 orang dalam lima tahun.
Kekayaan di Asia Pasifik diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,3% per tahun atau 29% sehingga mencapai USD115 triliun pada tahun 2022, dengan pertumbuhan tercepat berasal dari negara-negara berkembang seperti India (7,5% per tahun), Indonesia (8,7% per tahun), dan Filipina (9,4% per tahun). Di Asia Pasifik, jumlah jutawan diperkirakan akan meningkat sebesar 7,2% per tahun menjadi 11,7 juta pada tahun 2022, sementara segmen UHNW diperkirakan akan bertambah sekitar 52.000 orang dengan laju 6,8% per tahun.(*)