Analisis: Peluang Harga BBM Turun Pasca Kesepakatan AS-Iran, Bagaimana Dampaknya bagi Indonesia?

Administrator Administrator
Analisis: Peluang Harga BBM Turun Pasca Kesepakatan AS-Iran, Bagaimana Dampaknya bagi Indonesia?
Int | Pelita Batak

KESEPAKATAN awal antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka jalan bagi normalisasi pelayaran di Selat Hormuz telah mendorong harga minyak dunia turun cukup tajam. Brent yang sempat menembus US$126 per barel saat konflik memuncak kini kembali berada di bawah US$80 per barel, bahkan sejumlah lembaga memperkirakan dapat turun menuju kisaran US$60-65 per barel jika perdamaian berlanjut.

Peluang Penurunan Harga BBM di Indonesia

Secara teori, turunnya harga minyak mentah dunia akan menurunkan biaya impor minyak dan bahan bakar Indonesia. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz akan membawa penyesuaian harga energi, namun pemerintah masih menunggu implementasi nyata dari kesepakatan AS-Iran sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

Dengan kondisi tersebut, peluang penurunan harga BBM non-subsidi terbuka, terutama jika harga minyak dunia mampu bertahan di bawah US$80 per barel dalam beberapa bulan ke depan. Namun penyesuaian harga di dalam negeri biasanya tidak berlangsung secara otomatis karena dipengaruhi nilai tukar rupiah, biaya distribusi, dan kebijakan fiskal pemerintah.

Kebijakan Pemerintah: Stabilitas Lebih Utama

Pemerintah Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah menegaskan bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan dinaikkan hingga akhir 2026. Kebijakan ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional. Saat ini rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) masih berada di bawah asumsi APBN sehingga ruang fiskal dianggap masih memadai.

Karena itu, jika harga minyak dunia terus melemah, pemerintah memiliki tiga pilihan:

1. Mempertahankan harga BBM saat ini, sehingga subsidi energi dapat dihemat.

2. Menurunkan harga BBM non-subsidi secara bertahap, terutama jenis Pertamax dan solar industri.

3. Mengalihkan sebagian penghematan anggaran untuk program prioritas lain, seperti hilirisasi, pangan, dan energi.

Kaitan dengan Strategi Energi Nasional

Presiden Prabowo sebelumnya menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM dan mendorong kemandirian energi nasional. Pemerintah mempercepat pengembangan biodiesel berbasis sawit, hilirisasi energi, investasi kilang, serta pengembangan energi alternatif dan kendaraan listrik.

Selain itu, Indonesia juga memperkuat kerja sama energi dengan Amerika Serikat dan negara lainnya guna menjamin pasokan energi jangka panjang.

Prospek ke Depan

Jika perdamaian AS-Iran benar-benar berlanjut dan Selat Hormuz kembali beroperasi normal, harga minyak dunia berpotensi tetap rendah. Kondisi ini akan menguntungkan Indonesia yang masih mengimpor sekitar satu juta barel minyak per hari. Namun pemerintah tampaknya tidak akan terburu-buru menurunkan harga BBM, melainkan lebih memilih menjaga stabilitas pasokan dan memanfaatkan momentum harga minyak rendah untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Dengan demikian, peluang harga BBM turun memang terbuka, terutama untuk BBM non-subsidi. Namun arah kebijakan energi pemerintahan Prabowo menunjukkan bahwa stabilitas harga dan pengurangan ketergantungan impor masih menjadi prioritas utama dibanding sekadar mengikuti fluktuasi harga minyak dunia.(*)

Komentar
Berita Terkini