Medan (Pelita Batak):
Pendidikan Kristen tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang unggul secara intelektual dan sukses dalam karier. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu membentuk karakter, memperkuat iman, serta mempersiapkan generasi muda menjadi pribadi yang baik dalam keluarga dan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Dewan Penasihat MPKW Sumatera Utara-Aceh, Pdt. R. Bambang Jonan, dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II Majelis Pendidikan Kristen Wilayah Sumatera Utara-Aceh di Aula Kantor Distrik X HKBP Medan-Aceh, Jumat (6/11/2026).

Dalam sambutannya, Bambang Jonan menegaskan bahwa pendidikan Kristen harus memiliki orientasi yang lebih luas daripada sekadar mencetak pemimpin besar (great leader). Sekolah Kristen juga harus mempersiapkan generasi yang kelak mampu menjadi orang tua yang baik (good father).
"Kita tidak hanya ingin melahirkan a great leader, tetapi juga a good father," tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan seseorang dalam karier, pelayanan gereja, maupun kepemimpinan organisasi tidak otomatis menjamin keberhasilannya dalam membangun keluarga.
Ia kemudian mengangkat kisah Musa dan Nabi Samuel sebagai refleksi bagi para pendidik dan orang tua. Musa dikenal sebagai pemimpin besar bangsa Israel, sementara Samuel berhasil mengantarkan bangsa Israel melewati masa peralihan dari zaman hakim-hakim menuju kerajaan. Namun, Alkitab juga mencatat persoalan yang terjadi dalam kehidupan anak-anak mereka.
Bambang Jonan mengingatkan bahwa kesibukan dalam pekerjaan, pelayanan, dan tanggung jawab kepemimpinan tidak boleh membuat orang tua kehilangan waktu untuk mendidik anak-anak.
Ia mengutip Ulangan 6:6-8 yang menekankan pentingnya mengajarkan firman Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak, baik ketika berada di rumah, dalam perjalanan, saat berbaring maupun ketika bangun.
Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter dan iman tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi harus dimulai dari keluarga.
Knowledge Tidak Sama dengan Wisdom
Dalam kesempatan itu, Bambang Jonan juga menyoroti perbedaan antara knowledge (pengetahuan) dan wisdom (kebijaksanaan).
Ia menjelaskan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan formal, perguruan tinggi, perpustakaan, guru, dosen, bahkan melalui perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Namun, kebijaksanaan tidak dapat disamakan dengan pengetahuan.
"AI memiliki pengetahuan dan dapat memberikan berbagai informasi, tetapi wisdom atau kebijaksanaan bukan sekadar pengetahuan," jelasnya.
Menurutnya, kebijaksanaan berkaitan dengan kemampuan memahami persoalan secara mendalam serta membedakan mana yang baik dan jahat, benar dan salah. Kebijaksanaan sejati merupakan karunia Tuhan yang harus dicari melalui doa dan hubungan yang benar dengan-Nya.
Karena itu, ia mengajak seluruh pengelola yayasan dan sekolah Kristen untuk tidak hanya mengejar prestasi akademis, tetapi juga menghidupkan kembali gerakan doa di lingkungan sekolah.
Dorong Gerakan Doa di Sekolah Kristen
Bambang Jonan membagikan pengalamannya ketika memulai gerakan doa bagi anak-anak muda di Kota Medan sekitar 34 tahun lalu.
Saat itu, ia memobilisasi anak-anak muda untuk berdoa pada waktu istirahat sekolah. Mereka diajak mendoakan teman-teman sekelas, termasuk siswa yang dikenal paling nakal.
Menurutnya, gerakan sederhana tersebut membawa perubahan dalam kehidupan anak-anak muda dan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan pelayanan gereja yang digembalakannya.
Ia percaya bahwa doa memiliki peran penting dalam membangun kehidupan rohani dan karakter generasi muda.
"Kita tidak hanya ingin membangkitkan satu generasi yang memiliki IQ tinggi dan kemampuan luar biasa, tetapi juga generasi yang dipenuhi karakter dan takut akan Tuhan," ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pesan Wakil Gubernur Sumatera Utara dalam kegiatan tersebut mengenai pentingnya pembangunan karakter dalam mempersiapkan generasi masa depan.
"Sudah waktunya wajah Medan itu berubah," katanya.
Bambang Jonan berharap sekolah-sekolah Kristen dapat menjadi tempat pembentukan manusia seutuhnya, bukan hanya tempat mentransfer ilmu pengetahuan. Sekolah harus menjadi ruang untuk membangun iman, membentuk karakter, menanamkan kebijaksanaan, dan mempersiapkan generasi yang menjadi berkat bagi keluarga, gereja, masyarakat, bangsa, dan negara.
Melayani Lebih Luas Setelah 34 Tahun Menggembalakan Jemaat
Dalam sambutannya, Bambang Jonan juga mengungkapkan perjalanan pelayanannya selama 34 tahun sebagai gembala sidang, yang menurutnya telah berkembang dari satu gereja hingga menjadi ratusan gereja.
Memasuki usia 60 tahun, ia sebenarnya telah memutuskan untuk melepaskan berbagai jabatan organisasi, baik di dalam maupun luar negeri, agar dapat lebih banyak memberikan perhatian kepada keluarga dan membesarkan anak-anaknya.
Namun, panggilan untuk mengambil bagian dalam pelayanan MPKW membuatnya kembali mempertimbangkan tanggung jawab tersebut.
Ia memandang keterlibatannya dalam MPKW bukan sebagai sebuah kebetulan, melainkan bagian dari panggilan untuk turut mempersiapkan generasi masa depan melalui pendidikan Kristen.
Melalui Rakerwil II MPKW Sumut-Aceh, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan Kristen untuk memperkuat kolaborasi antara keluarga, gereja, yayasan, dan sekolah.
Baginya, keberhasilan pendidikan Kristen pada akhirnya tidak hanya diukur dari banyaknya lulusan berprestasi, tetapi juga dari lahirnya generasi yang memiliki iman, kebijaksanaan, karakter, serta mampu membangun keluarga dan menjadi berkat bagi sesama.
Rakerwil II MPKW Sumut-Aceh tersebut dibuka oleh Wakil Gubernur Sumatera Utara H. Surya dan dihadiri sejumlah pejabat pemerintah, tokoh gereja, pengurus MPKW, serta perwakilan yayasan pendidikan Kristen dari Sumatera Utara dan Aceh.
Undangan yang hadir dalam Rakerwil II: H. Surya, Wakil Gubernur Sumatera Utara. H. Ahmad Qosbi, Kepala Kanwil Kementerian Agama Sumatera Utara. Dr. Agustinus Panjaitan, Kepala BPSDM Sumatera Utara.Terang Dewi Susantri Ujung, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumatera Utara. Asisten Kesejahteraan Rakyat Pemprov Sumatera Utara. Pdt. Suwandi Sinambela, Praeses HKBP Distrik X Medan-Aceh. Dr. RE Nainggolan, MM, Ketua MPKW Sumut-Aceh. Pdt. R. Bambang Jonan, Ketua Dewan Penasihat MPKW Sumut-Aceh. Hadi Sirawan, Ketua MPK Indonesia (menyampaikan arahan program melalui sambungan jarak jauh). Pengurus MPKW Sumut-Aceh. Pengurus yayasan dan sekolah-sekolah Kristen dari Sumatera Utara dan Aceh.(*)