Medan (Pelita Batak):
Berdasarkan laman resmi Dinas Komunikasi dan Informasi Sumatera Utara, setidaknya hingga kuartal pertama 2020, terdapat sekitar 2,8 juta UMKM di Sumatera Utara yang mampu memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Tentu, hal tersebut tak lepas dari peran penting pemerintah dalam meningkatkan daya saing lewat berbagai program yang dicanangkan. Mulai dari pelatihan kewirausahaan, inkubator bisnis, hingga adanya dukungan pembiayaan usaha melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Namun, tak dapat dimungkiri pula apabila pandemi COVID-19 yang melanda cukup memberikan tantangan bagi para pemilik usaha. Beberapa permasalahan yang harus dihadapi di antara lain penurunan omzet lantaran berkurangnya permintaan pelanggan, hingga kesulitan mencari bahan baku yang nyatanya mengganggu proses produksi dan distribusi.
Sejalan dengan insight yang diperoleh dari Data Internal Moka, tercatat bahwa pada periode Maret hingga Juni 2020, industri F&B, Ritel, dan Servis di Sumatera Utara mengalami penurunan pendapatan masing-masing sebesar 46%, 53%, dan 54%.
Dalam hal ini, ritel menjadi industri yang paling tidak terdampak karena selama masa pandemi, rata-rata pengeluaran konsumen meningkat hingga 3x lipat, meski jumlah transaksinya menurun dibandingkan periode sebelumnya.
Sementara itu, transaksi dine-in dan offline industri F&B mengalami penurunan hingga 61%, yang mana hal tersebut dilatarbelakangi oleh adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun yang menarik, setidaknya ada 36% UMKM dengan pemulihan pendapatan terbaik yang mengoptimalkan pengelolaan inventaris. Apa yang dapat dilakukan pemilik usaha dengan adanya pengelolaan inventaris ini?
Ya, para pemilik usaha dapat mengoptimalkan pasok rantai (supply chain) bisnis mereka. Pembelian bahan baku yang tidak perlu dapat dihindari dengan menganalisis penjualan produk. Dengan mengamati hal tersebut, pembelian kebutuhan bisa direncanakan dengan baik sehingga lebih efisien dan tidak ada cerita bahan baku kosong. Efisiensi yang optimal bisa dicapai lebih mudah dengan memanfaatkan layanan dari Moka, yakni Inventory Management. Layanan ini membantu mencatat, memantau, hingga mengevaluasi semua stok bahan baku yang keluar dan masuk sehingga ketersediaannya dapat terjamin. Apabila stok sudah mau habis, pemilik usaha akan mendapatkan notifikasi atau pengingat untuk restock sehingga kebutuhan pelanggan pun akan tetap terpenuhi.
Lebih dari itu, layanan ini bisa menyimpan database supplier langganan Anda dan memantau status order Anda pada supplier.
Selain pengelolaan inventaris yang optimal, para pemilik usaha pun juga dapat melakukan upaya berikut agar bisnis tetap maksimal.
Mengutamakan transaksi online
Beralih ke penjualan online merupakan cara beradaptasi paling strategis. Ketika masyarakat diimbau untuk tetap berada di rumah, pelanggan pun lebih memilih melakukan segala transaksi secara online. Misalnya, ketika ingin membeli makanan, pelanggan hanya perlu memesan lewat aplikasi pemesanan secara online, melakukan pembayaran secara digital, dan menunggu hingga pesanan diantarkan.
Untuk itu, pastikan usaha yang dijalankan sudah menerapkan pembayaran digital, seperti e-wallet atau kartu debit dan kredit. Selain memudahkan pelanggan, pemilik usaha pun tak lagi perlu menghitung transaksi penjualan secara manual.
Menjaga loyalitas pelanggan
Lembaga riset Kantar mengungkapkan, sebanyak 52% masyarakat ingin para pemilik usaha menginformasikan upaya apa saja yang dilakukan selama masa krisis, guna meningkatkan kepercayaan bahwa suatu usaha tetap dapat memenuhi kebutuhan pelanggan. Hal ini pun dapat dilakukan demi meningkatkan loyalitas pelanggan.
Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan tool Customer Relationship Management (CRM), email, dan media sosial sebagai sarana komunikasi efektif, atau dengan memberikan diskon cashback khusus bagi para pelanggan setia.
Jaga cash flow usaha
Hal krusial lain yang perlu mendapat perhatian lebih selama masa pandemi ialah menjaga agar cash flow tetap lancar, sementara profit usaha dapat dinomorduakan. Selain memisahkan antara tabungan bisnis dan pribadi, pemilik usaha dapat mencatat setiap laporan dengan rapi sehingga transaksi keluar-masuk kas dapat lebih mudah untuk ditelusuri dan dianalisis. Siapkan pula dana darurat setidaknya sejumlah 3x omzet usaha dalam sebulan.
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, harapannya akan ada semakin banyak pemilik usaha di Sumatera Utara yang dapat terbantu dan dapat mempersiapkan usaha dengan lebih baik di era kenormalan baru ini. Sebab, pemilik usaha yang sukses bukanlah yang mampu meraih banyak keuntungan, melainkan yang mampu bertahan dalam kondisi apapun, sembari mantap melangkah maju dengan pasti.(*)