Medan (Pelita Batak):
Pdt. Dr. Anna Ch. Vera Pangaribuan, hari ini meluncurkan buku tulisannya berupa Kumpulan Khotbah berjudul: BENIH YANG BERBUAH.
Yang menarik dalam uraiannya, adalah kritik sebagai seorang Pendeta yaitu tentang pemimpin yang menghamba, sebagaimana yang diperbuat Yesus datang ke dunia untuk melayani. Tetapi dalam prakteknya para pelayan di jemaat sering sebaliknya. Disebutkan, dalam bahasa Batak, pelayan disebut dengan “parhobas”.
Dalam kegiatan adat-istiadat Batak, pasti selalu ada yang namanya “parhobas”. Kerjanya adalah mempersiapkan makanan dan segala sesuatunya untuk hasuhuton (tuan rumah) dan juga untuk khalayak ramai dan segala yang dibutuhkan pada kegiatan itu.
Gereja-gereja Batak juga memakai kata “parhobas” terhadap para majelis dan pelayan di tengah-tengah jemaat. Ada anggapan, bahwa melayani orang lain seperti parhobas, merupakan pekerjaan yang derajatnya rendah. Itulah sebabnya dalam budaya Batak, kedudukan boru adalah pelayan bagi hula-hula-nya.
Gambaran demikian seharusnya terwujud di dalam pelayanan di Jemaat, dimana pelayan jemaat memiliki kedudukan sebagai hamba yang rendah hati melayani Kristus dan Jemaat-Nya.
Namun apa yang terjadi? Yang dijawab sendiri oleh Pdt. Ny. Mangaliat Simarmata Boru Pangaribuan ini, ada pelayan jemaat yang mementingkan dirinya bahkan melayani dengan sekehendaknya sendiri. Bahkan “Sai naeng guru dokna do na saut”, artinya dia tidak mau mendengar dan memperhatikan suara dari para jemaatnya sebagai masukan yang positif dan berarti untuk menunjang pelayanannya.
Padahal, pelayan Tuhan haruslah sebagai Hamba yang tulus dan setia melakukan apa yang diperintahkan tuannya, bukan semena-mena memerintah. Hamba yang setia dan tulus adalah melayani seturut dengan kehendak Tuhan Yesus, Sang Kepala Gereja itu.
Dr. Anna selanjutnya mengutip ucapan Tuhan Yesus yang petunjuk bagi para murid-Nya, dengan berkata: “…Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” Artinya, menjadi seorang yang besar dan terhormat dalam Kerajaan Allah harus mau menjadi pelayan (hamba) bagi sesamanya. Dan, setiap orang yang tulus dan setia menjadi pelayan bagi sesamanya pasti akan ada banyak orang yang mengingat dan mengasihinya dengan setulus hati.
Bahkan namanya akan dikenang; tak akan dilupakan hingga akhir hayat.
Bukan Benda Mati
di Bab lain Dr. Anna Pangaribuan juga mengkritisi perdagangan manusia. Manusia adalah mahkota yang tertinggi dan dia memiliki tubuh, roh dan jiwa. Berbeda dengan benda - benda lainnya. Benda-benda lain bisa dibeli sesuai dengan selera pembeli. Dari harga yang murah sampai termahal. Asalkan ada uang maka segala sesuatu bisa dibeli.
Manusia itu sudah ditebus oleh darah Kristus, sehingga manusia itu sangat berharga. Tadinya manusia telah berdosa sebagai manusia yang lama namun sekarang menjadi manusia yang baru sudah disucikan oleh darah Kristus. Manusia telah diberikan Tuhan suatu anugerah cuma-cuma yakni keselamatan yang kekal. Oleh karena itu, tidak semestinya manusia melakukan tindakan memperjualbelikan sesamanya untuk hawa nafsu duniawi.
Barangsiapa melakukan hal itu maka manusia sudah kehilangan kemahkotaannya sendiri. Manusia hanya dikuasai keinginan daging dapat melakukan apa saja seperti si Yudas.
Bentuk-bentuk tindakan jual beli dewasa ini seperti menipu, menjatuhkan nama orang lain supaya meninggikan diri, perdagangan anak & perempuan. Sekarang ini maraknya manusia melakukan sekehendak hatinya dengan memperlakukan orang lain seperti budaknya, tanpa menjaga perasaan orang lain.
Tindakan - tindakan demikian hendaklah jauh dari kehidupan kita yang telah memperoleh kehidupan kekal.
Sebagai sesama manusia yang telah ditebus oleh Yesus Kristus maka hidup saling menjaga, melindungi, menghargai, menghormati, demikian antara lain Dr. Anna Pangaribuan.
Buku tersebut yang diluncurkan pada saat Sinode Godang ke-65 HKBP secra Zoom hari ini 9 Desember 2020 dan penerbitan buku ini juga sebagai ucapan syukur penlis dalam rangka hari ulang tahunnya ke-54 yang jatuh pada 16 November 2020 lalu.
Setebal 169 halaman terdiri dari 13 Bab dengan 57 topik. Ke 13 Bab itu diberi judul masing-masing: Adven (Persiapkan jalan untuk Tuhan), Natal, Ciptaan dan lingkungan hidup, Pengakuan Iman, Kuasa Roh, Keluarga Kristen, Hidup dalam Tuhan, Keselamatan Dalam Tuhan, Ucapan syukur, Hidup Suci, Hidup menjadi berkat, Kasih Tuhan, Hidup menjadi terang. (Oputri)