Ketika Kritik Dianggap Ancaman, Saat Itulah Negara Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Oleh : Adol Frian Rumaijumk,STP.,MMA
Administrator Administrator
Ketika Kritik Dianggap Ancaman, Saat Itulah Negara Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Ist | Pelita Batak

DI tengah derasnya berbagai program besar pemerintah yang diklaim demi rakyat, masyarakat justru semakin sering dipertontonkan pada kenyataan yang menyakitkan: korupsi yang terstruktur, pungutan yang dianggap biasa, proyek yang sarat kepentingan, dan kekuasaan yang semakin sulit disentuh kritik.

Rakyat tentu tidak anti terhadap program sosial. Tidak ada yang menolak anak-anak mendapat makanan bergizi. Tidak ada yang menolak koperasi berkembang. Tidak ada yang ingin negara gagal. Namun persoalannya bukan lagi pada slogan program, melainkan pada bagaimana program itu dijalankan.

Apa gunanya program “untuk rakyat” jika di lapangan justru melahirkan rantai setoran, komisi, dan permainan proyek?

Hari ini kita menghadapi situasi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar korupsi individu. Yang mulai terlihat adalah terbentuknya sistem. Sistem yang membuat banyak orang akhirnya merasa bahwa untuk bertahan, mereka harus ikut bermain. Sistem yang memaksa pelaksana proyek memberi upeti. Sistem yang menjadikan kedekatan kekuasaan lebih penting daripada kemampuan dan integritas.

Dan ketika sistem seperti ini mulai dianggap normal, di situlah ancaman sebenarnya terhadap masa depan bangsa dimulai.

Korupsi bukan hanya soal uang negara hilang. Korupsi menghancurkan moral bangsa sedikit demi sedikit. Ia membuat generasi muda kehilangan teladan. Ia mengajarkan bahwa kejujuran adalah kelemahan, sementara kelicikan adalah jalan sukses. Ia membunuh semangat orang baik untuk ikut membangun negeri.

Lebih berbahaya lagi ketika kritik mulai dianggap sebagai gangguan.

Padahal dalam negara demokrasi, kritik bukan musuh pemerintah. Kritik adalah alarm keselamatan negara. Rakyat yang diam terhadap penyimpangan bukan tanda negara stabil, tetapi bisa jadi tanda masyarakat sudah putus asa.

Pemerintah harus menyadari bahwa kepercayaan publik tidak dibangun melalui pencitraan, baliho, atau slogan besar. Kepercayaan lahir ketika rakyat melihat adanya keadilan, keterbukaan, dan keberanian membersihkan penyimpangan-even jika itu melibatkan orang dekat kekuasaan sendiri.

Jika tidak, maka program sebesar apa pun hanya akan menjadi proyek mahal yang kehilangan makna.

Kita juga perlu jujur bahwa kondisi ekonomi hari ini tidak sedang baik-baik saja. Harga kebutuhan hidup meningkat, lapangan kerja semakin sulit, daya beli melemah, dan nilai rupiah terus menghadapi tekanan. Dalam situasi seperti ini, rakyat semakin sensitif melihat pemborosan dan praktik rente di sekitar kekuasaan.

Karena rakyat tahu: setiap rupiah yang dikorupsi pada akhirnya dibayar oleh masyarakat sendiri.

Oleh sebab itu, masyarakat tidak boleh takut untuk kembali kritis. Demokrasi tidak akan sehat jika rakyat hanya diminta memuji. Negara ini dibangun bukan untuk melayani elite, melainkan untuk menjamin masa depan seluruh rakyat Indonesia.

Mengkritik pemerintah bukan berarti membenci negara. Justru diam terhadap kerusakanlah yang bisa menghancurkan negara.

Kritik yang jujur, argumentatif, dan berlandaskan kepentingan bangsa adalah bentuk cinta terhadap Indonesia.

Sudah saatnya masyarakat kembali berani bertanya:

- Ke mana uang negara mengalir?

- Siapa yang menikmati proyek-proyek besar?

- Mengapa rakyat terus diminta berhemat sementara korupsi terasa semakin terang-terangan?

- Mengapa hukum sering tampak tajam kepada rakyat kecil tetapi melemah di hadapan kekuasaan?

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini tidak kekurangan sumber daya. Yang sedang diuji hari ini adalah keberanian moral: keberanian pemerintah untuk berbenah, dan keberanian rakyat untuk tetap peduli.

Sebab sejarah mengajarkan satu hal penting: Negara tidak hancur dalam satu malam. Ia hancur ketika masyarakatnya mulai takut berkata benar, dan ketika kekuasaan merasa tidak lagi perlu mendengar suara rakyat.(*)

Komentar
Berita Terkini