"Kaitan dengan BODT, saya tidak mencampuri dalamnya mereka. Tentu ada dinamika sebagai lembaga yang baru. Kita belum pernah berdiskusi dengan beliau (Arie Prasetyo sebagai Direktur Utama BOPKPDT-Red). Kita tidak pernah terlibat atau dilibatkan. Saya lihat dari beberapa pertemuan, Arie sepertinya think thank atau dipercaya untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Jadi kami tidak berniat bertemu dengan beliau," tutur Riza di Jakarta, sebagaimana dikutip dari rmol.co, Selasa 13 Desember 2016.
Dalam diskusi itu, pria kelahiran Tanjung Balai, Sumatera Utara, 17 Oktober 1980 yang kini juga masih menjadi Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) itu menjelaskan, seharusnya keterlibatan riil Masyarakat Kawasan Danau Toba dalam mengurusi Badan Otorita itu harus dilaksanakan.
Selain sudah merupakan komitmen Presiden Jokowi, partisipasi langsung masyarakat adalah wujud dari kedaulatan masyarakat untuk mengelola Tanah Leluhurnya sendiri.
Riza Damanik menyampaikan, untuk pembangunan Kawasan Danau Toba, unsur-unsur utama masyarakat seperti elemen Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan Katolik yang dominan di sana harusnya ikut terlibat langsung.
"Rupanya mereka tidak dilibatkan juga ke sana. Dan ini berita tidak bagus. Secara gamblang, kita ingin menyampaikan lembaga (BPODT)-ini dibentuk tidak transparan dan tidak baik," ujar dia.
Selain itu, Damanik mengusulkan, kaitan dengan pengelolaan dan pengembangan Kawasan Danau Toba, keterlibatan dan partisipasi Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) pun sejak awal sudah melakukan hal-hal nyata.
"Karena YPDT sudah membuat studi, saya usul agar YPDT bisa mempresentasikan itu di Kantor KSP. Usulan saya adalah bahwa ada kritik adalah iya, itu tetap perlu disampaikan dengan tepat. Tetapi disaat lain adalah bisa menyampaikan secara imaginatif, dan imaginasinya itu apa? Karena kita akan ketemu kantor think thank-nya presiden. Sehingga kita bisa memberikan masukan juga," tandasnya.(R2/
rmol.co)
Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified