Umpasa Dan Umpama Harus Bermakna

Oleh : Bachtiar Sitanggang
Administrator Administrator
Umpasa Dan Umpama Harus Bermakna
IST|Pelita Batak

UMPASA dan Umpama adalah bagian dari budaya Batak Toba, yang sering dikemukakan dalam setiap upacara Adat baik duka maupun suka, bahkan untuk anak dalam kandunganpun sudah disampaikan umpasa maupun umpama.

Pendeta Roy Anrey Hasudungan, S.Th., mengemukakan itu sebagai nara sumber dalam Webinar yang diselenggarakan FGD Batakologi Sabtu malam (19/2) dengan moderator Pdt. Dr. Riris Johanna Siagian, dengan diikuti pegiat dan penggemar Budaya Batak.

Pdt. Roy Siregar dengan skripsi mengenai Umpasa dan Umpama ini menyatakan berdasarkan penelitiannya di Kawasan Danau Toba, menyimpulkan bahwa “Umpasa merupakan sebuah gagasan yang berisi pandangan hidup yang berisi permohonan, cita-cita, berkat dan perlindungan dari Tuhan”. Disampaikan dalam acara adat spontan terdengar dari masyarakat yang hadir dalam acara tersebut berkata “ima tutu”, walau tidak seluruhnya umpasa memerlukan respon.

Karena Umpasa dianggap penting bagi kehidupan orang Batak dalam acara adat, secara khusus dalam membicarakan sesuatu (marhata na denggan). Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan pada prinsip mempedomani filosofi yang terkandung dalam penyampaian umpasa maupun umpama tersebut. Sementara Umpama adalah peribahasa (pepatah, perumpamaan, bidal maupun ibarat) atau “merupakan sesuatu yang dapat diistilahkan untuk mengambil suatu nilai atau gagasan”.

Dari bentuk, umpasa bersifat dinamis sedangkan umpama bersifat statis. Oleh karenanya, ”marumpama” situasi di mana seseorang mengkomunikasikan sebuah gambaran/perumpamaan dalam bertutur tentang perumpamaan dalam kehidupan Batak menggambarkan sesuatu yang sangat fundamental menyangkut sikap, kewaspadaan dan perilaku. Bahkan umpama itu sebagai ungkapan yang berisikan hikmat, etika kesopanan, undang-undang dan kemasyarakatan.

Pendeta Roy yang sedang melayani di Raja Ampat Papua Barat itu menguraikan bahwa Umpasa itu berisikan harapan dan Doa, dan itulah yang disambut hadirin “ Ima Tutu” yang disampaikan pada acara kelahiran, pernikahan, kematian, memasuki rumah baru, seperti: “Eme sitambatua parlinggoman ni siborok (sampiran) Debata na martua, horas ma hita saluhut diparorot (isi)”.

Sedang Umpasa yang tidak memerlukan respon “ima tutu” yaitu yang merupakan penyataan kesadaran dan pengakuan, misalnya: “Baris-baris ni gaja di rura pangaloan (s) Molo marsuru raja dae molo so ni oloan (i)”.

Umpasa sebagai Hukum Adat, misalnya: “Hot pe jabu i tong do i margulang-gulang (s) Boru ni ise pe dialap bere i tong do i boru ni tulang (i)”.

Yang berupa nasihat atau petuah, misalnya: “Ijuk di para-para hotang di parlabian (s) Nabisuk nampuna hata na oto tongka tu panggadisan (i)”.

Dia memberikan perbandingan dengan Umpama atau “Tudosan” yaitu yang berisi perbandingan, ibarat antara sesuatu dan yang ada di sekitarnya, seperti “Songon na so mida asom”. Ada juga berupa “Ende-ende” (dinyanyikan) misalnya: “Bungkulan na di ginjang parasaran ni borong-borong, Bulan na di ginjang pardomuan ni simalolong”.

Umpama yang berisi kebijakan, kemuliaan, perihal adat, hukum dan peraturan ditemukan misalnya: “Ndang tarsongsong mata ni ari binsar”; “Durung do boru tomburan hula-hula”.

Umpama sebagai nasihat atau petuah misalnya: “Agoan asu do halak na hurang dena”. Sementara Umpama yang menggambarkan perangai manusia, menurut alumni STT HKBP Nommensen itu, misalnya: “Ndang di au ndang di ho tagonan di begu”; sedang Umpama berisi sindiran adalah : “Jolo ni dilat bibir asa nidok hata”.

Ada juga Umpama tentang Keyakinan dan Kepercayaan yaitu: ”Songon na mandanggurhon batu tu dolok do mangalehon tu hula-hula”; “Na tinaba ni tangke martumbur, na tinaba ni gana ripur”.

Menurutnya, penyampaian Umpasa dan Umpama itu memiliki hakekat, “ai marhata na denggan do na marumpasa jala na pauliulihon do na marumpama”, artinya adalah menyatakan yang baik menggunakan umpasa dan memperbaikilah penggunaan umpama.

Jika ada suatu kesalahan tentu orang Batak akan mempedomani umpama “litok aek di jae, tingkiron tu julu” tentu jika hal ini dipelihara sampai sekarang kita akan berhasil memanajemen konflik sehingga tidak berkepanjangan.

Namun kenyataan sekarang ini “prasangka lebih sering menjadi kesimpulan”. Umpasa dan Umpama menjadi media komunikasi intrapersonal serta interpersonal. Hakekat penyampaian umpasa dan umpama selalu diturunkan dari atas ke bawah (hulahula kepada boru, orang tua kepada anak, abang kepada adik). Hal ini menunjukkan bahwa proses interaksi dalam kekerabatan Batak akan lebih mengena apabila diturunkan secara vertikal.

Umpasa dan umpama dapat dilukiskan sebagai symbolic sistem yang berhubungan langsung dengan individu yang secara konseptual dipahami dengan istilah konceptual system dan pada akhirnya menjadi cultural system.

Umpasa dan umpama menjadi kajian hikmat yang mampu diperhadapkan dengan pergumulan hidup dalam kenyataan rasional saat ini. Posisi umpasa dan umpama menjadi bagian tradisi intelektual sebagai kebijaksanaan praktis yang dimiliki dan dihidupi oleh masyarakat Batak.

Dalam penggunaan Umpasa yang berupa aspek Doa dalam acara kelahiran dia jelaskan termasuk proses acaranya agar anak menjadi anak yang sehat dan baik demikian juga orangtuanya diberkati Tuhan untuk membesarkan si anak. Contoh Umpasa yang disampaikan : “Dangka ni hariara pinangaitaithon, sai simbur ma ibana magodang, tongka panahitnahiton; kepada orangtuanya “Urat ni nangka tu urat ni hotang, sai tudia pe hamu mangalangka sai disi ma hamu dapotan pansamotan”.

Khusus untuk acara Perkawinan dengan Adat Nagok, diawali dengan proses panjang sering dikemukakan umpasa: “sititi ma sigompa golang-golang pangarahutna, otik so sadia na pinatupa, sai godang ma pinasuna.”; ”Tartallik ninna huling-huling, tarida holi-holi, molo di sianggian ulaon, hahadoli ma panamboli.”

Dalam acara pernikahan dijumpai rentetan umpasa dan umpama, contoh: “Bagot na mararirang di toruna panggonggonan, Badanmuna na so ra sirang, tondimuna masigomgoman”, “Bintang ma na rumiris tu ombun na sumorop; Anak pe di hamu sai riris, boru pe antong torop”.

Dalam acara kematian Pdt. Roy Siregar juga menguraikan penggunaan Umpasa dan Umpama, seperti diketahui di masyarakat Adat Batak Toba dikenal Adat Kematian seperti Tilhaon, Mate Ponggol, Matipul Ulu, Tompas Tataring, juga Sari Matua dan Saur Matua, yang kesemuanya memiliki Umpasa dan Umpama yang berbeda-beda. Tergantung pada keadaan yang terjadi untuk menguatkan dan peneguhan iman pihak yang kemalangan.

Umpasa yaitu , “Hotang pinabebebebe, hotang pinapulospulos, Ndang jadi iba mandele, ai godang do tudos-tudos”. “ Bagot namadungdung tu pilo-pilo malajar, sae ma na lungun, sai ro ma najagar”.

Dengan runut Pdt. Roy Siregar menguraikan filosofi dan makna Umpasa dan Umpama tersebut, termasuk penggunaannya. Sepanjang penelitiannya sampiran tidak selalu mempengaruhi isi, tetapi hendaknya ungkapan hati, tidak asal ada. Oleh karena itu dia pernah mendengar nasihat orang tua agar “Stop Umpasa Rombengan”, di mana sering di acara-acara Adat ada yang mengemukakan Umpasa yang asal ada. Selain itu juga dia mengingatkan agar Umpasa itu tidak usah banyak-banyak, sebab kalau banyak akan kehilangan makna. Agar umpasa itu bermakna cukup satu saja, karena Umpasa itu adalah doa dan harapan.***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.

Komentar
Berita Terkini