Tapanuli, Peta Kemiskinan di Sumatera Utara

Administrator Administrator
Tapanuli, Peta Kemiskinan di Sumatera Utara

Pengantar

Team Safari Harian Umum Sinar Harapan, yang terdiri dari Franz F Harahap, Totok Suslio dan Bachtiar Sitanggang mengadakan perjalanan jurnalistik menelusuri delapan provinsi di Sumatera dari tanggal 8 Oktober " 5 Nopember 1982, dari sejumlah liputannya berita yang menggemparkan dan menggema sampai sekarang adalah dengan judul di atas, berita tersebut kami muat ulang selengkapnya.

Laporan Team Safari “SH”

Tapanuli, Peta Kemiskinan Di Sumatera Utara,

Jakarta, 15 Nopember 1982

Tapanuli yang dulu merupakan keresidenan dan sekarang terdiri dari tiga kabupaten, sesungguhnya menggambarkan peta kemiskinan daerah Sumatera Utara.

Team Safari “SH” yang melakukan perjalanan selama sebulan di Sumatera menyaksikan penduduk di Tapanuli dan melalui percakapan dengan orang-orang tua yang menjaga desa sementara orang-orang muda sudah jarang diketemukan, menggambarkan keadaan Tapanuli dalam bahasa Batak “Mangalului panjampalan ni horbo pe nunga maol, lamma parngoluon ni jolma”. Artinya, untuk cari daerah penggembalaan kerbau saja sudah sulit, apalagi untuk hidup manusia.

Perumpamaan ini menggambarkan betapa tandusnya daerah Tapanuli, sampai-sampai kerbaupun tak dapat hidup. Apa yang disampaikan orang-orang tua ini bukan hal yang dilebih-lebihkan. Memang merupakan kenyataan pahit yang dialami sebagian besar penduduk Tapanuli sekarang.

Memasuki daerah ini bagian Selatan setelah melewati perbatasan Sumaera Barat orang awam sekalipun segera dapat mengambil perbandingan, memasuki daerah Tapanuli seperti masuk peta kemiskinan.

Daerah Mandailing (yang berbatasan dengan Sumatera Barat) yang dulu dikenal sebagai daerah orang2 kaya karena pertaniannya yang subur, hampir tak terlihat adanya pembangunan terutama yang dilakukan masyarakat.

Rumah-rumah penduduk yang dibangun kakek-kakek di jaman Belanda keadaannya sudah semakin memburuk dan sudah banyak yang reot. Ini merupakan pertanda, kehidupan penduduk semakin merosot karena untuk memperbaiki rumah saja mereka tidak mampu. Padahal, rumah bagi orang Tapanuli adalah ukuran tingkat sosial yang selalu diperjuangkan.

Demikian juga Kantor Kecamatan sebagian besar masih menggunakan kantor-kantor kontroler Belanda yang terbuat dari papan tidak seperti di provinsi lain, apalagi di Jawa.

Pohon-pohon Karet Tua

Makin ke dalam memasuki daerah tengah (kecamatan Padang Sidempuan) keadaan penduduk ternyata semakin parah. Di Pargarutan, 12 km dari Padang Sidempuan, menuju Sipirok, seorang pemilik warung bernama Tamba Tua mengungkapkan kehidupan penduduk di desa Pargarutan benar-benar sudah “mati”. Penghasilan utama penduduk desa sejak jaman Belanda adalah karet, padahal harga karet sejak beberapa tahun merosot.

Ia juga mengungkapkan pohon-pohon karet rakyat sudah tua usianya karena penduduk tidak mampu lagi meremajakannya, karenanya hasilnya juga sudah merosot jauh.

Tamba Tua mengatakan pada jaman Belanda dulu desa Pargarutan bisa menghasilkan karet puluhan ton seminggu, tapi sekarang kalau ada 2 ton seminggu, itu sudah cukup baik.

Soal pertanian pangan, Tamba Tua mengatakan ada juga penduduk yang melakukannya. Tapi hasilnya minim. Paling banyak 60 kaleng (1 kaleng kira-kira 16 kg) setahun karena tanah untuk bersawah pun sudah tidak ada.

Di desa Pargarutan menurutnya hanya ada 3 keluarga yang bisa mencapai panen 200 kaleng setahun, selebihnya rata-rata hanya 50 kaleng. “Untuk makan 5 bulan saja sudah habis”, ujar Tamba Tua. Ia menambahkan, kalau penduduk dapat menyekolahkan anaknya sampai SMA, hal itu sudah baik.

Memberikan gambaran tentang kemiskinan penduduk di desa ini, ia memberi contoh warung kopinya. Setiap hari ia hanya menyediakan 30 biji pisang goreng. Kalau laku 12 biji sehari sudah cukup baik.

Penduduk desa Pargarutan sudah tidak mampir lagi duduk-duduk minum kopi di kedainya. Paling-paling yang masuk kedai adalah orang yang kebetulan lewat.

Diakui olehnya, tiap malam warungnya penuh dengan penduduk setempat, tetapi yang minum kopi paling-paling hanya satu dua orang. Yang lain hanya menontotn TV.

“Lihatlah rumah-rumah itu Pak, ujarnya menunjuk rumah-rumah penduduk yang berderet di sepanjang jalan. “Rumah itu dibuat pada jaman Belanda.

Sampai sekrang, belum diganti penduduk walaupun sudah ada yang hampir runtuh. Bagaimana untuk memperbaiki rumah untuk makan saja sudah susah”, ujar Tamba Tua.

Sampai Sipirok

Kemiskinan penduduk seperti di Pargarutan merupakan pemandangan yang dapat disaksikan sampai ke Sipirok, daerah mana dikenal sampai sekarang sebagai daerah kerukunan beragama.

Sipirok pada jaman penjajahan dikenal sebagai produk orang-orang pintar. Pengusaha bis Sibual-buali yang sudah dikenal sejak jaman Belanda berpusat di kota ini.

Citranya sekarang sudah berubah. Sipirok kini lebih banyak “memproduksi” kenek dan supir daripada orang-orang pintar. Ini semua tidak lain karena penduduk tidak mampu lagi menyekolahkan anaknya.

Di daerah ini, tradisi orang tua harus menyekolahkan anaknya sampai mati-matian, tidak ada lagi. Bahkan sebaliknya. Begitu anak lepas SMP, orang tua langsung mensyaratkan ”cari makanmu sendiri”.

Daerah pertanian pangan di Sipirok memang tampak lumayan apalagi sampai ke Bunga Bondar. Tapi karena tanah turunan itu tiap generasi harus dibagi menurut adat, akhirnya tanah persawahan untuk tiap keluarga semakin sempit. Bahkan sudah sama dengan di Jawa (rata-rata 0,5 ha setiap keluarga). Inipun pada waktunya harus dibagi lagi. Atau paling tidak beberapa orang di antara yang bersaudara harus rela merantau.

Sibolga

Kota Sibolga yang menjadi ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah tidak susah mengenalinya bagi mereka yang pernah meninggalkan kota ini 30 tahun yang lalu. Ini karena keadaannya memang tetap demikian. Tetap tidak ada perubahan. Tak ada pembangunan. Apakah pembangunan oleh pemerintah apalagi oleh masyarakat. Itulah kesannya.

Pelabuhan Sibolga yang pernah menjadi kebanggaan Tapanuli Tengah dan merupakan penampungan tenaga kerja bagi penduduk kota sekarang boleh dikatakan hanya tinggal nama. Sebab belum tentu 3 bulan sekali ada kapal masuk.

Menyelusuri jalan sejajar pantai dari Sibolga sampai Barus, Team kembali dihadapkan pada tipe nelayan Indonesia yang pernah digambarkan Dirjen Perikanan Abdul Rachman sebagai warga negara yang tergolong di bawah garis kemiskinan. Bahkan kota Barus yang pernah jadi rebutan penjajah karena merupakan satu-satunya sumber kapur barus di Indonesia, sekarang tidak luput dari gambar kemiskinan.

Lebih terasa lagi setelah Team memasuki pulau Samosir yang pernah dibanggakan oleh pencipta lagu Nahum Situmorang yang menggambarkan pulau ini banyak bawang, padi dan kacang. Itu kini seperti khayalan almarhum Nahum Situmorang saja.

Tandus dan gersangnya tanah di pulau Samosir yang dikelilingi Bukit Barisan yang gundul itu merupakan lambang kegagalan penghijauan yang telah menelan biaya miliaran rupiah.

Penduduk pulau tersebut ketika dikunjungi Team “SH” sedang "maramangoi” (menangis menjerit) akibat turunnya harga bawang dari Rp 200/kg menjadi Rp 90/kg. Padahal bawang satu-satunya sumber pertanian yang masih dapat diharapkan penduduk Samosir untuk menyambung hidup beberapa bulan.

“Sampai kerbau sudah diberi makan makan batang pisang”, kata seorang ibu menggambarkan bagaimana tandusnya pulau itu. Rumput saja sudah berkurang.

Jika di Jakarta, uang Rp 50 sudah tidak laku lagi untuk jajan murid SD, di Samosir uang pecahan masih merupakan alat pembayaran yang masih beredar di pasar-pasar.-Team Safari “SH”

Penulis ulang adalah wartawan senior dan Advokat berdomisili di Jakarta.

Komentar
Berita Terkini