EMPAT PULUH DUA tahun lalu, saat pemukiman semakin sempit di Jakarta, maka Pemerintah dan swasta memulai membangun perumahan karyawan di Pondok Gede Bekasi, berbatasan dengan Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur. Di lokasi yang berdekatan ada komplek perumahan Depdagri, perumahan Kologad (Logistik TNI-AD), perumahan Palad (Peralatan TNI-AD) menyusul komplek perumahan Sinar Kasih penerbit Harian Umum Sinar Harapan.
Dengan semakin berkembangnya penduduk, kebutuhan akan tempat ibadah juga mulai tumbuh yaitu Gereja Bethel Indonesia bagi umat Kristiani beribadah. Karena orang Batak banyak, maka ada inisiatif Guru MP. Simanjuntak, dan I.C. Simanjuntak (anggota TNI AD) serta seorang pemuda Thurman Sagala menyelengarakan kebaktian tersendiri sebagai Pagaran (binaan) HKBP Kramat Jati di tempat yang sama. Saya tidak tahu persis, jemaat HKBP itu harus pindah mencari tempat baru untuk ibadah. Kemudian melakukan ibadah di garasi rumah Mayor P. Purba di Perumahan Palad.
Pertama kali ikut kebaktian, kursinya terbuat dari bambu yang asal ada, karena tidak sama besar serta tidak lurus pasti tidak bisa ngantuk.
Sekarang HKBP Pondok Gede sudah Resort Distrik XIX Bekasi, dengan jemaat kira-kira 1070 KK dengan 49 Sintua dan 3 Pendeta. Jemaat itu resminya berdiri 11 November 1979, dan HUT ke-42 dirayakan Minggu, 14 Novmber 2021 lalu dengan sederhana serta prokes.
Dengan rasa syukur masih bisa mengikuti kebaktian sekaligus perayaan HUT ke-42 HKBP Pondok Gede, dengan penuh perkembangan dan kemajuan. Perayaan tahun ini sekaligus tiga acara, yaitu HUT ke-42, Pesta Gotilon dan Tahun Pemberdayaan HKBP.
Kerinduan jemaat sungguh luar biasa, sebab selama ini masih live streaming sebagian, bahkan lansia disarankan untuk tidak ikut kebaktian tatap muka di gereja.
Terkenang pada perayaan HUT ke-2, kebaktian dilangsungkan di ruangan yang lebih besar yaitu gedung bioskop (di mal Pondok Gede Matahari sekarang). Saat itu jemaat masih sedikit dan keanggotaan kami No. 050, semua swakelola, konsumsi dengan masak sendiri, angkut peralatan dan kursi dari rumah masing-masing.
Pada HUT ke-2 itu (kalau tidak salah) Ketua Panitianya Drs. Kustigar Nadeak, wartawan luar negeri Sinar Harapan, kenal baik dengan (mantan) Menteri Luar Negeri RI H. Adam Malik, beliau memberi sumbangan barang berupa piring keramik dan dilelang oleh pengusaha nasional Tarnama Sinambela.
Kebaktian itu dihadiri Ny. Cosmas Batubara, dan Cosmas Batubara (Menteri Muda Urusan Perumahan Rakyat), menyusul setelah kebaktian. Cosmas sendiri-lah yang meresmikan Perumahan Karyawan PT. Sinar Kasih penerbit Harian Umum Sinar Harapan yang ada di Pondok Gede tahun 1979.
Tidak ingat berapa harga piring keramik itu dilelang Bapak Tarnama Sinambela, tetapi menjadi modal besar bagi pertumbuhan jemaat serta membeli tanah di tempat gereja yang sekarang berdiri dengan kokoh dua lantai dengan gaya Ruma Batak Toba.
Kalau tidak salah, dua Simanjuntak yang memulai jemaat HKBP Pondok Gede serta P. Purba yang rumahnya tempat ibadah pertama, ketiganya pernah menjadi Guru Jemaat.
Saya tidak begitu aktif di gereja, namun perkembangan saya ikuti karena isteri saya sejak terbentuk Par-Ari Kamis (kemudian Punguan Ina dan Punguan Parompuan) sampai sekarang terus aktif, bahkan pernah Sekretaris Punguan, puluhan tahun Bendahara, artinya sedikit-sedikit saya ikuti.
Dari semua itu, sering terkenang adalah Pdt. Tumpak Siahaan, tahu dan kenal tiap-tiap keluarga (bapak-ibu dan anak-anak) sebab semua jemaat dikunjunginya. Pagi-pagi sudah datang ke rumah, ajak berdoa sebelum pergi kerja atau sekolah “kita berdoa duluâ€.
Dalam kaitan Tahun Pemberdayaan HKBP, dulu pernah saya usulkan agar Gereja itu benar-benar menjadi Pusat Informasi bagi jemaatnya, dengan memberdayakan SDM yang ada, potensi jemaat yang aktif di berbagai bidang kalau dikelola, akan bermanfaat bagi jemaat, mengikuti apa yang dimulai gereja di Bonapasogit dahulu yaitu “Pargodunganâ€.
Dengan Tahun Pemberdayaan hendaknya Gereja itu hanya "menggembalakan†satu-dua jam saat kebaktian, padahal jemaat memiliki potensi untuk menjelaskan masalah sosial-politik-ekonomi-kebudayaan dan seni, dari jemaat oleh jemaat dan untuk jemaat.
Perjalanan 42 tahun HKBP Pondok Gede sungguh membuat tertegun saat mendengar khotbah Pdt. Hotman Sitorus STh, dari Markus 13:1-8 mengenai Bait Allah dan gedung-gedung: “Ketika Yesus keluar dari Bait Allah, seorang murid-Nya berkata kepada-Nya: "Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!"......Pendeta Hotman mengatakan: “Kalau kita bangga dengan keindahan dan kemewahan, kemegahan gedung gereja, seperti para murid yang membanggakan keindahan bait Allah, tetapi Tuhan Yesus melihat dari segi fungsinya.
Apakah fungsi gereja itu? tanyanya, yang dijawab sendiri: Fungsi Gereja itu adalah: Tempat pertemuan/penyembahan kita kepada Tuhan; Tempat persekutuan kita dengan sesama umat/jemaat; Tempat kita bertemu dengan kedamaian, ketenangan hati; Tempat dimana kita menegakkan keadilan, kebenaran; Tempat pembangunan kepedulian sosial terhadap sesama dan terhadap orang lain/lingkungan; dan Tempat pertumbuhan iman percaya kita kepada Tuhan.
Jikalau di dalam gereja hal itu tidak lagi ditemukan, jika di dalamnya ada kepalsuan dan kemunafikan, jika di dalamnya tidak lagi ada damai dan kasih, maka keindahan gedung gereja itu menjadi sia-siaâ€.
Perlu bertanya kepada diri sendiri, setelah 42 tahun sebagai jemaat HKBP Pondok Gede bagaimana diri sendiri dan keluarga, tidak bisa saya jawab.
Mudah-mudahan semua jemaat HKBP Pondok Gede memperhatikan khotbah Pdt. Hotman Sitorus, supaya semua berani terbuka mengatakan ya di atas ya, tidak di atas yang tidak. Kalau semua menjadikan gereja sebagai tempat pertemuan/penyembahan kita kepada Tuhan; persekutuan kita dengan sesama umat/jemaat; bertemu dengan kedamaian, ketenangan hati; menegakkan keadilan, kebenaran; membangun kepedulian sosial terhadap sesama dan terhadap orang lain/lingkungan; dan Tempat pertumbuhan iman percaya kita kepada Tuhan, maka gedung gereja yang kokoh dan megah itu tidak akan sia-sia.
Jikalau HKBP “Naboloni†terutama para gembalanya benar-benar menjalankan fungsi gereja sebagaimana mestinya tidak lagi ditemukan gugat menggugat, protes perpindahan serta peristiwa-peristiwa yang memalukan.
Alangkah eloknya bila semua jemaat HKBP mulai dari pucuk pimpinan sampai ke bawah memelihara berkat Tuhan seperti jabatan, kedudukan, harta, serta talenta untuk dipersembahkan bagi kemuliaan nama Tuhan, dan kesejahteraan bagi umat manusia. Dengan tekad takut akan Tuhan, berkat Tuhan tidak akan sia-sia.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-42 HKBP Pondok Gede.***
Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.