Dari sejumlah tokoh yang hadir seperti Dr RE Nainggolan MM, Parlindungan Purba MM yang juga Ketua Komite II DPD RI, ND Malau, Mangatas Pasaribu, Jadi Pane, Robinson Nababan, RAY Sinambela, JP Sitanggang, Bukti Hutagalung, Drs Thompson Hutasoit dan sejumlah tokoh lainnya, menyatakan sepakat untuk mengusulkan ulos ke UNESCO.
Seperti disampaikan Parlindungan Purba yang juga menyebutkan pernah berbicara dengan pimpinan DPD mengenai keunikan ulos. Harapannya dunia akan mengenal Ulos. "Saya sudah berbicara dengan pak Irman Gusman terkait hal ini," ucap Parlindungan.
Demikian halnya dengan tokoh yang aktif memperjuangkan kawasan Danau Toba ke UNESCO, Dr RE Nainggolan,M.M juga terlihat antusias dengan rencana pendaftaran ulos ke UNESCO. Ia meminta masyarakat batak untuk bersatu.
"Pasti bisa. Kedepan kita harus bersatu. Masyarakat batak punya beragam perspektif, ini yang barus disatukan terlebih dahulu. Kita harus menerima pikiran dan mengembangkanya. UNESCO tidak akan menerima ulos kalau kita belum bersatu. Ini awal gerakan yang bagus," ucapnya.
Sebagai akademisi dan yang paham budaya Batak serta aktif di lembaga budaya nasional prof Robert Sibarani menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan. Persiapan daerah harus matang sebelum melangkah ke tingkat UNESCO.
Terutama tentang kesamaan perspektif tentang ulos ini harus bisa dibentuk. Karena dalam upaya mempertahankan nilai-nilai kebudayaan ada yang akan dicapai, bukan sekedar melestarikan atau melindungi ulos tapi harus mengembangkan.
Dalam diskusi ini juga dibahas mengenai langkah selanjutnya sebelum menggelar seminar yang telah direncanakan panitia Hari Ulos pada tanggal 24 Agustus 2016 mendatang. Masukan dan saran yang muncul di pertemuan tersebut menjadi agenda penting bagi panitia untuk melaksanakan seminar yang akan menjadi kajian akademik tentang pengusulan Ulos ke UNESCO maupun penetapan hari ulos.
(TAp)
Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified