'Rumah' Terbuat dari 1.500 Bambu,

Edward Hutabarat Gelar Fashion Show Unik Bermakna

Administrator Administrator
Edward Hutabarat Gelar Fashion Show Unik Bermakna
Foto: Mohammad Abduh/dtk
Pelita Batak : 

Desainer papan atas Tanah Air Edward Hutabarat mencoba mengingatkan bangsa ini bahwa Indonesia kaya akan warisan budaya dan alam yang memesona. Namun, warisan tersebut kini seolah hanyalah 'sisa-sisa' peradaban karena kurang mendapat apresiasi dari masyarakat negeri sendiri. Lewat paragaan bertajuk 'Kenduri' di 'rumah' yang terbuat dari 1.500 bambu.

 

Sebagai bagian dari rangkaian acara Senayan City Glorify Indonesia. Kenduri sendiri merupakan kelanjutan dari peragaan 'Batik Journey' yang digelar Januari lalu. 

 

Pada peragaan yang berlangsung di atrium Senayan City, Senin (15/8/2016), Bang Edo, begitu panggilan akrabnya, masih konsisten mengangkat pesona batik Sawung Galing yang dipadukannya dengan batik garis, buah kolaborasinya dengan artisan batik asal Cirebon, Nur Cahyo.

 

Namun berbeda dari peragaan sebelumnya, Edo kali ini menggandeng seniman bambu asal Cimahi, Joko Avianto, untuk membuat sebuah rumah bambu sebagai latar belakang peragaan malam itu.

 

"Selama 20 tahun terakhir saya keliling Indonesia untuk mengeksplor wastra-wastra yang mulai punah, saya juga melihat bambu ada di mana-mana. Ini membuktikan bahwa bambu merupakan bagian dari identitas kebudayaan Indonesia namun kurang mendapat apresiasi," ujar Edo usai peragaan dikutip dari detik.com. 

 

Seperti fashion, lanjut Edo, fungsi dan desain bambu bisa relevan dengan perkembangan zaman bila diolah sedemikian rupa sehingga nasibnya tidak berakhir sebagai sisa-sisa peradaban. Di tangan dingin Joko dan timnya, lahirlah sebuah rumah bambu yang bentuknya menyerupai Rumah Gadang khas Minangkabau. Butuh waktu delapan hari untuk menyusun 1.500 bambu menjadi rumah yang tingginya kira-kira mencapai 5 meter itu.

 

Rumah bambu itu seolah menyatu dengan koleksi Edo yang sangat Indonesia dengan identitas batiknya, namun tetap terasa chic dan modern. Terusan bersiluet A dengan aksen kantong dalam pilihan warna cerah dan gelap mendominasi koleksi yang terdiri dari 41 look itu. Tampil pula pilihan busana pria dalam potongan kimono. 

 

Berbeda dari koleksi sebelumnya, Edo mengaplikasikan teknik yang berbeda. Alih-alih membatik terlebih dulu, ia justru memulai proses dengan membuat pola sehingga dapat memaksimalkan hasil batik yang dipercayainya sebagai hasil tarikan napas setiap perajinnya.

 

"Saya bersenang-senang malam ini. Koleksi ini tidak saya jual, hanya sebagai showcase untuk menginspirasi kaum muda agar menghargai sisa-sisa peradaban negeri sendiri dengan menggabungkan fashion dan arsitektur secara nyata," terang desainer yang telah 35 tahun malang melintang di industri fashion Tanah Air itu. 

 

Peragaan malam itu kian spesial lantaran Edo dianugerahi Annual Infinite Merit Award 2016. Penghargaan ini Senayan City berikan kepada figur lokal yang telah berjasa mengharumkan Indonesia di panggung internasional lewat bakat dan karyanya. Pemenang sebelumnya antara lain Erwin Gutawa, Mantan CEO Garuda Indonesia Emirsyah Satar, dan rekan Edo sesama desainer Biyan Wanaatmadja. 

 

"Penghargaan ini indah, tapi mudah-mudahan ada yang mengerti bukan pengghargaan yang saya butuhkan, melainkan dukungan untuk sama-sama menghidupkan kembali sisa-sisa peradaban Indonesia. Mari kita tidak hanya bicara tentang fashion dan keglamorannya, tapi juga peradaban dari negeri kita yang merupakan the masterpiece of God," ujar Edo.

 

"Saya berani bilang bahwa Indonesia is the masterpiece of God karena memang benar faktanya. Lalu masih tega kah kita menelantarkannya?" (TAp/dtk)

Komentar
Berita Terkini