Prof Posman Sibuea:

Bahan Dasar Ulos Batak Makin Langka di Bona Pasogit

Administrator Administrator
Bahan Dasar Ulos Batak Makin Langka di Bona Pasogit
Satuharapan.com/sabar subekti
Prof Posman Sibuea

Medan (Pelita Batak):

Ulos Batak, tenunan indah yang dibuat oleh kaum perempuan Batak. Di dalam tenunan dan motifnya, ada nilai-nilai, gagasan, kepercayaan, dan kisah hidup. Serupa tikar kehidupan. Bagi masyarakat Batak Toba, lembaran tenun itu dapat berkisah tentang bentuk solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat yang tergabung dan terhimpun dalam kesatuan sosial dalihan natolu.

Demikian disampaikan Prof Posman Sibuea, dalam Seminar Tahun Keluarga HKBP Distrik X Medan-Aceh, 21 Mei 2016 di Hotel Danau Toba, Medan. "Kini, para perempuan Batak – sebagian besar –  tidak bisa lagi membuat atau menenun ulos karena bahan dasarnya sudah langka di lokasi (bona pasogit)," ujarnya.

Menurut Guru Besar Unika St Thomas Medan ini, pada dasarnya, bahan utama yang digunakan untuk membau ulos adalah benang yang berasal dari tanaman kapas. Kapas ini akan diolah sedemikian rupa dengan bantuan alat-alat dan teknik yang sangat sederhana  serta didukung oleh  pengetahuan yang terbatas. Setelah kapas menjadi benang akan dilanjutkan dengan proses mewarnai benang.

"Pada masa lampau, proses ini menggunakan bahan-bahan lokal yang disediakan alam sekitarnya, seperti daun nila (salaon) dan akar tumbuhan dan rumput-ruputan di hutan. Mereka harus berjalan berkilo-kilo meter untuk mendapatkan tumbuhan salaon  yang hidup di lantai-lantai hutan. Tidak pernah ada pemikiran untuk membudidayakan, misalnya, dari pemerintah. Setelah ada keprihatinan akan punahnya bahan pewarna alami ulos, barulah mulai ada usaha mempertahankan tenunan itu," jelasnya.

Akan tetapi proses  tradisional pembuatan ulos sudah sangat langka dilakukan karena cara ini dianggap tidak efisien mengingat waktu pembuatannya yang lama dan sedikitnya variasi warna yang dihasilkan. Sebaliknya proses mewarnai benang secara modern dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan pewarna sintetik.

"Lantas pertanyaannya, apakah ancaman kepunahan zat pewarna alami  karena semata nilai-nilai globalisasi sehingga perempuan Batak  tidak meminati lagi menenun ulos?" paparnya. Ancaman kepunahan itu lebih karena hutan di sekitar Danau Toba, berubah menjadi perkebunan monokultur. Pemiliknya tidak hanya perusahaan multinasional, tetapi juga perusahaan modal asing.(**)

Komentar
Berita Terkini