Kedaulatan Allah Dan Kehendak Bebas Manusia

Oleh: Martin Luter Zega, S.Th
admin admin
Kedaulatan Allah Dan Kehendak Bebas Manusia
IST|Pelita Batak
Martin Luter Zega, S.Th

MEMIKIRKAN kedaulatan Allah dalam relasinya terhadap kehendak manusia telah menjadi misteri di antara misteri lainnya dalam doktrin Kristen sepanjang sejarah. Manusia sering sekali gagal mengkorelasikan keduanya sehingga jatuh ke dalam deisme, yakni ketidakpedulian dan ketidakterliatan Allah dalam alam semesta ini. Dengan kata lain, Allah telah meninggalkan dunia ini setelah penciptaan sehingga dunia ini berjalan sendiri tanpa ada kuasa ilahi. Sesungguhnya, sulit sekali memahami gerak sejarah dunia ini bila kita mengertinya dalam konteks hukum alam. Kita meyakini bahwa hukum alam tidaklah sembarangan membawa dunia ini kepada entah tujuan apa; hukum alam bukan muncul dari alam tetapi sejak penciptaan, Logos telah menopang dunia ini. Klimaks sejarah adalah sesuatu yang final dan mencapai puncaknya di dalam keketapan Allah yang kekal. Sejarah dunia tanpa kedaulatan dan keterlibatan Allah akan menempuh jalur bebeda dari jalur sejarah yang sudah terbentuk sejak permulaan dunia ini. Kita begitu yakin bahwa sejarah dan tujuannya adalah pasti dan bukan di dalam genggaman kuasa akal budi manusia, filsuf, dan sains; apalagi kuasa iblis.

Teologi Reformed meyakini bahwa Allah berdaulat dalam penentuan dan panggilan setiap orang yang berada di bawah kuasa dosa sebagai sarana-Nya untuk mewujudkan kemurahan-Nya yang besar. Khusunya di dalam sejarah keselamatan manusia, berulang kali Alkitab mencatat tentang panggilan Allah yang objektif terhadap orang-orang yang dipilih-Nya menurut kemurahan-Nya. Allah terus menerus membangkitkan orang-orang yang takut akan dia dan saleh untuk menjadi agen-Nya yang memperantarai kovenan-Nya kepada umat manusia. Kemurahan Allah tidak akan pernah musnah sebaliknya akan terus menggenapkan rencana-Nya dalam sejarah melalui orang-orang pilihan-Nya. Alkitab berkata bahwa Allah memanggil Nuh yang sudah dipersiapkan Allah sebelumnya untuk menerima kemurahan Allah (Kej. 6:9-22), Abraham dipanggil untuk menjadi manusia yang akan dikenang di kalangan orang-orang beriman kelak (Kej. 12:1-9), bangsa Israel dipanggil keluar dari Mesir untuk menikmati tanah perjanjian dari Allah (Kel. 2:23-25), nabi-nabi, imam-imam, murid-murid, dan rasul-rasul dipanggil untuk tugas khusus dari Allah sebagai perpanjangan tangan Allah menggenapkan janji kovenan-Nya kepada umat mnausia.

Nah, bagaimana kehendak manusia dapat menanggapi panggilan kemurahan Allah ini dalam kaitannya dengan keselamatan? Bagaimana hubungan kedua kehendak ini: kehendak Allah dan kehendak manusia? Beberapa hal yang harus kita perhatikan di bawah ini.

Pertama, kita harus memperhatikan metode Alkitab dalam menjelaskan panggilan Allah dan tanggapan manusia. Contohnya, sebelum nuh dipanggil, takdirnya telah terucapkan di dalam Kejadian 5:29. Dengan demikian, panggilan Nuh merupakan panggilan murni dari Tuhan sebab bila Nuh sudah dipilih sebelumnya maka kehidupannya pasti berbeda dari kehidupan orang lain (Kej. 6:9). Seperti Matthew Henry berkata: “Nuh berarti istirahat. Orang tuanya memberi dia nama itu dengan harapan agar dia menjadi berkat yang lebih dari biasa bagi angakatannya. Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh Tuhan.” Dengan kata lain, seperti lanjutan Henry: “sangatlah mungkin bahwa ada beberapa nubuatan sebelumnya tentang dia, sebagai seorang yang secara menakjubkan berguna bagi angkatannya. Karena itu orang tuanya memahami demikian dan menyimpulkan bahwa dialah keturunan yang dijanjikan itu, Sang Mesias yang akan datang.” Singkatnya, orang-orang yang telah dipilih oleh Tuhan dalam kekekalan pasti menerima panggilan itu dan menjalani kehidupan yang saleh tanpa kegagalan sebaliknya pasti dan akurat.

Kedua, hanya Teologi Reformed yang menekankan dua-duanya terlepas dari misteri-misteri di antaranya. Kedaulatan Allah begitu ketat kita pegang sekaligus tidak memandang rendah kehendak manusia, seperti kata John frame: “relasi antara kedaulatan ilahi dan tanggungjawab manusia adalah satu dari misteri-misteri terbesar di dalam iman Kristen. Setidak-tidaknya di dalam Kitab Suci jelas bahwa kedua-duanya nyata dan keduan-duanya penting. Teologi Calvinis dikenal karena penekannya pada kedaulatan Allah " karena pandangannya bahwa Allah di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan dan kehendak-Nya (Ef. 1:11). Tetapi paling tidak terdapat penekanan yang sama pada tanggungjawab manusia.”Artinya kedaulatan Allah tidak membunuh atau menghancurkan kehendak manusia sebaliknya berdiri sebagai dua unsur yang tidak terpisahkan. Kedaulatan Allah penting karena di dalamnya berjalan sesuai kehendak Allah dan kehendak manusia juga penting karena merupakan inti jiwa manusia untuk menanggapi panggilan Allah yang mengindikasikan bahwa dia adalah orang yang dipilih Tuhan.

Ketiga, kehendak manusia adalah bebas dari Allah sekaligus diperbudak oleh iblis. Maksudnya adalah kehendaknya bebas dari atau terlepas dari/tidak mampu menanggapi panggilan Allah dalam cara apapun sekaligus berada di dalam perbudakan dosa. Alkitab berulang-ulang menghakimi manusia bahwa manusia adalah budak dosa (Yoh. 8:34; Rm. 6:6; 6:17-18, 20, 22) dan Roh perbudakan telah menguasai manusia (Rm. 8:15). Sejak kejatuhan manusia dalah dosa, mereka berada di bawah perbudakan iblis sebab kejatuhan dalam dosa adalah perpindahan kedudukan manusia tentagn siapa yang memerintah atasnya: Allah atau iblis! Kita meyakini bahwa manusia diciptakan bukan “supaya berotonom” tetapi supaya/selalu dia bersandar atau bergantung kepada penciptanya, sehingga sesaat setelah manusia jatuh dalam dosa maka posisi mereka berpindah dari pemerintahan Allah ke pemerintahan iblis. Ketika mereka belum berdosa, mereka adalah “pelayan; Yun: diakonos” tetapi ketika mereka berdosa, mereka adalah budak setan; setan yang memerintah atas mereka. Menjadi budak berarti tunduk pada otoritas majikan yang memperbudak sehingga segala sesuatu yang terkait dengan budaknya ditanggung oleh majikannya; otoritas ini baru dipulihkan setelah Kristus memerintah atas hidup orang percaya (Yoh. 1:12-13). Begitu juga manusia yang berdosa bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali setan. Semua hati, jiwa, dan kehendak manusia telah berada di bawah perbudakan setan. Orang yang membuang doktrin perbudakan kehendak ini adalah orang yang telah ditunggangi iblis.

Keempat, karena kehendak manusia berada di bawah perbudakan setan maka dia sudah “mati” di hadapan Allah tetapi hidup di hadapan setan. Dengan kata lain, manusia tidak pernah ada kaitannya dengan Allah lagi baik dalam kebajikan, moral, dan kebenaran. Alkitab berkata bahwa manusia mati di dalam dosa dan pelanggarannya (Ef. 2:1). “Mati” dalam hal ini adalah keterpisahannya dari Allah beserta pemutusan kehidupan dari Allah sehingga menjadikan dia bersatu dan hidup di dalam dosa. Sebelum manusia berdosa mereka hidup kepada/di dalam Allah tetapi setelah mereka berdosa manusia mati di hadapan Allah dan hidup di dalam dosa. Maksudnya bahwa kehidupan manusia tidak lagi berdasarkan kualitas-kualitas kebenaran di dalam naturnya sebagai gambar Allah sebaliknya hidup di dalam dosa dan hanya dosa yang terus menerus dilakukannya.

Kelima, setelah manusia jatuh di dalam dosa, bukan hanya mereka berpindah “posisi/kedudukan” tetapi seluruh elemen naturnya telah rusak. Tidak ada yang baik dalam diri manusia (Mzm. 14:1; Rm. 3:10-18). Jika memang ada yang baik, itu hanya baik menurut naturnya. Pemahaman tentang natur ini sangat penting demi doktrin kita tentang dosa manusia. Lalat tidak akan hinggap pada benda berbau asam karena naturnya diciptakan untuk menyukai benda yang berbau busuk. Manusia yang berdosa tidak menyukai kebajikan dan kebenaran dari sorga karena natur kebajikan dan kebenaran dalam gambar Allah telah rusak. Orang yang menganggap bahwa manusia bisa memilih yang benar dari Allah adalah manusia yang sudah rusak tetapi dengan sombongnya berkata tentang apa yang tidak mampu ia lakukan. “Aku mampu memilih Allah” adalah pernyataan yang berdosa dan sombong sebab bukan Allah yang benar yang dia pilih tetapi berhala yang dijadikan sebagai Allahnya. Sekali lagi bahwa bila manusia memilih Allah maka sudah tepat bahwa dia memilih berhala untuk dijadikan Allahnya.

Keenam, kedaulatan Allah memimpin kehendak manusia. Hal ini bukan diperbudak/dipaksa atau dijadikan robot yang diprogramkan sebagaimana orang-orang sombong memahaminya. Bila Allah tidak mampu memimpin kehendak manusia dengan pasti berarti Allah gagal menerapkan kebenaran-Nya dalam sejarah manusia sebab tia-tiap manusia tidak pernah tahu bahwa itu kebenaran Allah dan panggilan Allah. Tetapi dengan adanya Allah yang berdaulat maka Dia dengan kuasa-Nya mampu mengubah manusia yang berdosa melalui pergantian elemen-elemen naturnya: hati/roh yang baru (Yeh. 11:19; 36:26). Maksudnya di sini bahwa bukan hati atau jiwanya diganti dalam pengertian organ tubuhnya tetapi “pembaharuannya” yang dikerjakan Allah sendiri.

Penulis adalah Guru SMP Swasta Anugrah Fulolo Salo'o dan Pelayan Gereja

Komentar
Berita Terkini