Anakmu Bukanlah Milikmu

Oleh : Djalan Sihombing,SH
Administrator Administrator
Anakmu Bukanlah Milikmu
Ist|pelitabatak
Dijalan Sihombing,SH
Anakmu Bukanlah Milikmu


mereka adalah putra putri sang Hidup,


yang rindu akan dirinya sendiri.


Mereka lahir lewat engkau,


tetapi bukan dari engkau,


mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.


Berikanlah mereka kasih sayangmu,


namun jangan sodorkan pemikiranmu,


sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

 

Patut kau berikan rumah bagi raganya,


namun tidak bagi jiwanya,


sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,


yang tiada dapat kau kunjungi,


sekalipun dalam mimpimu.


Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,


namun jangan membuat mereka menyerupaimu,


sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,


ataupun tenggelam ke masa lampau.


Engkaulah busur asal anakmu,


anak panah hidup, melesat pergi.


Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,


Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,


hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.


Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,


sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,


sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.


(Khalil Gibran - Sastrawan Libanon)


Orang tua bisa bercita-cita dan berusaha, agar anak-anaknya sesuai keinginannya di masa depan. 

Orang tua bisa mengharap, keturunannya seperti yang dia pikirkan.

Orang tua menginginkan anaknya hebat dan luar biasa di masa depan.

Orang tua bisa berharap anak-anaknya kaya raya.

Orang tua bisa berharap, anak-anaknya pintar dan bijaksana.

Orang tua bisa berharap anak-anaknya terkenal di seantero dunia ini.

Orang tua bisa berharap keturunannya menjadi pejabat atau pengusaha besar. Menjadi anak yang unggul di masa depan.

Banyak harapan dalam pikiran orang tua, terutama ibu yang melahirkan. Dari rahim seorang ibu, anak panah itu melesat.

Orang tua tidak tau apa yang terjadi di masa depan. Yang di pikirannya tidak akan sama lagi dengan apa yang terjadi di masa depan.

Di pikirannya, adalah pegalaman masa silam dan perkiraan masa depan yang tentu tidak sama dengan apa yang ada di alam pikirannya.

Satu menit ke depan pun, tidak saya tahu apa yang akan terjadi, apalagi dengan masa depan anak panah seperti dalam puisi Khalil Gibran.

Saya tidak tau, kapan saya berhenti bernafas. Setelah nafas terakhir, tidak tau lagi tentang anak panah itu.

Orang tua tidak bisa menentukan nasib anak panah-anak panah di masa depan.

Alam pikiran orang tua dan alam pikiran anak panah akan berbeda sesuai zamannya. Waktu bergerak terus, tanpa berhenti. Hari esok adalah misteri yang tidak bisa saya pastikan. Zaman saya lahir tidak ada HP,  zaman anak panah-anak panah lahir, mereka sudah bisa memakai HP sejak kecil. Anak panah sudah jauh berbeda ketika saya masih kanak-kanak. 

Ketika saya cerita masa lalu dan masa kanak-kanak, mereka bilang "itu dulu pak".  Masak sama lagi dengan sekarang pa? Kata anak panah-anak panah itu.

Siapa yang tau masa depan? Tidak ada satu pun manusia yang tau. 

Hari kemarin tidak sama dengan hari esok. Hanya Dia Sang Khalik yang tau semuanya itu. Saya hanya bisa berusaha,  berharap, dan berdoa untuk anak panah-anak panah tersebut, tapi yang menentukan adalah Penciptanya.

Anak panah-anak panah itu milik Tuhan Sang Pencipta. Demikian juga saya adalah milikNya.

DJS'Bing

17/03/2021

Komentar
Berita Terkini