Catatan Tentang Putri Lopian dari Tanah Batak di Hari Kartini

Oleh: DEacy Lumbanraja
Administrator Administrator
Catatan Tentang Putri Lopian dari Tanah Batak di Hari Kartini
Facebook
Deacy Lumbanraja, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak FBBI
Perjuangannya sebagai Putri Batak, kurang dikenal seperti hal nya pejuang WANITA lainnya dari daerah di Indonesia,

 

Pada awal tahun 1907 pasukan Belanda mulai mendekati Pearaja Dairi karena Raja Sisingamangaraja XII bertekad mempertahankan Pearaja Dairi maka seluruh keluarga kaum wanita dan anak-anak harus menyingkir dari daerah itu. Tetapi Lopian yang pada waktu itu anak gadis berusia 17 tahun tidak mau ikut menyingkir karena ia berkeras hati tetap harus ikut berperang melawan penjajah Belanda.

 

Dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907 di Aek Sibulbulon Pearaja Dairi seluruh pejuang yang berpantang menyerah itu gugur karena jumlah dan persenjataan yang tidak sebanding dengan pasukan Belanda.

 

Oleh pasukan Belanda, jenazah Raja Sisingamangaraja XII, jenazah putranya Raja Patuan Nagari dan Raja Patuan Anggi dibawa melalui Tele ke Balige dan kemudian dikuburkan di Tarutung.

 

Sedang jenazah Lopian Boru Sinambela ditinggalkan dengan ditimbun dalam jurang bersama panglima dari Aceh.

 

Dan tinggallah Lopian di hutan Pearaja Dairi …

 

Bulan April kita memperingati Hari Kartini... semoga kita juga mengingat perjuangan Putri Lopian. (Jakarta, 12 April 2016.

Salam Boru Batak, Deacy Lumbanraja, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak FBBI).

Komentar
Berita Terkini