Sebut Pergerakan UHN Medan Masih Jalan ke 'Tumbara', Effendi Simbolon Pusing dan Ancam Mundur

Administrator Administrator
Sebut Pergerakan UHN Medan Masih Jalan ke 'Tumbara', Effendi Simbolon Pusing dan Ancam Mundur
Ist | UHN

Medan (Pelita Batak):

Ketua Umum Pengurus Yayasan Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan, Dr. Effendi Muara Sakti Simbolon, mengungkapkan kekecewaannya terhadap perkembangan universitas yang dinilainya belum bergerak sesuai harapan. Bahkan, ia menyatakan siap mengundurkan diri apabila tidak ada kesepakatan untuk membenahi kondisi UHN.

Pernyataan itu disampaikan Effendi secara lugas dalam Rapat Terbuka Senat Wisuda Ahli Madya, Sarjana, Profesi, dan Magister Periode II Tahun 2026 di Auditorium UHN Medan, Jumat (23/10/2026).

Dalam pidatonya yang disiarkan melalui kanal YouTube UHN Medan Official, Effendi mengusulkan agar persoalan tersebut dibicarakan bersama dalam rapat yayasan pada November mendatang. Ia juga menyatakan tidak ingin terus membuang waktu apabila tidak ada kesepakatan mengenai langkah pembenahan.

"Itulah amang pembina, annon pasahat ma tu oppung marrapot ma hamu, asa boi hita marrapot di yayasan di November. Au dang pola membuang-buang waktu be au, molo dang setuju hamu, au mengundurhon diri ma au. Au ma mardalan lanjut da, tok ulukku songon on, iya, pusing! Halak nga tu dolok tu toruan, hita tu aha dope, tu tumbara dope. Ate amang da. Kita orang Batak lugas-lugas sajalah," ujar Effendi.

Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya kegelisahan di tingkat pimpinan yayasan terhadap arah perkembangan UHN. Istilah “tumbara” yang digunakan Effendi menjadi penekanan dalam kritiknya terhadap pergerakan universitas yang dianggap belum menunjukkan kemajuan sebagaimana diharapkan.

Pertumbuhan Mahasiswa Belum Sesuai Harapan

Persoalan yang disampaikan Effendi bukan tanpa konteks. Dalam pemberitaan sejumlah media mengenai wisuda yang sama, UHN Medan memang disebut masih menghadapi tantangan dalam penerimaan mahasiswa baru.

Dalam pidatonya juga melaporkan bahwa yayasan menyiapkan anggaran Rp30 miliar selama tiga tahun, yakni Rp10 miliar per tahun untuk periode 2026-2028, guna membenahi sarana dan prasarana kampus. Namun, Effendi menilai anggaran tersebut belum memadai untuk meningkatkan daya saing UHN di tengah persaingan perguruan tinggi di Sumatera Utara.

Dalam laporan tersebut, Effendi juga menyoroti proses tender perbaikan fasilitas yang berjalan lambat. Pengerjaan yang belum rampung ketika kegiatan perkuliahan dan penerimaan mahasiswa baru berlangsung membuat hasil pembenahan belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menunjukkan peningkatan fasilitas kepada calon mahasiswa.

Di sisi lain, perkembangan penerimaan mahasiswa tidak seragam di seluruh fakultas. Fakultas Kedokteran dilaporkan mencatat pertumbuhan mahasiswa sekitar 30-40 persen, sementara sejumlah fakultas lainnya masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan jumlah mahasiswa baru.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan UHN bukan semata-mata menyangkut ketersediaan anggaran, melainkan juga kemampuan menerjemahkan investasi dan pembenahan fasilitas menjadi daya tarik serta pertumbuhan mahasiswa.

Bidik Investasi Rp1 Triliun untuk Rumah Sakit dan Smart Campus

Untuk mempercepat pengembangan universitas, Yayasan UHN juga berupaya mencari sumber pendanaan tambahan melalui investasi dan fasilitas kredit dari perbankan.

Bahwa yayasan tengah mengupayakan dua proyek strategis, yakni pembangunan Nommensen International Hospital dan pengembangan Smart Campus UHN, dengan kebutuhan investasi gabungan sekitar Rp1 triliun.

Investasi tersebut direncanakan untuk memperkuat fasilitas pendidikan dan kesehatan sekaligus meningkatkan daya saing universitas. Namun, besarnya kebutuhan pendanaan juga menunjukkan bahwa pembenahan UHN memerlukan perencanaan matang, sumber pembiayaan yang jelas, dan pelaksanaan yang terukur.

Dalam sambutannya pada wisuda tersebut, Effendi menegaskan pentingnya suntikan investasi untuk mengembangkan kampus.

"Kita memerlukan suntikan investasi untuk membangun universitas ini. Kita tidak bisa hanya bangga dengan sejarah dan nama besar, tetapi harus memiliki kemauan untuk terus membenahinya," demikian pernyataannya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pimpinan yayasan menyadari sejarah panjang UHN perlu disertai perubahan nyata agar universitas mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.

Rapat Yayasan November Menjadi Momentum Penting

Rencana rapat yayasan pada November yang disinggung Effendi menjadi momentum penting untuk membicarakan arah pembenahan UHN, termasuk evaluasi capaian, hambatan pengembangan, dan langkah strategis ke depan.

Pernyataan siap mundur yang disampaikannya di hadapan peserta wisuda menunjukkan bahwa persoalan tersebut dipandang serius oleh Effendi. Namun, belum ada keterangan lanjutan yang memastikan apakah pengunduran diri itu akan benar-benar diajukan atau masih merupakan pernyataan bersyarat dalam mendorong kesepakatan internal.

Yang jelas, tantangan UHN mencakup sejumlah pekerjaan besar: meningkatkan penerimaan mahasiswa, mempercepat pembenahan fasilitas, memperkuat kualitas akademik, serta mencari pembiayaan untuk proyek pengembangan jangka panjang.

Bagi UHN, persoalannya bukan hanya bagaimana mempertahankan nama besar yang telah dibangun selama puluhan tahun, melainkan bagaimana membuktikan bahwa nama besar itu masih relevan melalui pertumbuhan, kualitas, dan kepercayaan masyarakat.(*)

Komentar
Berita Terkini