Medan (Pelita Batak) :
Pernyataan Ketua Umum Pengurus Yayasan Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan, Dr. Effendi Muara Sakti Simbolon, saat menyampaikan pidato pada Wisuda Periode II Tahun 2026 menuai perhatian. Di hadapan para wisudawan dan orangtua, Effendi menyebut bahwa perjuangan orangtua dalam menyekolahkan anak tidak perlu didramatisasi karena hal tersebut merupakan kewajiban orangtua.
Pernyataan itu disampaikan Effendi saat membuka pidatonya dalam Rapat Terbuka Senat Wisuda Ahli Madya, Sarjana, Profesi, dan Magister Periode II Tahun 2026 di Auditorium UHN Medan, Jumat (23/10/2026).
Setelah menyapa para pejabat di lingkungan universitas, Effendi secara khusus menyapa para orangtua wisudawan. Namun, kalimat yang disampaikannya justru berbeda dari sambutan wisuda pada umumnya, ketika perjuangan orangtua dalam mengantarkan anak meraih gelar akademik biasanya mendapat penghormatan khusus.
"Dan juga para orang tua.... yang saya kira tidak perlulah istilah berkorban dengan keringat apa, biasa sajalah. Karena itu kewajiban orang tua itu, tak usah harus didramatisasi itu. Saya melihat semua kehidupan itu, biasa-biasa saja," ujar Effendi.
Mantan calon Gubernur Sumatera Utara itu kemudian melanjutkan pernyataannya dalam bahasa Batak.
"Sude saguru di Tuhan i do. Dang ala ni loja ni orangtua, alai mauliate ma nunga dipasikkolahon hamu di universitas natabanggahon on," lanjutnya.
Pernyataan tersebut terekam dalam siaran langsung melalui kanal YouTube UHN Medan.
Perjuangan Orangtua Bukan Sekadar Kewajiban
Pernyataan Effendi mengundang pertanyaan mengenai cara memandang perjuangan orangtua dalam membiayai pendidikan anak. Benar bahwa menyekolahkan anak merupakan tanggung jawab orangtua. Namun, dalam kenyataannya, tanggung jawab tersebut tidak selalu mudah dijalankan.
Bagi sebagian keluarga, menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi membutuhkan perjuangan panjang. Ada orangtua yang harus bekerja dari pagi hingga malam, mengatur penghasilan yang terbatas, menunda kebutuhan pribadi, bahkan berutang agar anaknya tetap dapat melanjutkan pendidikan.
Tidak sedikit pula orangtua yang mengandalkan hasil pertanian, berdagang kecil-kecilan, menjadi buruh, atau menjalani pekerjaan tidak tetap demi membiayai uang kuliah dan kebutuhan hidup anak selama menempuh pendidikan.
Karena itu, ketika perjuangan tersebut disebut tidak perlu didramatisasi dan dianggap sebagai hal yang biasa, pernyataan itu dapat terkesan mengecilkan beratnya pengorbanan yang dialami sebagian keluarga.
Kewajiban orangtua memang mendidik anak, tetapi bukan berarti perjuangan untuk memenuhi kewajiban tersebut selalu mudah atau layak dianggap biasa-biasa saja.
Pengakuan terhadap perjuangan orangtua tidak harus berarti mendramatisasi keadaan. Sebaliknya, apresiasi terhadap mereka merupakan bentuk penghormatan atas tanggung jawab yang dijalankan dengan berbagai keterbatasan.
Momentum Wisuda Semestinya Menghargai Perjuangan Keluarga
Wisuda bukan hanya menjadi penanda keberhasilan mahasiswa menyelesaikan pendidikan. Bagi banyak keluarga, momen tersebut juga merupakan puncak perjalanan panjang yang melibatkan dukungan finansial, pengorbanan waktu, dan ketekunan orangtua.
Gelar akademik yang diterima seorang wisudawan tidak semata-mata mencerminkan usaha mahasiswa, tetapi sering kali juga menjadi buah dari perjuangan keluarga yang mendampinginya.
Dalam konteks tersebut, pernyataan seorang pimpinan yayasan perguruan tinggi di hadapan orangtua wisudawan tentu memiliki bobot tersendiri. Publik dapat berharap agar pesan mengenai tanggung jawab keluarga disampaikan dengan tetap menghormati beragam kondisi ekonomi dan perjuangan yang dialami orangtua.
Belum tentu seluruh orangtua memiliki kemampuan finansial yang sama. Ada yang mampu membiayai pendidikan tanpa kesulitan berarti, tetapi ada pula yang harus berjuang keras agar anaknya dapat menyelesaikan kuliah.
Oleh sebab itu, mengakui perjuangan orangtua tidak harus dipertentangkan dengan pandangan bahwa mendidik anak merupakan kewajiban. Keduanya dapat berjalan beriringan: tanggung jawab tetap dijalankan, sementara perjuangan untuk memenuhinya tetap layak dihargai.(*)