Laporan Flemming Panggabean
Bagi kebanyakan orang Indonesia, tinggal di luar negeri terkesan sangat menyenangkan. Akan tetapi, hal itu sangat relatif, tergantung pada individu masing-masing. Selalu ada sisi positif dan sisi negatif, ada enak dan tidaknya. Hal ini baru dapat disimpulkan apabila kita telah berdomisili cukup lama dan merasakan sendiri secara langsung situasi dan kondisi tinggal di luar negeri, bukan hanya dengar apa kata orang atau merasakan sesaat saja karena kebetulan kita sedang berlibur ke luar negeri.
Ada beberapa alasan mengapa orang memilih tinggal di luar negeri. Di antaranya adalah karena alasan melanjutkan studi, menikah dengan orang asing, dan bekerja. Bagi Rita, warga Indonesia yang saat ini bekerja sebagai buruh migran di Taiwan, tinggal di luar negeri pada beberapa bulan pertama masih perlu banyak penyesuaian, sehingga tidak mudah untuk menjalaninya.
Hal yang masih sangat diingat oleh Rita adalah kendala di bahasa. Taiwan (atau yang dikenal juga dengan negeri Formosa, yang artinya negeri yang indah), menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantar percakapan sehari-hari.
Di sela-sela jam istirahat pekerjaan atau setelah selesai bekerja, Rita belajar sendiri bahasa Mandarin dengan sangat giat. Di samping kendala bahasa, hal lain yang menjadi tantangan sesaat baru tinggal di Taiwan adalah dari segi makanan. Masakan Taiwan sangat berbeda dengan masakan Indonesia. Masakan Taiwan lebih tawar dan tidak terlalu banyak bumbu dan tidak pedas. Sementara Rita sangat menyukai masakan yang sedikit asin, mengadung bumbu khas Indonesia, serta wajib ada sambal.
Kedua hal di atas menjadi kendala paling besar yang dialami Rita selama tinggal di Taiwan di beberapa bulan pertama. Namun, menurut pengakuannya, saat ini Rita sama sekali sudah hampir tidak mengalami kendala atau masalah selama tinggal di Taiwan. Hal ini dikarenakan Rita adalah orang yang cepat beradaptasi.
Di samping itu, di Taiwan sendiri ternyata terdapat banyak rumah makan Indonesia yang menjual masakan khas Indonesia, mulai dari masakan Padang, masakan Jawa, masakan Sunda, bahkan kepada masakan Kalimantan. Tambahan pula, di Taiwan ini, produk-produk Indonesia sangat mudah didapatkan di toko-toko grosir dengan harga yang hanya sedikit lebih mahal dari harga aslinya di Indonesia.
Di tahun ke-8 tinggal di Taiwan, Rita merasa sangat betah tinggal di Taiwan dikarenakan rasa aman, kehidupan yang lebih demokratis, lingkungan yang bersih, jaminan kesehatan yang tersedia dan lain-lain. Gaji yang didapatkan sesuai dengan peraturan tenaga kerja Pemerintah Taiwan adalah minimal sebesar Rp 8 juta per bulan dengan kontrak kerja selama 3 tahun.
Bekerja sebagai buruh migran di luar negeri tidak semenakutkan apa yang ada dalam benak kebanyakan orang Indonesia awam, yang identik dengan tindak kekerasan oleh majikan, pelecehan seksual oleh majikan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, Rita menegaskan bahwa tinggal dan bekerja di Taiwan sangat aman dan nyaman. Bahkan Rita sangat merasakan kehidupan sosial masyarakat yang sangat teratur, di mana-mana orang Taiwan hidup dengan sangat disiplin, memiliki budaya antri dan tepat waktu.
Berbicara mengenai kegiatan rekreasi di Taiwan, kesan yang positif diutarakan oleh Rita. Salah satu kegiatan rekreasi murah yang sering dilakukan oleh Rita adalah dengan bersepeda santai di jalur sepeda yang ada di dekat tempat tinggal Rita. Di Taiwan terdapat sepeda umum yang bisa dipakai dengan sistem sewa memakai kartu pintar transportasi (traffic card). Kartu ini dapat dipakai juga apabila hendak menggunakan bus umum, kereta commuter atau juga untuk berbelanja di toko mini (convenience store), selama ada nilai kredit uang di dalam kartunya.
Di samping itu, berkunjung ke kampus-kampus yang ada di Taiwan juga bisa dikatakan kegiatan rekreasi yang cukup murah, bahkan gratis. Hal ini dikarenakan pengunjung bisa mendatangi kampus-kampus yang hampir kebanyakan memiliki keunikan tersendiri dari arsitekturnya ataupun dari segi usianya tanpa dipungut biaya. Salah satunya adalah kampus Asia University di Wufeng, Taichung
Taiwan sendiri merupakan negara sub-tropis dengan empat musim, sehingga menurut Rita tiap musim memiliki keindahan tersendiri dan dapat kita nikmati dengan mengunjungi tempat-tempat yang indah tersebut dengan menggunakan transportasi publik, baik itu kereta, bus ataupun taksi
Meski sudah tinggal cukup lama di Taiwan, Rita sendiri tetap sangat mencintai Indonesia dan selalu berkomunikasi dengan keluarganya di Subang, Jawa Barat. Menurut pengakuan Rita, banyak pelajaran yang bisa dicontoh dari Taiwan, baik itu dari segi kebiasaan positif orang-orangnya, maupun dari segi pengelolaan pariwisatanya.(*)
Penulis Mahasiswa Doktor National Chung Hsing University, Taiwan -- Staf Pengajar Bahasa Indonesia di Taichung, Taiwan - Pendiri Forum Diaspora Sumatera Utara - Taiwan.