Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir, USAID Gandeng Pemuka Agama

Administrator Administrator
Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir, USAID Gandeng Pemuka Agama
TAp|pelitabatak
Konsultan USAID-Jalin Sumut, Sekretaris MUI Sumut, Pdt Dinson Hutabalian STh (PGPI), Dinkes Sumut saat Workshop tentang Menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi baru Lahir

Medan (Pelita Batak):

Provinsi Sumatera Utara menjadi daerah penyumbang angka kematian ibu dan bayi baru lahir tinggi di Indonesia. Data tahun 2016, menunjukkan bahwa setiap minggunya ada lima ibu dan 18 bayi baru lahir yang meninggal dunia. Padahal, menurut penelitian 73 % dari angka kematian ibu dan bayi baru lahir tersebut terjadi adalah kematian yang preventable (dapat dicegah).

Seperti disampaikan Konsultan USAID-Jalin, dr Fatni Sulani, M.Si, DTM&H menyebutkan, di tahun 2017, ada 194 kematian ibu di Sumut. Penyebab kematian yang terbesar disebabkan oleh perdarahan selanjutnya hipertensi dalam kehamilan dan infeksi. Sementara untuk kematian bayi baru lahir pada tahun 2017 ada 930 kematian. 

"Ini rata-rata untuk bayi berumur 0-28 hari. Dan mayoritas yang paling banyak itu adalah umur bayi 0-6 hari. Penyebab terbesarnya karena prematuritas (berat badan lahir rendah) bisa karena kurang gizi dan lain sebagainya, bisa karena Asfiksia (gangguan nafas) dan kelainan bawaan," ujar Fatni dalam Workshop Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir yang digelar USAID-Jalin di Hotel Santika Medan, Selasa (23/4/2019).

Fatni menyebutkan, bahwa angka kematian ibu dan bayi baru lahir ini cukup tinggi karena masyarakat menganggap bahwa kematian ibu dan bayi tersebut merupakan takdir. 

Seharusnya, katanya, Indonesia bisa mencontoh Malaysia. Di Malaysia dari tahun 1957 sampai 1975, fokus pelayanan persalinan pedesaan adalah di rumah. "Namun setelah 1976 fokus mereka beralih ke persalinan di fasilitas. Dengan catatan bahwa kualitas dan kuantitas fasilitasnya ditingkatkan," ujarnya.

Bukan hanya itu, sistem rujukannya juga diperkuat. Audit maternal diwajibkan dan bidan aktif mencari kasus (case finding) di komunitas. Catatan sipil diperkuat dan prosesnya juga dipantau. 

Di Sumut sendiri, USAID dengan menggandeng beberapa lintas sektor  difasilitasi USAID-Jalin akan melakukan kampanye kesehatan ibu dan bayi baru lahir untuk menekan angka kematian tersebut. Kampanye akan dilakukan mulai 30 April mendatang di Rantauprapat. Daerah ini merupakan MNH Campaign District Assessment (Zona I) yang meliputi Labuhanbatu Utara, Labusel, Palas dan Asahan.

Sekjen MUI Sumut, Ardiansyah yang hadir saat itu mengatakan, MUI juga mempunyai tanggung jawab untuk mengampanyekan kesehatan ibu. Ia berharap nantinya Ketua MUI dari kabupaten/kota juga dapat dihadirkan untuk mengampanyekan ini. "Di daerah nanti kita juga meminta agar dibuat konsep-konsep khutbah seperti misalnya khutbah Jumat yang dapat menyadarkan masyarakat pentingnya kesehatan ibu dan bayi baru lahir," ujarnya sambil mengatakan bahwa kampanye ini jangan sampai kalah dengan kampanye poligami.

Begitu juga dengan Pdt Dinson Hutabalian, STh yang mengatakan bahwa gereja juga melaksanakan pendidikan kesehatan bagi jemaat. Jadi kampanye kesehatan ibu tersebut juga sangat penting untuk disosialisasikan kepada umat Kristiani. 

Perwakilan Tim Penggerak PKK, Ny Nani Agustama menyebutkan bahwa PKK merupakan lembaga yang mendorong dan memotivasi masyarakat di pedesaan. "Kita punya perannya di situ," sebutnya. Begitu juga dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumut dan Forum Media Peduli Kesehatan Ibu dan Anak (FMPKIA) yang juga menyatakan sikap akan ikut mengampanyekan kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Sumut. (TAp)

Komentar
Berita Terkini