Remaja di Inggris Mulai Tinggalkan Facebook

Administrator Administrator
Remaja di Inggris Mulai Tinggalkan Facebook
Jakarta (Pelita Batak):
Jumlah pengguna Facebook dengan usia remaja dan anak berkurang karena mayoritas bermigrasi ke platform media sosial lain termasuk Snapchat milik Snap Inc., menurut sebuah studi.

Dilansir Bloomberg, studi EMarketer Inc yang dirilis Senin (12/2/2018) melaporkan bahwa 71% pengguna media sosial di Inggris Raya yang berusia 12-17 tahun diperkirakan menggunakan Facebook secara teratur tahun ini. Angka ini menurun 8% dari perkiraan tahun lalu.
Baca juga: Facebook Caplok Confirm

Anak-anak dan remaja semakin beralih ke Snapchat, yang akan mendapatkan 43% basis pengguna media sosial di Inggris pada tahun 2018, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tiga tahun yang lalu.

Di Amerika Serikat tahun lalu, 68,5% pengguna media sosial berusia 12-17 tahun menggunakan Facebook, turun dari 90% di tahun 2013, menurut EMarketer. Sementara ituj, 89% menggunakan Snapchat, naik dari 29% dari empat tahun yang lalu.

Facebook telah mencoba membendung peralihan pengguna ke Snapchat dengan langkah-langkah seperti memperbarui aplikasi Messenger-nya untuk anak-anak.

Bill Fisher, analis di EMarketer, mengatakan walaupun jumlah pengguna Facebook di Inggris akan mencapai 32,6 juta tahun ini,  jauh lebih banyak daripada Snapchat, Instagram atau Twitter, penurunan pengguna yang lebih muda berarti bahwa "masalah remaja" di Facebook lebih dari sekadar teori.

"Saat ini ada beberapa tanda awal bahwa pengguna media sosial muda sedang terpengaruh oleh Snapchat. Tantangan dan kesempatan untuk Snap adalah bagaimana menarik minat lebih jauh melampaui remaja-remaja tersebut," kata Fisher, seperti dikutip Bloomberg.

Perusahaan teknologi juga menghadapi meningkatnya tekanan untuk mengatasi dampak terhadap kesehatan mental anak-anak. Dalam sebuah surat terbuka kepada Apple Inc. pada 6 Januari lalu, Jana Partners LLC dan Badan Pensiun Guru Negara Bagian California mendesak Apple untuk menciptakan cara bagi orang tua untuk membatasi akses ponsel anak-anak mereka. Mereka juga ingin perusahaan mempelajari efek penggunaan berat terhadap kesehatan mental anak.(BisnisIndonesia|TAp)
Komentar
Berita Terkini