Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan bila dibandingkan dengan kondisi pada 2017 lalu yang mencatatkan 281.354 jumlah penumpang.
Pemicunya sebut Hendra, karena lokasi Bandar Udara Internasional Silangit yang sangat strategis dan sudah mulai dikenal masyarakat luas , sehingga menjadi alternatif pilihan masuk ke kawasan Danau Toba, selain Bandara Kualanamu.
"Dukungan beberapa moda transportasi darat rutin dari bandara ke beberapa tujuan di wilayah sekitarnya, seperti Parapat, Pangururan dan Hutaginjang, Muara membantu memudahkan aksesbilitas masyarakat," sebut Hendra.
Lebih lanjut dijelaskan, peningkatan daya dukung runway juga berdampak terhadap perubahan trend pesawat yang digunakan airlines seperti A-320 dimana memiliki daya angkut penumpang yang lebih besar dari pesawat yang kerap digunakan pada tahun 2017.
Dimana, pada 2017 tercatat 3.787 pergerakan pesawat. Sementara, di 2018, pergerakan tersebut mengalami kenaikan menjadi 4.878 pesawat 'landing' dan 'take off'.
"Pertumbuhan pergerakan pesawat hingga 22 persen memberikan dampak pada peningkatan penumpang di Bandara Silangit," tandasnya.
Saat ini, maskapai yang mengisi rute Silangit (PP) semakin banyak, seperti Garuda Indonesia, Batik Air, Citilink, Sriwijaya Air, Wings Air, Air Asia Malaysia, Malindo Air, serta Wings Air.
Inovasi ke depan? , Hendra menjelaskan, sebagai bandara internasional, bandara Silangit terus melakukan peningkatan kapasitas bandara seperti penyelesaian pekerjaan perluasan Apron, peningkatan PCN (Pavement Clasification Number) runway (landasan pacu) dari 40 ke 56, dan rencana perpanjangan runway menjadi 3000 meter untuk mengakomodir kebutuhan operasional pesawat jenis B-737 900ER.
"Bandara Silangit juga akan menyiapkan beberapa program unggulan dalam rangka membangun customer experience terutama untuk kelompok umur milenial yang dirasakan selama ini belum optimal," tutupnya.(JPS).