Hari Ulos 2016

GKR Hemas : Pengakuan Internasional untuk Ulos Sangat Penting

Administrator Administrator
GKR Hemas : Pengakuan Internasional untuk Ulos Sangat Penting

Medan (Pelita Batak) :
Ulos sebagai kain tenun yang memiliki makna khusus bagi kehidupan masyarakat Batak, dinilai perlu untuk dilestarikan bukan saja sebagai daya tarik pariwisata, melainkan ada nilai yang terkandung di dalamnya. Peringatan Hari Ulos tahun 2016 yang dirayakan secara lokal di Conventionhall Hotel Danau Toba Internasional Medan sebagai upaya mndorong pelestarian ulos lewat pemerintah bahkan untuk mendapat pengakuan dari lembaga internasional, Unesco.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Gusti  Kanjeng Ratu Hemas yang menjadi undangan khusus pada peringatan hari ulos ke-2 di Medan. “Ulos sangat melekat dengan kehidupan masyarakat batak, sejak menjadi bayi, menikah hingga ia meninggal. Jadi Ulos jangan dipandang hanya sebagai daya tarik pariwisata, namun juga ada nilai yang terkandung di dalamnya,” ujar Ratu Hemas kepada wartawan di sela-sela acara puncak hari ulos tahun 2016.

Ia mengajak pemerintah daerah Sumatera Utara untuk memberikan perhatian untuk itu. Pasalnya, tanpa perhatian dari pemerintah, pelestarian ulos akan sulit. Bagaimana untuk penyuluhan dan jaminan ketersediaan bahan baku pembuatan ulos itu sendiri.

Hal itu jugalah yang diharapka, agar masyarakat dan pemerintah bekerjasama untuk mempertahankan dan melestarikan ulos sebagai budaya Sumatera Utara. “Seperti saat batik didaftarkan ke Unesco, yang dilihat itu ketersediaan bahan baku, proses edukasi kepada siswa di sekolah. Harus diajarkan di sekolah, bagaimana membuat batik. Demikian halnya dengan ulos,” ujarnya.

Pengakuan dari Unesco untuk ulos dinilai Ratu Kemas sangat penting. Dengan demikian, para penenun ulos dan seluruh yang berkaitan akan mendapat perhatian.

Hal itu juga yang disampaikan oleh Gubernur Sumut HT Erry Nuradi MSi, ulos sebagai budaya lokal Sumut namun juga menjadi bagian dari keragaman budaya yang memperkaya budaya nasional. “Peringatan hari ini dilaksanakan karena pada 17 Oktober 2014 pemerintah pusat telah menetapkan Ulos sebagai Warisan Budaya Nasional Tak Benda. Sehingga telah diperingati sebagai hari ulos pada tahun 2015 dan tahun ini untuk kedua kalinya,” ujar Erry.

Kegiatan ini, menjadi cara mengapresiasi hal tersebut. Bagaimana melestarikan ulos di Indonesia khususnya di Sumut. Sebab, ulos telah digunakan masyarakat Sumut sejak dahulu sebagai ungkapan kasih sayang kepada anak, dan merupakan untaian doa yang diberikan orangtua. ‘Corak dan warna ulos juga dominan diwarnai dengan warna alam, yaitu hitam, putih dan merah. Meski saat ini telah berkembang, motif ulos telah menggunakan berbagai jenis warna,” ujarnya.

Menurut Erry, pengakuan dari internasional akan ulos juga penting. Selain pelestarian, juga akan berdampak kepada ekonomi para penenun. “Jika ulos mendunia, maka bukan lagi hanya dipakai masyarakat Sumut, melainkan par atokoh internasional dan artis ternama,” ujarnya.

Pada acara ini juga ada pertunjukan langsung penenun ulos yang berasal dari sejumlah kabupaten di kawasan Danau Toba. Proses menenun dipamerkan untuk bisa disaksikan warga yang hadir, dan langsung berinteraksi dengan penenun. Ulos sepanjang 500 meter yang mendapat rekor Muri, juga dipamerkan dalam acara ini. (TAp)

Komentar
Berita Terkini