Dosen Fakultas Pertanian UHN Lakukan Pemberdayaan Budidaya Padi Sawah Metode SRI di Kecamatan Namorambe

Administrator Administrator
Dosen Fakultas Pertanian UHN Lakukan Pemberdayaan Budidaya Padi Sawah Metode SRI di Kecamatan Namorambe
ist|Pelitabatak

Deliserdang (Pelita Batak):

Dosen Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas HKBP Nommensen (UHN) melakukan program pengabdian masyarakat di Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang. Tim pengabdian masyarakat Faperta UHN yang dipimpin oleh Yanto Raya Tampubolon dan beranggotakan Ferlando Jubelito Simanungkalit, melatih para petani di Desa Namorambe dan Desa Cinta Rakyat untuk membudidayakan padi sawah dengan metode System of Rice Intensification (SRI). Program pengabdian masyarakat ini merupakan wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilakukan oleh civitas akademica Universitas HKBP Nommensen untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya di sektor pertanian.

Kecamatan Namorambe merupakan salah satu sentra penghasil padi di Kabupaten Deli Serdang. Desa Namorambe memiliki luas sawah 190 ha atau 15,26% dari total luas sawah kecamatan 1.245 ha, produksi rata-rata 5,3 ton/ha dan total produksi 695 ton memberi kontribusi sekitar 6,04% terhadap produksi kecamatan 10.768 ton dengan jumlah penduduk yang bekerja disektor ini 480 jiwa. SedangkanDesa Cinta Rakyat memiliki luas sawah 76 ha atau 6,1% dari luas sawah kecamatan, produksi rata-rata 5,4 ton/ha dengan totalproduksi 406 ton memberikontribusi terhadap produksi padikecamatan sebesar 3,8% danjumlah penduduk yang bekerja disektor ini 390 jiwa. Produksi kedua desa lebih rendah dibandingkan rata-rata produksi kabupaten Deli Serdang 5,68 ton/ha (BPS, 2015).

Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh para petani di Desa Namorambe dan Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Namorambe dari aspek produksi adalah jumlah benih yang digunakan 40-50 kg/ha, umur bibit yang digunakan berusia20-25 hari, jarak tanam yang digunakan 15x15 cm, jumlah tanaman per lubang tanam 4-5 bibit, pengolahan tanah dilakukan 2 kali karena tanah keras, penggunaan pupuk buatan (pabrik) 400 kg urea/ha + 150kg SP-36/ha + 150kg KCl/ha, ketinggian penggunaan air 20-25 cm selama periode tanam. 

Sedangkan dari aspek manajemen, masalah yang dihadapi adalah para petani cenderung tidak memiliki perencanaan, pelaksanaan danevaluasi, tidak memiliki pembukuan untuk mengetahui untung dan rugi usaha tani yang dimiliki. Karena masalah-masalah dalam aspek produksi dan manajemen tadi, produksi yang dihasilkan oleh petani menjadi tidak produktif. Para petani padi sawah di Desa Namorambe dan Desa Cinta Rakyat hanya mampu menghasilkan produksi rata-rata 5,3-5,4 ton/Ha. Oleh karena itu kami bekerjasama dengan para petani untuk melakukan pemberdayaan budidaya padi sawah metode SRI, ungkap ketua tim Yanto Raya Tampubolon.

Program pengabdian masyarakat Faperta UHN di Kecamatan Namorambe didesain dengan membuat pelatihan bagi para petani padi sawah. Pelatihan diberikan dalam bentuk penyuluhan pada sesi tatap muka dan diskusi serta praktek langsung di lapangan dengan membuat demplot padi sawah dengan metode SRI. Kami memberdayakan para petani untuk mampu meningkatkan produktivitas lahan sawah mereka dengan melatih mereka membudidayakan padi sawah dengan metode SRI, ungkap anggota tim Ferlando Jubelito Simanungkalit. Budidaya padi dengan metode SRI sudah terbukti mampu meningkatkan produksi padi, ini dibuktikan dari sejumlah penelitian demplot padi SRI yang sudah pernah kami laksanakan sebelumnya.

Dampak pemberdayaan pada petani di Desa Namorambe dan Desa Cinta Rakyat Kecamatan Namorambe adalah para petani telah mampu melaksanakan pembuatan demplot padi sawah metode SRI dengan produksi 875 kg/1000 m2 atau berkisar 8,75 ton/ha. Produksi padi yang dihasilkan oleh petani dari budidaya padi sawah metode SRI tersebutlebih besar 3,45 ton/ha dari sistem budidaya padi sawah yang digunakan oleh para petani sebelumnya. Peningkatan produksi padi dengan menggunakan metode SRI itu setara dengan 65,09% dari produksi rata-rata sebelumnya yang berada pada kisaran 5,3-5,4 ton/Ha. Kami sangat membutuhkan program-program pemberdayaan dan pelatihan seperti ini, ungkap Mansah Sembiring salah seorang petani yang mengikuti program pengabdian masyarakat Faperta UHN. Dengan program pemberdayaan petani dan pengabdian masyarakat kami begitu merasakan peran perguruan tinggi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh petani sehari-hari. Untuk itu kami mendukung penuh pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi bisa dilaksanakan di desa kami, tegasnya.

Selain melatih petani untuk membudidayakan padi sawah dengan metode SRI. Dosen Faperta UHN juga melatih para petani untuk membuat pupuk organik dari sisa jerami padi yang dihasilkan setelah proses pemanenan. Biasanya jerami yang dihasilkan setelah panen itu ditumpuk dan dibakar atau dibuang oleh petani padi sawah. Setelah mendapatkan pelatihan teknik pembuatan kompos dari sisa jerami padi, para petani padi sawah bisa menghasilkan pupuk organik untuk digunakan kembali dalam periode tanam berikutnya. Pelatihan ini juga membuat petani padi sawah mampu mengurangi jumlah dosis pupuk kimia (pabrik) yang digunakan selama proses budidaya. Kami punya ide untuk melanjutkan program pemberdayaan bagi petani di Kecamatan Namorambe ini. Kami ingin melatih para petani di Kecamatan Namorambe menjadi petani pertanian organik, sehingga Kecamatan Namorambe menjadi sentra pertanian organik di Kabupaten Deli Serdang, ungkap ketua tim Yanto Raya Tampubolon.(*|TAp)

Komentar
Berita Terkini