Pinasa vs Jabi - jabi (2)

Administrator Administrator
Pinasa vs Jabi - jabi (2)
Dok Pribadi
Sampe L Purba

Oleh Sampe L Purba


Simbolisme Pinasa

Batang pohon nangka yang keras dan anti rayap, sangat cocok dibuat menjadi bahan Solu/ perahu tradisional dari kayu tunggal, soko guru/ pilar utama rumah kayu, tongkat berukir dan pegangan pedang. Akar tunggangnya dapat menjadi bagian dari alat musik sarune, taganing dan kecapi.


Jabi-jabi vs Pinasa


"Di huta do panuanan pinasa, di balian parbandaan panuansn ni jabi-jabi"


Jabi-jabi (mirip dan sekeluarga dengan hariara/ pohon beringin - ficus benjamina) adalah juga tanaman yang penting dalam siklus kehidupan. Jabi-jabi bercabang banyak, berurat akar dari dahannya, rimbun dan tidak terlalu tinggi. Biasa ditanam di pekuburan yang ditinggikan undukannya/ disebut tabbak, di luar kompleks desa. 


Satu keluarga seketurunan leluhur biasanya memiliki satu kompleks pekuburan/ tabbak. 

Banyak orang Batak yang masih lahir di desa, sekalipun berjaya di perantauan, kalau meninggal kelak berharap dikubur di kompleks tabbak leluhurnya. Tidak memilih di Sandiego Hills. Ingat lagu Gr. Nahum Situmorang ?. Asia - Yunani, Australia sudah dikitari, namun kerinduannya dimakamkan di Pulau Samosir Tepian Danau Toba. Bona ni pinasana. 


Pohon jabi-jabi menjadi favorit burung burung kecil untuk bersarang dan mencari makan. Ulat ulat maupun buah pohon jabi-jabi yang kecil kecil sebesar biji padi gogo rancah. 


Orang-orang tua dahulu, dengan kearifan lokalnya, sering menggunakan pohon pinasa dan jabi-jabi sebagai perumpamaan dan perlambang. 


Pinasa di tanam di sekeling desa orang yang hidup. Buah pinasa besar besar. Satu buah, tidak mungkin habis dikonsumsi satu orang. Harus berbagi. Kalau disimpan terlalu lama bisa membusuk. 


Jabi-jabi ditanam di desa orang mati, di luar perkampungan (pekuburan/ parbandaan/ tabbak). Menghasilkan buah untuk sumber rezeki bagi burung burung. Tidak perlu harus berbagi. Masing-masing burung mencari makannya.


Tidak demikian dengan manusia hidup. Perlu bertolong tolongan dan saling berbagi. Itu makanya pohon nangka (pinasa), yang ditanam di kampung orang hidup, tetapi jabi-jabi tempatnya adalah di kampung orang mati.


Esensinya, orang yang hidup, bertetangga, bersaudara hendaknya saling berbagi. Bertolong tolongan. Hidup ini adalah kesempatan, jangan sia siakan. Berbuat baiklah kepada sesama. Otherwise, tidak ada bedanya kita dengan orang mati. 


Jakarta, menyongsong imlek Pebruari 2019


Ps. Poda na tur ini, saya dapatkan dari Alm. Oppung Oppu Batara Guru  Doli Samosir

Komentar
Berita Terkini