Hati-hati Curhat ke AI

Oleh : Djalan Sihombing,SH
Administrator Administrator
Hati-hati Curhat ke AI
Ist | Pelita Batak
Djalan Sihombing

SAAT ini banyak orang curhat ke AI. Masalah yang dihadapi ditanya ke AI. Bahkan penyakit juga ditanyakan ke AI. Setiap masalah curhat dengan AI.

Curhatan ke AI bisa digunakan pihak lain untuk hal-hal yang tidak baik. Misalnya untuk scam judi dan penipuan lainnya.

Perlu diketahui, AI menjawab berdasarkan pola. Tidak pernah marah karena kecerdasan buatan tidak mempunyai rasa emosional dan spiritual (kepercayaan). AI adalah kecerdasan buatan, sedangkan manusia mempunyai IQ, SQ, EQ, dan AQ.

Sederet bahaya yang mengintai. (Florence Febriani Susanto Jakarta, CNN Indonesia -- Curhat ke kecerdasan buatan (AI) kini sangat lumrah untuk dilakukan. Namun penelitian terbaru mengungkap praktik yang terlihat aman dan praktis ini punya risiko. Sebaiknya, kamu berhati-hati. Suka curhat ke artificial intelligent alias AI? Banyak orang bertanya soal hubungan, konflik dengan teman, hingga masalah pribadi melalui chat box AI karena dianggap cepat, netral, dan tidak menghakimi.

Saat ini sudah ada teknologi yang lebih canggih dari AI, yaitu Artificial General Intelligence (AGI). AGI ini lebih berbahaya lagi kalau manusia mau dikendalikannya. Seharusnya, manusia yang mengendalikan teknologi. Jangan ketergantungan dan dikendalikan teknologi.

Jangan biarkan anak cucu curhat ke AI, bila terus menerus dilakukan, maka rasa kekeluargan dan rasa sosial makin menurun. Curhat ke keluarga, memang selalu ada rasa marah kalau tidak sesuai kebiasaan dan kebenaran atau kepercayaan yang dianut.

Berbeda dengan AI tidak pernah marah, mengikuti pola si penanya (yang curhat) sehingga banyak yang suka curhat ke AI.

Curhat ke AI merupakan hubungan yang tidak nyata (semu). Hidup bagaikan di awang-awang tanpa pijakan.

Ketergantungan yang berlebihan ke AI bisa menjauhkan pengguna dari realitas hidup. Motivasi berinteraksi dengan sesama manusia menurun, bahkan bisa memicu gangguan mental.

Pengguna AI yang berlebihan tidak kritis lagi (daya nalar kurang) dan kesulitan memahami apa yang dihadapi. Kecenderungan Pengguna hanya ingin mengetahui tetapi tidak memahami. Tidak mempunyai jaringan (network) yang nyata. Hidupnya lebih banyak di dunia maya.

Bayangkan bila anak dan cucu kita tidak mau lagi berinteraksi dengan kita. Dia lebih percaya ke AI daripada kakek neneknya, ayah ibunya, dan saudaranya maupun rekan kerjanya. (*)

DJS'Bing 12/05/2026

Komentar
Berita Terkini