Semua kisah-kisah sukses zending berkulminasi pada gelar kehormatan itu, yang barangkali dibaluri oleh budaya magis Batak, yang tersimpan dalam ungkapan abadi yaitu "sahala", semacam sifat atau karakter 'hasangapon' (kemuliaan), wibawa dan bahkan kekayaan dan banyak keturunan.
Gelar populis-magis ini dicatat oleh Wilhelm Landgrebe (1954). Beliau mengatakan bahwa kaum pribumi Batak telah memberikan "Ehrentitel 'Ompu' (Grossvater)" kepada Ephorus I.L. Nommensen. Secara genealogis-kultural setiap orang Batak menghargai dan mengormati "ompungnya", yaitu ayah dari ayah kandungnya, bukan hanya pada masa hidupnya, tetapi masa kematiannya, yaitu "sumangot"nya atau rohnya. Gelar "Ompui" bukan tanpa reaksi atau kritik sejak 1970-an dan khususnya sejak 2000-an. Ada yang mempertahankannya, bahkan ada suara yang mengatakan supaya Ompui Ephorus disejajarkan dengan Paus di Roma.
Dalam sosok seorang Ephorus yang bergelar "Ompui" tersirat ragam pandangan yang bermuatan mitos-mitos Batak yang magis. Ini juga dibarengi kerinduan agar kaum Batak punya figur agung ditengah masyarakat Batak dan kaum sekitarnya, supaya kaum Batak itu dipandang sama mulianya dengan kaum lain. Namun pada pihak lain, banyak pula warga jemaat yang merasa risih mendengar gelar itu, dan menganggap gelar "Amang" lebih hormat dan lebih dekat kepada umat, sama halnya gelar kehormatan yang diberikan kepada setiap orang yang lebih tua, lebih berpengalaman.
Jonathan Nommensen, anak kandung Ephorus Nommensen menulis buku (1921) tentang ayahnya, di mana sosok Nommensen digambarkan sebagai "Ompui". Kaum Batak mayoritas penganut agama arkhais Batak alias sipelebegu, memandang sosok Nommensen sebagai orang sakti yang punya kekuatan gaib, karena tongkat yang selalu dipegangnya itu dianggap sakti.
Jonathan Nommensen menggambarkan tongkat Nommensen itu sebagai berikut: "Adong do di ompu i tungkot sitobu bionanna sian Parausorat, sai tongtong do i diboan, jala dihabiari halak do i, ai dipangke ompu i do i nian mangalele biang dohot babi, ia majonokhu i tu ibana di angka huta; alai ia masosakku ibana dibahen natorop jala ia naeng laho ompu i sian i, tarsomal do ditudutudu dohot tungkot i dalan sidalananna jala pintor dipasiding jolma i dalanna." Bagi Jonathan Nommensen untuk mengenalkan Ephorus I.L. Nommensen sepanjang narasinya itu cukup menyebutkan "Ompu i" sebagai representasi sosok I.L. Nommensen, Ephorus kongsi Barmen dan Ephorus gereja Batak. Sosok Nommensen punya nilai simbolis tersendiri dibandingkan dengan sosok-sosok misionaris lainnya.
Lain dengan biografi I.L..Nommensen kreasi Johannes Warneck, Ephorus kedua menggantikan I.L. Nommensen. Warneck tidak pernah menggunakan gelar figuratif "Ompui" kepada sosok yang menjadi subjek tulisannya, sekalipun gelar itu sering didengarnya dari kaum Kristen Batak selama pelayannya sebagai Ephorus di Tanah Batak (1920-1934). Pada sebuah bab berjudul "Fuehrer" (Pemimpin Besar), beliau memberikan gelar "Fuehrer", "Pemimpin Besar" kepada tokoh Nommensen, namun bukan sebagai "Vorgesetzer" atau "Bos" yang memperlakukan pelayan lain sebagai bawahannya, tetapi pemimpin yang selalu merepresentasikan sosok sebagai "Freund und Vater", sebagai sahabat dan bapa.
Mungkin semangat nasionalisme Jerman saat itu sudah mulai menggema, yang memuncak pada bangkitnya pemerintahan rezim Hitler, di mana Hitler digelari sebagai "Fuehrer", Pemimpin Besar Nasion Jerman. Figur Nommensen sebagai "Fuehrer", Pemimpin Besar Batak-Mission dan Gereja Batak dibangkitkan atau dihidupkan oleh perubahan zaman yang dialami Johannes Warneck sejak beliau kembali ke Negeri Jerman 1934, yaitu zaman Fuehrer Hitler.
Penulisan sosok I.L. Nommensen dalam ranah figuratif sosok "Ompui" jelas dipengaruhi oleh pandangan budaya-kultural pertengahan abad ke-20. Nommensen yang kepadanya disandangkan gelar kehormatan "Ompui" tidak pernah menunjukkan tanda setuju , tetapi didiamkan tanda ketidaksukaannya, atau bahwa gelar penghormatan itu sama halnya dengan tongkatnya "tukkot sitobu" yang adalah tongkat yang sama dengan tongkat lain, tetapi bagi kaum Batak yang masih dipengaruhi oleh budaya magis dan mistis tungkot Nommensen itu sakral dan punya kekuatan gaib.
Para misionaris memanggil sesama misionaris dengan sapaan "Bruder", artinya "saudara". Mereka pun tidak pernah menyapa Ephorus Nommensen dengan gelar kehormatan "Ompui".
D. van der Meulen, seorang pejabat pemerintah Belanda di Samosir yang punya hubungan baik dengan zending Mission Batak mengenalkan Nommensen yang sudah berusia lanjut. Meulen menyebut bahwa Nommensen sering disapa atau dikenalkan kaum Batak 'Omputta' (onze grootvader). Namun bagi Meulen, Nommensen adalah "de apostel der Bataks" atau 'rasul Batak'. Informasi ini menguatkan pandangan bahwa gelar penghormatan ala Batak itu bukan dengan sapaan manunggal seperti 'ompui', tetapi juga ada sapaan 'ompunta' atau 'ompu', sapaan yang umum diberikan kepada ompung genealogis. Sapaan yang majemuk itu hingga kini terdengar, bahkan dengan sapaan 'ompung'.
Demikian figur Nommensen dalam konteks budaya-adat Batak. Sapaan itu dalam konteks historisnya berada pada ranah budaya Batak, bukan pada ranah jabatan gerejawi. Sapaan itu dibawa masuk ke dalam gereja Batak oleh kaum Kristen Batak sendiri, tanpa gagasan dari kongsi Barmen. Gelar kehormatan tersebut tetap menggema pada tataran budaya Batak, tidak pernah memasuki ranah gereja, misalnya menjadi nama jabatan gerejawi.
Tentu bagi gereja (HKBP) tidak ada manfaatnya menteologikan gelar "Ompui" sebagai bagian tak terpisahkan dari jabatan Ephorus. Kalau kepada figur Ephorus di mata budaya dan emosi Batak, gelar itu bebas bergerak kepada figur yang menjadi idola Batak. Sapaan 'Ompunta' misalnya selalu diberikan kepada Praeses Cirijllus Simanjuntak dari Distrik Toba tahun 1950-an-1970-an. Pada simpul ini pula, tiada keharusan bagi setiap warga jemaat dan para pelayan HKBP menyapa seorang Ephorus HKBP dengan sapaan "Ompui" atau "Ompunta".(Bersambung)
Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified